(Kami Dalam Foto Bersaudara meski kami beda Pilihan Politik dan biasanya kami diskusikan untuk saling menguatkan)
-
Saya memulai tulisan ini dengan niat dan tujuan agar kita sebagai
pembaca memahami betul sisi politik itu sesungguhnya beda dengan sisi
sosial keseharian dalam kehidupan yang sesungguhnya. Ada benarnya ketika
sebagian orang mengatakan, dalam percaturan politik, Kawan menjadi
lawan dan lawan kerap menjadi kawan. Sebagian lagi mengatakan bahwa
politik pada praktisnya adalah sebuah dagelan saja, tidak lebih dan
tidak demikian pada nyatanya.
Melanjutkan catatan Bagian I kemarin (Klik: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1119504444730562&set=a.208966809117668.62538.100000130513497&type=1&ref=notif¬if_t=comment_mention),
pada bagian II ini saya ingin menggambarkan bagaimana Indahnya
kebersamaan dan persaudaraan Umi Dinda, sapaan akrab Hj Dinda Damayanti
Putri, kandidat yang berpasangan dengan Drs. H. Dahlan Nor, dengan para
Kandidat politik lainnya dalam Pilkada Kab Bima 2015
Hubungan
persahabatan, persaudaraan dan profesi dengan Drs. H. Syafruddin, M.Pd,
MM sudah saya jelaskan pada bagian I yang lalu. Sedangkan Hubungan Umi
Dinda dengan Drs. H. Masykur HMS (Calon wakil dari H. Syafru) bukanlah
sekedar hubungan persaudaraan biasa maupun sekedar profesi, namun sudah
seperti keluarga. Bagaimana tidak, H. Masykur adalah pejabat yang bisa
dibilang ‘Tangan kanan’ nya mendiang Ferry Zulkarnaen (Suami dari Umi
Dinda), saat menjabat sebagai Bupati sejak tahun 2005. H. Masykur adalah
Sekda Kab Bima pada masa mendiang Ferry Zulkarnaen, juga pernah menjadi
kepada BPMDes Kab Bima.
Kedekatan Istri dari H. Masykur dengan
Umi Dinda bukan saat ini saja, tetapi sudah berlangsung lama. Apalagi,
terkait banyak persoalan internal Birokrasi pada masa kepemimpinan
mendiang Ferry, kerap didiskusikan bersama dengan Umi Dinda. 10 tahun,
hubungan mereka terbangun akrab dan tidak lah mudah dengan hanya karena
politik Pilkada kemudian merusak tatanan keakraban Umi Dinda dan H.
Masyur. Apalagi, H.Masykur menjadi Caleg tahun 2014 lalu atas permintaan
Umi Dinda dalam rangka meraih ET (elementary Tresure) untuk Golkar Kab
Bima. 10 Tahun dalam kebersamaan yang akrab.
Demikian pula Umi
Dinda dengan Ady Mahyudi, meskipun secara Profesi, jarang bertemu dan
bertatap muka. Namun Istri Ady Mahyudi, kanda Murni, yang saat ini
menjadi Ketua DPRD Kab Bima dan Umi Dinda sebagai Wakil Ketua DPRD Kab
Bima. Tentu kebersamaan mereka di DPRD jika dihitung dari bulan
pelantikan (September 2014) tentu sudah hampir 1 tahun mereka bersama
dalam berbagai aktifitas pembangunan Bima. Hubungan Umi Dinda melalui
Ibu Murni mempengaruhi komunikasi dan Interaksi Ady Mahyudi dengan umi
Dinda.
Belum lagi hubungan Ady Mahyudi melalui mendiang Ferry
Zulkarnaen semasa menjabat sebagai Bupati Bima, kerap saling
berkomunikasi dalam berbagai urusan daerah. Sebab Ady Mahyudi adalah
Wakil Ketua DPRD Kab Bima pada saat itu. Tentu hubungan kedekatan
profesi ini juga mempengaruhi kedekatan dengan Umi Dinda sebagai Istri
mendiang Ferry. Sehingga kita semua tidak bisa menafsirkan bahwa antara
Ady dan umi Dinda adalah dua sosok yang dapat dipisahkan dengan mudah
dalam urusan pembangunan daerah Bima. Apa yang diketahui oleh Ady tentu
juga diketahui oleh umi Dinda, demikian pula sebaliknya meskipun tidak
dalam semua hal.
Adapun kedekatan Umi Dinda dengan Zubair
(Pasangan Wakil dari Ady Mahyudi) bukanlah kedekatan baru-baru ini. Drs
Zubair HAR terangkat menjadi kepala Dinas Dikpora dari seorang Kepala
Sekolah di SMUN 1 Sanggar pada masa mendiang Ferry Zulkarnaen menjadi
Bupati. Dan Zubair menjadi kadis Dikpora Kab Bima selama 7 Tahun. Saya
masih ingat bagaimana Zubair berjuang habis-habisan untuk kemenangan
FERSY tahun 2010 yang lalu. Jabatan dipertaruhkan, demikian pula posisi
Zubair sebagai Ketua PPK Kec Sanggar pada tahun 2005 merangkap sebagai
‘Tim Bayangan’ dari mendiang Ferry berpasangan dengan Usman AK pada masa
itu.
Hubungan ini terus terjalin hingga Zubair dianggap sebagai
Saudara mendiang Ferry pada periode ke II Ferry menjadi Bupati. Tentu
berpengaruh secara signifikan dengan Umi Dinda sebagai istri mendiang
Ferry. Hampir tiap hari Zubair mendampingi mendiang Ferry pada berbagai
acara pemerintahan. Zubair masuk dalam lingkaran Pandopo pada masa itu.
sehingga secara emosional antara Umi Dinda dan Zubair, tidak dapat
dipisahkan dengan mudah hanya karena urusan politik Pilkada seperti ini.
Semua orang tahu, bahwa Jasa mendiang Ferry Zulkarnaen tidak dapat
dibayar dengan uang oleh Zubair. Kedekatan tersebut adalah kedekatan
yang memang terbangun secara sadar.
Lalu bagaimana hubungan
kedekatan Umi Dinda dengan Calon yang mengambil Jalur Independent..?
saya tidak tahu banyak. Namun yang pasti, Pak Hamid, pasangan wakil dari
Khayir ini adalah mantan Camat Sape pada masa mendiang Ferry Zulkarnaen
menjadi Bupati. Hubungan atasan dan bawahan inilah yang membuat Umi
Dinda juga mengenal dan akrab dengan Hamid.
LALU, kita sebagai
warga Bima kota maupun kabupaten bersemangat secara tidak sadar
melakukan berbagai Black Compage (Kampanye terselubung) tentang mereka
mengakibatkan kita sebagai warga gontok-gontokan. Padahal sesungguhnya
mereka masing-masing mengetahui kelebihan dan kekurangan kandidat
lainnya. Tidak perlu lah kita kemudian menjadi simpatisan Fanatik, lalu
membentuk diri sebagai bagian dari massa militan. Apa faedahnya..???
Mereka para kandidat itu, tidak akan mungkin saling menjatuhkan
sedemikian ekstrim seperti apa yang dilakukan oleh para Simpatisannya.
Sekali lagi mereka itu saudara yang sama-sama paham mana sisi kekuatan
dan kelemahan saudaranya yang lain sebagai pesaing politik mereka.
IRONI nya, kita sebagai pemilih membuat gap (permusuhan/perbedaan)
dengan saudara kita yang lain hanya karena beda pilihan. Mereka (Para
Kandidat), jika kalah, mereka sudah memiliki Komitment yang dibangun
sebelumnya. Bisa proyek pembangunan, bisa jabatan tertentu, bisa pula
hal lain yang memang sudah dinegosiasikan sebelumnya.
Lha, kita,
sudah buat Gap dengan saudara sendiri, hidup tetap menjadi Petani,
Tukang ojek, Nelayan atau pengusaha kecil-kecilan. Dikasih materi karena
sudah loyal oleh kandidat yang kita bela habis-habisan pun tidak. Lalu
apa yang ingin dicapai…? Permusuhan…? Dendam…? Balas Jasa..? Paket
proyek…? Uang capek…? Itu semua sudah tidak berlaku diera ini.
Permusuhan dengan saudara kita yang lain karena beda pilihan hanya akan
membuat kita stroke dan anemia karena selalu kepikiran. Dendam…?? Apa
manfaatnya..? malah akan mempersempit hubungan kemitraan kita dengan
banyak orang lain hanya karena hubungan kedekatan dengan orang yang kita
dendami. Paket Proyek…?? Di Era ini, rata-rata Paket Proyek sudah
Online bro…. Ada paket-paket PL (penunjukan langsung), tapi apa yang
bisa didapat bila di era ini, hampir semua uang Negara sudah
ber-'Status' real Coast..?? kecuali siap-siap masuk penjara. Uang
Capek…? Maksudnya berharap dikasih uang untuk dirikan Posko..? Posko
sudah dilarang oleh PKPU bro…
Ayo, kita menjadi pemilih cerdas
saja. Ajak orang tua, saudara, saudari, sobat, sahabat, dan orang-orang
sekitar kita untuk menjadi ‘penjembatan informasi politik’ yang baik.
Menjadi Pencerah yang baik lebih bermanfaat daripada mengharapkan
sesuatu imbalan akibat kita mati-matian menjadi simpatisan yang fanatilk
dan mati-matian menjatuhkan calon lainnya, sehingga kita mati-matian
sakit hati karena ujung-ujungnya kalah atau menang tapi tidak dianggap.
Jangan salah bro, mereka (Para Kandidat) sudah bersahabat dan dekat
secara profesi dan emosional sebelum kita berkenalan dengan mereka yang
kita perjuangkan mati-matian dengan pola Fanatisme Salah Kaprah…!!!
(BERSAMBUNG)
======
SHARE STATUS INI AGAR LEBIH BANYAK YANG MENYADARI DAGELAN-DAGELAN POLITIK DIPANGGUNG NYATA KITA.....!!!
======
-
-
#Makin_malam_Kota_Matara Makin sepi, 30 Juli 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar