Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan

SEJARAH KALENDER HIJRIYAH


Oleh Ustadz Ammi Nur Baits*
Dewan Pembina Konsultasi Syariah

Masyarakat Arab sejak masa silam, sebelum kedatangan Islam, telah menggunakan kalender qamariyah (kalender berdasarkan peredaran bulan). Mereka sepakat tanggal 1 ditandai dengan kehadiran hilal. Mereka juga menetapkan nama bulan sebagaimana yang kita kenal. Mereka mengenal bulan Dzulhijah sebagai bulan haji, mereka kenal bulan Rajab, Ramadhan, Syawal, Safar, dan bulan-bulan lainnya. Bahkan mereka juga menetapkan adanya 4 bulan suci: Dzulqa’dah, Dzulhijah, Shafar Awal (Muharam), dan Rajab. Selama 4 bulan suci ini, mereka sama sekali tidak boleh melakukan peperangan.

MENGENAL MEREKA DALAM PERTALIAN SAUDARA, DIBALIK TENDENSI POLITIK BIMA HARI INI (Bag III - Habis)


Saya memulai tulisan ini dengan niat dan tujuan agar kita sebagai pembaca memahami betul sisi politik itu sesungguhnya beda dengan sisi sosial keseharian dalam kehidupan yang sesungguhnya. Ada benarnya ketika sebagian orang mengatakan, dalam percaturan politik, Kawan menjadi lawan dan lawan kerap menjadi kawan. Sebagian lagi mengatakan bahwa politik pada praktisnya adalah sebuah dagelan saja, tidak lebih dan tidak demikian pada nyatanya.

Melanjutkan catatan Bagian I (Baca di: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1119504444730562&set=a.208966809117668.62538.100000130513497&type=1&ref=notif&notif_t=comment_mention ), dan Bagian II (Baca di : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1119907721356901&set=a.208966809117668.62538.100000130513497&type=1&ref=notif&notif_t=like) yang lalu, pada bagian III sebagai bagian akhir ini saya ingin mengulas sedikit bagaimana hubungan persaudaraan Ady Mahyudi yang biasa disapa Aba Ady ini dengan para kandidat lainnya.

Hubungan antara Aba Ady dan Zubair, sebagai pasangan wakil dari dirinya sudah saya sampaikan pada tulisan dibagian I. Demikian hubungan Aba Ady dengan H. Syafrudin (Incumbent yang berpasangan dengan H. Masykur) serta Hj Dinda Damayanti Putri, biasa disapa Umi Dinda yang berpasangan dengan Drs. H. Dahlan, pada ulasan bagian ke II. Sedangkan hubungan Aba Ady sendiri dengan Khayir dan Hamid (KH) yang melalui jalur Independent tidak ada yang saya ketahui.

Tetapi Aba Ady cukup dekat H. Masykur,selain karena hubungan Profesi Birokrasi yaitu antara Sekda dan Wakil Ketua DPRD Kab Bima pada masa 2009 – 2014 yang lalu. Juga keterkaitan hubungan erat antara Zubair (Pasangan Wakil dari Aba Ady) dan H.Masykur (Pasangan Wakil dari incumbent) yang memang antara Atasan dan Bawahan pada masa H. Masykur menjadi Sekda Kab Bima dan Zubair menjadi Kadis Dikpora Kab Bima. Disini juga ada hubungan ‘Segitiga Emas’ antara Umi Dinda – H. Masykur – Zubair. Mereka bertiga ini sebenarnya orang yang tidak bisa dipisahkan dalam dalam hubungan emosional dan jasa kehidupan, apapun masalahnya.

Hubungan ‘Segitiga Emas’ ini akan saya kupas pada catatan lainnya, karena sangat menarik untuk dianalisah dalam pembacaan peta politik, dukungan dan basis massa. Ini juga akan menjadi patokan keberpihakan Politik Abuya (sapaan Akrab dari Drs. Zainul Arifin) yang konon masih memiliki massa loyal yang militan di Bima. Dan akan dapat ditarik garis merah, dimana Drs. H. Nadjib HM. Ali akan menjatuhkan pilihan politiknya. SEBAB, kemenangan dari salah satu paslon, dianggap SAMA….!!!

Hubungan lain yang menarik adalah antara H.Masykur dengan Hamid (Pasangan Wakil dari H. Khayir – Calon Independent), selain hubungan antara Sekda dan Camat pada masa kepemimpinan Drs. H. Zainul Arifin, mereka juga sama-sama berasal dari kecamatan Sape dan konon memiliki ikatan hubungan keluarga. Yang tentu saja ‘maju mundurnya’ pengembangan dan pembangunan kecamatan Sape pada masa itu sangat dipahami betul oleh dua calon kandidat Wakil ini.

Sehingga, saya secara Pribadi menilai bahwa Pertarungan Pilkada Kabupaten Bima pada tahun ini adalah Pertarungan Politik Balas Jasa. Sebab, saya mendapati banyak sekali hubungan jasa yang terbangun antara para kandidat calon baik calon Bupati maupun Wakil Bupati, sebelum masing-masing calon kandidat ini menyatakan siap maju dan berpasangan. Konstelasi ‘cerai politik’ antara Wahyu dan Abbas yang kemudian kini saling gugat karena ‘diceraikan’ adalah sebuah bagian dari upaya untuk mengamankan ‘Dinasti Jasa’ yang terbangun sebelum ini. H. Ahmad Abbas tidak masuk dalam lingkaran hubungan ke-jasa-an ini. Jika bukan karena Wasiat mendiang Ferry Zulkarnaen, kemunculan Drs. Dahlan HM Nor juga sesungguhnya tidak masuk dalam ‘lingkaran’ yang bisa diterima.

Insting politik saya muncul, penasaran dengan ‘peta jasa’ yang terbangun. Saya mencoba menelpon sekitar 55 orang yang menurut saya pribadi me-representasi masyarakat kabupaten Bima yang berada di 15 kecamatan yang berbeda. Dari hal tersebut saya membuat Hipotesa Politik bahwa sesungguhnya, pertarungan Politik kab Bima tahun ini adalah Pertarungan ‘Keluarga besar’ atau pertarungan ‘Adik Kakak’ yang kelak akan berakhir dengan ‘Aklamasi Politik’.

Penentu semua ini adalah ‘Segitiga Emas’ yang saya sebutkan diatas. Negosiasi, diplomasi hingga manajemen Konflik politik yang dibangun diatas ‘by design’ berada ditangan ‘Segitiga Emas’ Politik Dana Mbojo ini. Politik status Quo dan Politik Dinasti masih menjadi pijakan. Targetnya adalah Kepemimpinan Kabupaten Bima dan Kota Bima kedepannya dalam ‘satu dinasti’. Apakah ‘Dinasti Kesultanan’, ‘Dinasti Abidin’ atau tetap pada Dinasti Oposisi Pembangunan. Akibatnya, melengserkan PKS dalam ‘Bergaining politik’ kali ini memang cara tepat. Alasannya sederhana, karena PKS terlalu kritis dalam hal Politik patahana dan Politik status Quo. Hal ini sangat nampak ketika tersebar istilah ‘PKS, Asal Bukan Dinda’ yang ‘menggema’ beberapa waktu yang lalu.

Dengan memahami hal ini, apakah warga masyarakat Kabupaten Bima, masih ingin menjadi Simpatisan Fanatik para calon kandidat? Jadilah pemilih cerdas, dengan cara tidak harus ter-provokasi dengan berbagai isu dan rumor politik yang terbangun ???. Toch, menang nya salah satu dari 3 Pasangan Calon Kandidat itu sama dengan memenangkan 3 pasangan calon sekaligus.

Posisi H. Syafrudin – H. Masykur, jika menang, tetap akan mengakomodir kepentingan politik Ady Mahyudin dan Zubair. Sebab, Murni, Istri dari Ady Mahyudi tetap menjadi salah satu unsur pimpinan di DPRD Kab Bima yang artinya tetap bisa mengendalikan Pembangunan Bima kedepan. Berdasarkan aturan yang ‘diketuk’ oleh MK beberapa waktu yang lalu, bahwa Zubair sebagai PNS harus Mundur dari jabatannya sebagai Kepala Kesbanglinmas Kab Bima, tetapi dengan Aset yang sudah cukup untuk 'kedepan'. Demikian pula dengan Umi Dinda yang mungkin akan buka Usaha dan (mungkin) memiliki CV atau PT setelah mengundurkan diri dari keanggotaannya di DPRD Kab Bima.

Jika pun Ady Mahyudi – Zubair yang menang, jelas H. Syafruddin akan kembali ke Bisnisnya sebagai Pengusaha dan masih bisa mengendalikan pemerintahan kabupaten Bima, karena,Hj Rostina, istrinya H. Syafru adalah anggota DPRD Kab Bima. Sedangkan H. Masykur akan kembali bersama keluarga untuk menikmati masa pensiunnya. Demikian juga dengan Umi Dinda akan membangun Usaha dan bisa jadi berkongsi dengan H. Syafru. Sedangkan H. Dahlan akan kembali ke Jakarta.

Apabila Pasangan Calon Dinda – Dahlan yang menang, maka pembacaan 2 paragraf diatas itulah pastinya. H.Syafru akan kembali ke Bisnis dan masih bisa mengatur Pembangunan Bima melalui Istrinya di DPRD Kab Bima serta dengan beberapa Loyalis nya. H. Masykur akan menikmati masa pensiunya, Ady Mahyudi akan tetap dengan Bisnisnya dan masih bisa mengendalikan Pembangunan Bima melalui Istrinya yang menduduki kursi Ketua DPRD Kab Bima. Zubair akan bernasib sama dengan Umi Dinda.

Dan Peta Politik Bima akan berubah secara total bila kemudian Khayir – Hamid (KH) yang memenangkan Pilkada Bima kedepan. Kemenangan KH akan menjadi sejarah baru Pilkada Bima khususnya maupun NTB pada umumnya. Dari titik inilah, kita bisa mengukur intervensi pilihan para pemilih dan akan sangat menarik dalam mewarnai dinamika politik Bima menjelang Pilwalkot Bima 2017 mendatang.

LALU, dimana posisi Warga masyarakat Bima pada umumnya yang tadinya adalah Tim Sukses, yang tadinya adalah Simpatisan Fanatik/Loyal, yang tadinya Simpatisan Penghujat ??? Yach, tetap lah di posisi yang sama. Petani akan tetap kembali ke ladang, nelayan akan kembali ke laut, Ojek akan tetap kembali mencari penumpang, aparat pemerintah akan tetap bekerja seperti biasa, Mahasiswa akan tetap kembali ke kampus untuk kuliah, Dosen akan tetap kembali ke Silabus bahan ajaran, Guru akan tetap kembali ke sekolah dan berhadapan dengan muridnya.

Yang tak pernah akan kembali adalah Sakit hatinya orang lain yang sudah kita Fitnah, Dendamnya orang lain yang sudah kita hujat, Dosa kita kepada orang lain yang sudah kita permainkan. KECUALI tidak me-fitnah, tidak menghujat dan tidak mempermainkan sejak diawal perhelatan ini dimulai. KECUALI kita cepat menyadari dan meminta maaf kepada orang yang kita Fitnah, kita Hujat, dan kita Permainkan. KECUALI sama sekali kita tidak melibatkan diri untuk ikut me-fitnah, menghujat dan mempermainkan. Wallahualam Bissawab…

Siapa yang diuntungkan dalam Pilkada Bima tahun ini..??? Mereka adalah ketiga paslon saat ini karena hubungan dekat antara mereka. Para Pengusaha yang ‘Menyuntik Modal’ kepada kandidat yang menang. Pemiliki gagasan dan Ide yang bermain dibelakang layar dari paslon yang menang serta mereka-mereka yang Kreatif dan Inovatif dalam melihat Peluang Pengembangan dan Pembangunan kedepan yang akan muncul beberapa waktu yang akan datang setelah mengetahui siapa Paslon yang akan menang….!!!
-
‪#‎SAVE_PILKADA_BIMA_DAMAI‬…..!!! Kota Bima yang terik, Singgah di Wifi Telkom, 1 Agustus 2015.

MENGENAL MEREKA DALAM PERTALIAN SAUDARA, DIBALIK TENDENSI POLITIK BIMA HARI INI (Bag II)

Foto Rangga Babuju.
(Kami Dalam Foto Bersaudara meski kami beda Pilihan Politik dan biasanya kami diskusikan untuk saling menguatkan)
-
Saya memulai tulisan ini dengan niat dan tujuan agar kita sebagai pembaca memahami betul sisi politik itu sesungguhnya beda dengan sisi sosial keseharian dalam kehidupan yang sesungguhnya. Ada benarnya ketika sebagian orang mengatakan, dalam percaturan politik, Kawan menjadi lawan dan lawan kerap menjadi kawan. Sebagian lagi mengatakan bahwa politik pada praktisnya adalah sebuah dagelan saja, tidak lebih dan tidak demikian pada nyatanya.

Melanjutkan catatan Bagian I kemarin (Klik: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1119504444730562&set=a.208966809117668.62538.100000130513497&type=1&ref=notif&notif_t=comment_mention), pada bagian II ini saya ingin menggambarkan bagaimana Indahnya kebersamaan dan persaudaraan Umi Dinda, sapaan akrab Hj Dinda Damayanti Putri, kandidat yang berpasangan dengan Drs. H. Dahlan Nor, dengan para Kandidat politik lainnya dalam Pilkada Kab Bima 2015

Hubungan persahabatan, persaudaraan dan profesi dengan Drs. H. Syafruddin, M.Pd, MM sudah saya jelaskan pada bagian I yang lalu. Sedangkan Hubungan Umi Dinda dengan Drs. H. Masykur HMS (Calon wakil dari H. Syafru) bukanlah sekedar hubungan persaudaraan biasa maupun sekedar profesi, namun sudah seperti keluarga. Bagaimana tidak, H. Masykur adalah pejabat yang bisa dibilang ‘Tangan kanan’ nya mendiang Ferry Zulkarnaen (Suami dari Umi Dinda), saat menjabat sebagai Bupati sejak tahun 2005. H. Masykur adalah Sekda Kab Bima pada masa mendiang Ferry Zulkarnaen, juga pernah menjadi kepada BPMDes Kab Bima.

Kedekatan Istri dari H. Masykur dengan Umi Dinda bukan saat ini saja, tetapi sudah berlangsung lama. Apalagi, terkait banyak persoalan internal Birokrasi pada masa kepemimpinan mendiang Ferry, kerap didiskusikan bersama dengan Umi Dinda. 10 tahun, hubungan mereka terbangun akrab dan tidak lah mudah dengan hanya karena politik Pilkada kemudian merusak tatanan keakraban Umi Dinda dan H. Masyur. Apalagi, H.Masykur menjadi Caleg tahun 2014 lalu atas permintaan Umi Dinda dalam rangka meraih ET (elementary Tresure) untuk Golkar Kab Bima. 10 Tahun dalam kebersamaan yang akrab.

Demikian pula Umi Dinda dengan Ady Mahyudi, meskipun secara Profesi, jarang bertemu dan bertatap muka. Namun Istri Ady Mahyudi, kanda Murni, yang saat ini menjadi Ketua DPRD Kab Bima dan Umi Dinda sebagai Wakil Ketua DPRD Kab Bima. Tentu kebersamaan mereka di DPRD jika dihitung dari bulan pelantikan (September 2014) tentu sudah hampir 1 tahun mereka bersama dalam berbagai aktifitas pembangunan Bima. Hubungan Umi Dinda melalui Ibu Murni mempengaruhi komunikasi dan Interaksi Ady Mahyudi dengan umi Dinda.

Belum lagi hubungan Ady Mahyudi melalui mendiang Ferry Zulkarnaen semasa menjabat sebagai Bupati Bima, kerap saling berkomunikasi dalam berbagai urusan daerah. Sebab Ady Mahyudi adalah Wakil Ketua DPRD Kab Bima pada saat itu. Tentu hubungan kedekatan profesi ini juga mempengaruhi kedekatan dengan Umi Dinda sebagai Istri mendiang Ferry. Sehingga kita semua tidak bisa menafsirkan bahwa antara Ady dan umi Dinda adalah dua sosok yang dapat dipisahkan dengan mudah dalam urusan pembangunan daerah Bima. Apa yang diketahui oleh Ady tentu juga diketahui oleh umi Dinda, demikian pula sebaliknya meskipun tidak dalam semua hal.

Adapun kedekatan Umi Dinda dengan Zubair (Pasangan Wakil dari Ady Mahyudi) bukanlah kedekatan baru-baru ini. Drs Zubair HAR terangkat menjadi kepala Dinas Dikpora dari seorang Kepala Sekolah di SMUN 1 Sanggar pada masa mendiang Ferry Zulkarnaen menjadi Bupati. Dan Zubair menjadi kadis Dikpora Kab Bima selama 7 Tahun. Saya masih ingat bagaimana Zubair berjuang habis-habisan untuk kemenangan FERSY tahun 2010 yang lalu. Jabatan dipertaruhkan, demikian pula posisi Zubair sebagai Ketua PPK Kec Sanggar pada tahun 2005 merangkap sebagai ‘Tim Bayangan’ dari mendiang Ferry berpasangan dengan Usman AK pada masa itu.

Hubungan ini terus terjalin hingga Zubair dianggap sebagai Saudara mendiang Ferry pada periode ke II Ferry menjadi Bupati. Tentu berpengaruh secara signifikan dengan Umi Dinda sebagai istri mendiang Ferry. Hampir tiap hari Zubair mendampingi mendiang Ferry pada berbagai acara pemerintahan. Zubair masuk dalam lingkaran Pandopo pada masa itu. sehingga secara emosional antara Umi Dinda dan Zubair, tidak dapat dipisahkan dengan mudah hanya karena urusan politik Pilkada seperti ini. Semua orang tahu, bahwa Jasa mendiang Ferry Zulkarnaen tidak dapat dibayar dengan uang oleh Zubair. Kedekatan tersebut adalah kedekatan yang memang terbangun secara sadar.

Lalu bagaimana hubungan kedekatan Umi Dinda dengan Calon yang mengambil Jalur Independent..? saya tidak tahu banyak. Namun yang pasti, Pak Hamid, pasangan wakil dari Khayir ini adalah mantan Camat Sape pada masa mendiang Ferry Zulkarnaen menjadi Bupati. Hubungan atasan dan bawahan inilah yang membuat Umi Dinda juga mengenal dan akrab dengan Hamid.

LALU, kita sebagai warga Bima kota maupun kabupaten bersemangat secara tidak sadar melakukan berbagai Black Compage (Kampanye terselubung) tentang mereka mengakibatkan kita sebagai warga gontok-gontokan. Padahal sesungguhnya mereka masing-masing mengetahui kelebihan dan kekurangan kandidat lainnya. Tidak perlu lah kita kemudian menjadi simpatisan Fanatik, lalu membentuk diri sebagai bagian dari massa militan. Apa faedahnya..??? Mereka para kandidat itu, tidak akan mungkin saling menjatuhkan sedemikian ekstrim seperti apa yang dilakukan oleh para Simpatisannya. Sekali lagi mereka itu saudara yang sama-sama paham mana sisi kekuatan dan kelemahan saudaranya yang lain sebagai pesaing politik mereka.

IRONI nya, kita sebagai pemilih membuat gap (permusuhan/perbedaan) dengan saudara kita yang lain hanya karena beda pilihan. Mereka (Para Kandidat), jika kalah, mereka sudah memiliki Komitment yang dibangun sebelumnya. Bisa proyek pembangunan, bisa jabatan tertentu, bisa pula hal lain yang memang sudah dinegosiasikan sebelumnya.

Lha, kita, sudah buat Gap dengan saudara sendiri, hidup tetap menjadi Petani, Tukang ojek, Nelayan atau pengusaha kecil-kecilan. Dikasih materi karena sudah loyal oleh kandidat yang kita bela habis-habisan pun tidak. Lalu apa yang ingin dicapai…? Permusuhan…? Dendam…? Balas Jasa..? Paket proyek…? Uang capek…? Itu semua sudah tidak berlaku diera ini.

Permusuhan dengan saudara kita yang lain karena beda pilihan hanya akan membuat kita stroke dan anemia karena selalu kepikiran. Dendam…?? Apa manfaatnya..? malah akan mempersempit hubungan kemitraan kita dengan banyak orang lain hanya karena hubungan kedekatan dengan orang yang kita dendami. Paket Proyek…?? Di Era ini, rata-rata Paket Proyek sudah Online bro…. Ada paket-paket PL (penunjukan langsung), tapi apa yang bisa didapat bila di era ini, hampir semua uang Negara sudah ber-'Status' real Coast..?? kecuali siap-siap masuk penjara. Uang Capek…? Maksudnya berharap dikasih uang untuk dirikan Posko..? Posko sudah dilarang oleh PKPU bro…

Ayo, kita menjadi pemilih cerdas saja. Ajak orang tua, saudara, saudari, sobat, sahabat, dan orang-orang sekitar kita untuk menjadi ‘penjembatan informasi politik’ yang baik. Menjadi Pencerah yang baik lebih bermanfaat daripada mengharapkan sesuatu imbalan akibat kita mati-matian menjadi simpatisan yang fanatilk dan mati-matian menjatuhkan calon lainnya, sehingga kita mati-matian sakit hati karena ujung-ujungnya kalah atau menang tapi tidak dianggap. Jangan salah bro, mereka (Para Kandidat) sudah bersahabat dan dekat secara profesi dan emosional sebelum kita berkenalan dengan mereka yang kita perjuangkan mati-matian dengan pola Fanatisme Salah Kaprah…!!!
(BERSAMBUNG)

======
SHARE STATUS INI AGAR LEBIH BANYAK YANG MENYADARI DAGELAN-DAGELAN POLITIK DIPANGGUNG NYATA KITA.....!!!
======
-
-
‪#‎Makin_malam_Kota_Matara‬ Makin sepi, 30 Juli 2015

MENGENAL MEREKA DALAM PERTALIAN SAUDARA, DIBALIK TENDENSI POLITIK BIMA HARI INI (Bag I)


Saya memulai tulisan ini dengan niat dan tujuan agar kita sebagai pembaca memahami betul sisi politik itu sesungguhnya yang tentu beda dengan sisi sosial keseharian dalam kehidupan ini. Ada benarnya ketika sebagian orang mengatakan, dalam percaturan politik, Kawan bisa menjadi lawan dan lawan kerap menjadi kawan. Sebagian lagi mengatakan bahwa politik pada praktisnya adalah sebuah 'dagelan'dan 'dagangan' saja, tidak lebih dan tidak demikian pada nyatanya.

Kita semua tentu sudah mengetahui bahwa dalam proses penerimaan Pendaftaran Bakal Pasangan Calon yang dilakukan oleh KPUD. Disini, kita persempit pada wilayah Pilkada Kab Bima 2015. Para Bakal Pasangan Calon yang telah diterima berkas pendaftarannya adalah H. Syafru – H. Masykur dengan akronim SYUKUR. Kemudian, Ady Mahyudi – Zubair, lalu Dinda – Dahlan dan pada pencalonan Independent tersebut nama Khair – Hamid.

Nama-nama Bakal Paslon tersebut akan ditetapkan sebagai Kandidat Pasangan Calon (Paslon) pada akhir agustus mendatang oleh KPUD Kab Bima. Melihat dari berbagai sisi dan pengusungan, ke 4 bakal Paslon ini sulit tereliminasi. Kemungkinan 4 bakal Paslon ini akan ditetapkan menjadi Paslon pada waktu yang sudah dijadwalkan.

Ke 4 bakal Paslon ini sesungguhnya dan pada dasarnya memiliki kedekatan hubungan profesi, hobby maupun hubungan kekeluargaan. Ke 4 bakal Paslon ini, sesungguhnya tidak seperti yang terlihat menjadi ‘musuh’ seperti saat ini sebelum memutuskan untuk menjadi bakal calon. Namun inilah Perpolitikan, harus berani mengambil posisi dan menanggalkan berbagai sisi kedekatan-kedekatan tertentu semasa menjadi kontestan dalam Pilkada.

H. Syafru dan H. Masykur, sepengetahuan saya, H. Syafru adalah atasan H. Masykur dalam beberapa tahun sebelum H. Masykur purna tugas sebagai seorang PNS. Hubungan mereka pun sesungguhnya ‘kaku’ karena sifatnya Birokratif. Sebelumnya pun demikian, H. Syafru pernah menjadi anggota DPRD dan H. Masykur selain pernah menjabat sebagai Sekda pun pernah menjabat sebagai Asisten dan Kepala BPMDes.

Hubungan ini pun tidak terlalu bersahabat karena terikat dengan sebuah sistim dimana bawahan harus mengikuti perintah atasan dan seorang atasan bisa memerintah bawahan sesuai dengan Tupoksinya. Namun, mereka bisa menyatukan langkah dan menyamakan tujuan untuk sebuah Politik Kepentingan dan kepentingan Politik.

Hubungan Ady Mahyudi dan Zubair, bila kita melihat dari sisi masa lalu, tidak terlalu dekat. Ady Mahyudi adalah anggota Legislatif dan pebisnis, sedangkan Zubair adalah birokrat yang berlatar belakang Guru. Dalam hubungan profesi, saya berani katakan, kalau mereka berdua ini satu atau dua kali saja bertemu dalam sebulan terkait tupoksi masing-masing. Sedangkan pertemuan-pertemuan non-formil seperti acara resepsi, kita semua tidak bisa menafikan, namun khan sifatnya tidak lama dan tidak ada hal yang serius yang dibahas ataupun yang diperbincangkan. Toch, jika kita perhatikan lebih jeli, komunikasi mereka di non-formal lebih banyak canda dan guyonannya. Namun mereka dapat bersatu dalam sebuah Kepentingan bersama atas dasar Komitment.

Demikian pula dengan Bakal Paslon Hj Dinda Damayanti dan H. Dahlan. Hj Dinda Damayanti yang bisa disapa dengan Umi Dinda ini, mungkin jika bukan karena mediang Ferry Zulkarnaen menjadi Bupati, mungkin tidak terlalu mengenal dekat dengan sosok H. Dahlan. Sebab Umi Dinda di Bima, H. Dahlan di Jakarta. Meskipun H. Dahlan adalah putra asli Bima yang bekerja di Jakarta. Konon menurut informasi dari orang yang sangat dekat dengan Umi Dinda, bahwa pilihan dijatuhkan kepada H.Dahlan karena wasiat atau pesan mendiang Ferry Zulkarnaen.

Satu lagi yang unik, H. Khair dan H. Hamid, bakal paslon dari jalur independent. Mereka berdua ini orang penting sesungguhnya pada wilayah kerja masing-masing. H.Khair adalah Petinggi di Departemen Agama sedangkan H. Hamid adalah mantan Camat Sape. Mereka berdua ini, saya berani katakan, sangat jarang bertemu dan kalaupun berkomunikasi, terbatas pada acara-acara tertentu yang tentunya tidak setiap minggu atau setiap bulan. Karena ada keinginan untuk sebuah Pembangunan yang ‘ditelurkan’ dalam Visi Missi dan hal itu disepakati karena dianggap menjadi tujuan yang sama, maka berpasangan lah mereka berdua ini.

H. Syafru dengan kandidat lain memiliki kedekatan yang tidak hanya sekedar kedekatan Profesi, namun juga kedekatan-kedekatan emosional tertentu. H. Syafru dengan Umi Dinda, ibarat setali dua mata uang. Artinya, sejak Fersy (Ferry – Syafru) memenangkan Pilkada tahun 2010 yang lalu hingga kemudian ajal memisahkan mereka pada akhir 2013 (Ferry Zulkarnaen, suami dari umi Dinda meninggal). Namanya Bupati dan Wakil Bupati tentu beserta Istri kerap terlibat aktif dalam berbagai kegiatan bersama suami. H. Syafru sebagai Wakil Bupati saat itu dan Ferry Zulkarnaen suami dari Umi Dinda sebagai Bupati, tentu komunikasi dan interaksi pun hampir tiap hari. Tentu dalam berbagai kegiatan dan pertemuan-pertemuan yang berbeda-beda. 2 tahun adalah waktu yang cukup untuk mereka bercanda tawa bersama, menikmati secangkir teh bersama. Demikian pula berbagi ide dan gagasan pembangunan.

Kedekatan mereka ini tidak hanya disitu, sebelum H. Syafru menjadi Wakil Bupati, antara umi Dinda dan H. Syafru pun kerap berinteraksi dan berbagi cerita. Sebab, mendiang Ferry Zulkarnaen juga pernah menjadi Anggota DPRD Kab Bima demikian juga H. Syafru. Nah, anda bisa bayangkan, bagaimana hubungan interaksi dan komunikasi mereka lakukan dan kedekatan emosional mereka yang terjalin sebelum ini.

Antara H. Syafru dengan Zubair, tentu ini juga tidak bisa dipisahkan. Sebab, antara H. Syafru sebagai atasan Zubair, Komunikasi tentunya tidak pernah putus. Lebih-lebih pada saat Zubair menjabat Kadis Dikpora Kab Bima dan sebagai salah satu orang yang dipercaya oleh mendiang Ferry Zulkarnaen yang memang saban waktu saling mengunjungi. Nyatanya, mereka sesungguhnya ‘satu ‘ sebelum ini. meskipun pada awal 2014, sempat terjadi insiden yang kurang menarik tapi menarik perhatian publik. Siapa yang tidak ingat kasus ‘Spanduk’ yang menghebohkan pada saat itu, menjadi Trand Topik dimedia Bima selama 2 minggu dan menjadi pembicaraan hangat selama hampir lebih kurang 4 bulan. Yang kemudian melengserkan Zubair dari Kadis dikpora menjadi guru pengajar di SMU N 1 sanggar. Meskipun kemudian ditarik menjadi Staf Ahli Bupati (H, Syafru) dan kemudian dipromosikan ke Kesbanglinmas Kab Bima sebagai kepala, masih sebagai bawahan H. Syafru hingga tahap pencalonan ini dilakukan.

H. Syafru dengan Ady Mahyudi, adalah dua sosok dalam satu ‘warna’. Dilahirkan dari idiologi partai yang sama yaitu PAN. Sama-sama ‘menghidupkan’ PAN pada masa itu. tentu secara emosional maupun hubungan profesionalisme kepartaian kedua orang ini cukup dekat. Tidak hanya itu, Saat H. Syafru menjabat sebagai Bupati, Ady Mahyudi adalah salah seorang unsur Pimpinan di DPRD Kab Bima. komunikasi tentang pembangunan maupun canda tawa tentulah mewarnai kehidupan mereka ini tatkala bertemu ‘dipanggung’ lain. Meskipun belakangan menjadi sedikit ‘retak’ karena issu ‘Khianat Idiologi’ yang dibangun oleh grassrot pada H. Syafru. Tetapi pada nyatanya, komunikasi sesuai dengan Tupoksi tetap intens dilakukan.

Sehingga pada sejatinya, mereka tidak musuhan secara benar pada nyatanya. Tetapi keadaan dan Kondisilah yang membuat mereka tidak sejalan dalam presepsi gagasan-gagasan yang dilahirkan. Lebih-lebih ketika menjelang Politik Pilkada seperti saat ini. NAMUN, kenapa kita masyarakat biasa ini yang dengan begitu ambisinya untuk saling ‘sikat’ dan ‘sikut’..?? Mereka para calon belum tentu demikian bermusuhan seperti yang kita lihat.

Jika ingin melihat mereka akrab, perhatikanlah pada saat Test Kesehatan dalamPilkada atau pada saat Bintek para Paslon. Kita sebagai masyarakat awam harus mengetahui jejak hidup mereka. kita harus paham bahwa Versus dalam Politik itu tidak benar-benar nyata versus dalam pemahaman kita yang kerap men-generalisir bahwa jika sudah ‘bersebrangan’ maka akan bersebranganlah hingga akhir hayat.

Saya teringat bagaimana ekstremnya pedebatan antara Soekarno – Natsir dan Salim jika sudah berada diatas Podium. Mereka bertiga ini dikenal dengan ‘Singa Podium’ pada masanya. Namun, semua itu cair dan malah berbagi kopi dan kue jika sudah berada dikedai kopi atau diatas meja makan makan. Malah ada literature yang saya baca, mereka ini pada waktu tertentu sering curhat tentang kehidupan pribadi. Dan seperti itulah para bakal Paslon ini berkelakukan.

Kita sebagai masyarakat biasa dituntut untuk cerdas dalam menyikapi dan dituntut dewasa dalam memahami konstelasi dan konfrontasi yang dibangun. Disinilah, konon, politik itu menjadi Seni sekaligus menjadi Sengit. Disini pula Masyarakat awam seperti kita ini untuk merasionalkan politik itu sesungguhnya kepada masyarakat lainnya yang masih awam tentang politik.

Ekstrimnya, masyarakat lain yang menganggap bahwa Politik adalah perang kepentingan dan balas dendam sosial, hanya bagian dari taktik-taktik tertentu yang 'dimainkan'. Inilah kelirunya dan tidak bijak serta tidak dewasanya kita dalam melihat sesuatu melalui kacamata ‘Politik’ pada batasan kita masing-masing.
(BERSAMBUNG)
-
‪#‎Kota_Mataram‬ menjelang pagi, 28 Juli 2015.

Hari Ini 72 Tahun Proklamasi Indonesia dalam Hitungan Hijriyah, Hamka: “Merdeka Buat Apa?”

Buya HAMKA-1-jpeg.image
Prof Dr Buya Hamka

 -Oleh: BEGGY RIZKIYANSYAH-

SALAM-ONLINE: Hari ini, Jumat, 9 Ramadhan 1436 H, Proklamasi Indonesia yang dibacakan Soekarno sudah berusia 72 tahun. Jumat, 9 Ramadhan 1364 H (17 Agustus 1945 M), proklamasi “kemerdekaan” itu dinyatakan. Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah, saat dimana Indonesia merasakan karunia dari Allah untuk menikmati “kemerdekaan”, lepas dari penjajahan asing.

Proklamasi yang telah berusia 72 tahun ini (9 Ramadhan 1364 -1436 H) mengingatkan kita untuk berkaca kembali, apa makna kemerdekaan bagi kita? Apa harga yang harus dibayar untuk proklamasi “kemerdekaan” yang kita rasakan saat ini?

Memutar kembali waktu, membuka kembali lembaran-lembaran sejarah bangsa kita, maka kita akan menemukan jejak Islam di setiap lembar sejarah bangsa Indonesia. Bahkan perjuangan kemerdekaan sejatinya telah ada, malah jauh sebelum terbayang sebuah komunitas bernama Indonesia.

Perjuangan “kemerdekaan” bangsa ini berurat dan berakar kepada perjuangan Islam.Perjuangan para pendahulu kita untuk merdeka bertolak dari Islam yang menentang penindasan. Menggaungkan nama Islam. Merentang dari barat hingga timur nusantara.Untuk menegakkan hukum Allah.

Semangat jihad rakyat Aceh yang seringkali disebut sebagai perang sabil menghujam dalam dada rakyat tanah rencong itu.Maka kita dapat melihat meleburnya jihad ke dalam budaya masyarakat Aceh, sehingga didengungkanlah syair-syair hikayat perang sabil dalam kehidupan rakyat. Hikayat Perang Sabi sering dibacakan ditengah masyarakat. Didengarkan turun temurun.

Maka tak heran Aceh mampu menghadapi perang dengan penjajah hingga 40 tahun lamanya.Bahkan ketika kesultanan Aceh runtuh, rakyat aceh tak pernah benar-benar berhenti berperang. Malah penulis Belanda, Zentgraaf, mencatat wanita-wanita aceh adalah perempuan-perempuan paling pemberani  dalam kancah peperangan.

“Vrouwen als deze waren er bij honderden, wellicht duizenden (wanita Aceh yang seperti ini ada ratusan, mungkin ribuan).”

Di lain kesempatan Zentgraaff mengatakan, “En dat de vrouwen van dit volk alle andere overtreffen in moed en doodsverachting,” yang dalam terjemahan bebasnya berarti; wanita bangsa ini melampaui orang lain dalam keberanian dan berani mati.[1]

Keberanian para pejuang aceh ini juga dapat kita temukan pada perlawanan kaum paderi melawan kolonial Belanda. Kaum Paderi tak lain ingin menjadikan wilayah mereka sesuai dengan ajaran Islam. Begitu pula ketika akhirnya harus menempuh jalan peperangan dengan penjajah, maka Islamlah yang menjadi daya dorong para kaum paderi di Sumatera Barat. Steyn Parve, salah seorang mantan residen Padangsche Bovenlanden, memberikan kesaksiannya mengenai Kaum paderi.

“Tetapi sekte Paderi tidak muncul sebentar saja. Sebaliknya, sekte ini laksana cahaya yang muncul dan bertahan lama, terus menerus memperlihatkan sinarnya kepada kita.”[2]

Hal yang sama kita temukan di Jawa. Pangeran Diponegoro yang ingin menegakkan Islam di tanah Jawa, mendapat dukungan dari kaum ulama seperti Kiai Mojo. Sang Pangeran memiliki kehendak merdeka, melawan penjajahan dan mengembalikan kemuliaan Islam di tanah Jawa.[3]

Di Makassar, Sultan Alauddin berdiri tegak mempertahankan kesultanannya. Ketika VOC meminta Makassar untuk menghentikan perdagangannya ke kepulauan Maluku, dijawab oleh Sultan dengan sangat mengesankan.
“Tuhan telah menciptakan bumi dan lautan, (dan telah) membagikan bumi di antara manusia, (begitu pun) Dia memberi lautan sebagai milik bersama. Tidak pernah kami mendengar bahwa pelayaran di lautan dilarang bagi seseorang. Jika engkau melakukan larangan itu, berarti engkau seolah-olah mengambil roti dari mulut orang (lain).”[4]

Jawaban yang tentu saja memicu peperangan bertahun-tahun. Meskipun akhirnya Makassar menderita kekalahan, namun sejarah tetap mengenangnya sebagai peperangan umat Islam melawan orang kafir, seperti terekam dalam Syair Perang Mengkasar, yang di tulis oleh Enci’ Amin, seorang juru tulis Sultan Hasanuddin.

Lima tahun lamanya perang
Sedikit pun tidak hatinya bimbang
Sukacita hati segala hulubalang
Melihat musuh hendak berperang.
Mengkasar sedikit tidak gentar
Ia berperang dengan si Kuffar
Jikalau tidak ra’yatnya lapar
Tambahi lagi Welanda kuffar.[5]

Berbagai peperangan telah mewarnai perjuangan kemerdekaan bangsa kita.Bertumpuk-tumpuk badan menjadi syahid. Bersahut-sahut takbir memanggil. Panggilan yang oleh M. Natsir disebut Panggilan Allahu Akbar. Seperti tercatat dalam Syair Perang Menteng melawan penjajah di Palembang.

Haji berteriak Allahu Akbar
Datang mengamuk tak lagi sabar
Dengan tolong Tuhan Malik Al-Jabbar
Serdadu Menteng habislah bubar.[6]

Semua perjuangan itu adalah kehendak untuk merdeka, bebas dari segala penindasan. Bagi para pemimpin kita, segala perjuangan di atas, menjadi inspirasi untuk meneruskan perjuangan.

Demikian pula ketika perjuangan beralih ke zaman modern, Islam tetap menjadi sumbu dari berputarnya usaha-usaha menuju kemerdekaan. Sarekat Islam adalah contoh nyata bagaimana Islam dapat menyatukan bangsa ini.Organisasi ke-Islam-an seperti Nadlatul Ulama, diwakili para kiai, telah mendambakan kemerdekaan sebagai jalan untuk kemaslahatan umat Islam. KH Wahab Hasbullah ketika ditanya mengenai kemerdekaan, sehari sebelum NU berdiri pada 1926, menjawab,”Tentu, itu syarat nomor satu, umat Islam menuju ke jalan itu, umat Islam kita tidak leluasa sebelum Negara kita merdeka.“[7]

Menurut M. Natsir, ajaran Islamlah yang menyebabkan dorongan-dorongan untuk merdeka. Ia menyatakan, “Pada hakikatnya, ajaran Islam itu merupakan suatu revolusi, yaitu revolusi dalam menghapuskan dan menentang tiap-tiap eksploitasi. Apakah eksploitasi itu bernama kapitalisme, imperialisme, kolonialisme, komunisme atau fascism, terserah kepada yang hendak memberikan.

Demikianlah semangat kemerdekaan yang hidup dan dibakar dalam jiwa kaum Muslimin di Indonesia. Semenjak berabad-abad semangat itu menjadi sumber kekuatan bangsa kita dan spirit itu pulalah yang menghebat dan mendorong kita memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia, pada tahun 1945 itu.”[8]

Maka tak mengherankan jika para ulama dan tokoh Islam, ketika memiliki kesempatan untuk mewarnai lahirnya Republik Indonesia, mereka memanfaatkannya dengan memperjuangkan Islam sebagai pondasi negara. Melalui Piagam Jakarta (Jakarta Charter), umat Islam dapat menyalurkan citanya untuk menjadikan Indonesia negara merdeka yang bertauhid.

Menurut Buya Hamka, tidak mungkin tauhid dilepaskan dalam perjuangan bernegara. Sebab pangkal pokok pandangan Islam adalah dua kalimat syahadat.
“Akibat dua kalimat syahadat itu bagi kehidupan Islam sangat besar dan sangat jauh. Karena kalimat itu, tidaklah ada yang mereka sembah, melainkan Allah. Tidak ada peraturan yang mereka akui, atau undang-undang yang mereka junjung tinggi, melainkan peraturan dan undang-undang dari Allah,” kata Buya Hamka. [9]

Namun sayang, Piagam Jakarta tak terlaksana hingga saat ini. Kalimat“Dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” malah dihapuskan. Buya Hamka, sangat menyesalkan peristiwa ini.
“Pendeknya, sesudah sehari maksud berhasil (maksudnya proklamasi kemerdekaan-pen), partner ditinggalkan, dan orang mulai jalan sendiri. Pihak Islam dibujuk dengan janji-janji bahwa kepentingannya akan dijamin. Bersama dengan tujuh kalimat itu, dihapuskan pulalah kata yang di atas sekali, kata pembukaan yang termasuk kalimat’ sakti’ dalam jiwa orang yang hidup dalam Islam, yaitu kalimat, ‘Dengan Nama Allah Tuhan Yang Rahman dan Rahim. Sampai begitunya!”sesal Hamka.[10]

Kita, generasi saat ini memang patut menyesalkan peristiwa tersebut. Padahal, dengan kalimat Allahu Akbar-lah, para syuhada merelakan jiwanya untuk melawan penjajah. Kalimat Allahu Akbar-lah ucapan terakhir para pahlawan kita, sebelum nyawa mereka bercerai dari badannya. Dengan kalimat takbirlah, mereka mempertanggungjawabkan jihad mereka di hadapan Allah.
Hingga kini, Piagam Jakarta yang disebut undang-undang menjiwai Undang-Undang Dasar 1945 dan satu kesatuan dengan konstitusi, nyatanya hanyalah teks belaka tanpa realisasi nyata. Atas perkara ini, Buya Hamka melemparkan pertanyaan menohok bagi kita.

“Sekarang Indonesia telah merdeka. Merdeka Buat apa?”
Bagi kita kaum Muslimin adalah merdeka buat melakukan syariat Islam, dalam pengakuan dan pangkuan negara, bagi penduduknya yang memeluk Islam.
Sebab menjalankan syariat Allah dan Rasul bagi kita kaum Muslimin adalah bagian dari iman. Sebab dalam ajaran Islam, Islam itu bukanlah semata-mata hubungan dengan Allah, tetapi hubungan juga dengan masyarakat.
Bukan semata-mata ibadat, tetapi mencakup juga bernegara dan bermasyarakat. Percuma jadi orang Islam, percuma mendirikan partai-partai Islam, kalau dengan iman terpotong-potong kita hendak tampil ke muka.
Namun tidak! Demi Tuhanmu, tidaklah mereka beriman, sebelum engkau jadikan hakim, pada barang yang mereka perselisihkan di antara mereka, kemudian itu tidak mereka dapati dalam diri mereka sendiri rasa keberatan pada apa yang engkau putuskan, dan mereka menyerah sebenar-benar menyerah.
Itulah dia iman, dan itulah dia hidup.
Kalau tidak, sama dengan artinya mati, walaupun nafas masih turun naik.”[11]

Lantas jika begini, apakah arti kemerdekaan bagi kita? Agaknya penulis sepakat, sekali lagi, dengan [12] Buya Hamka:

“Mari kita berpahit-pahit, kaum Muslimin belum pernah merasa puas dalam kemerdekaan negeri ini kalau kewajiban menjalankan syariat Islam dalam kalangan pemeluknya seperti tercantum dalam pembukaan UUD 1945 belum menjadi kenyataan.”
-Penulis adalah Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa
Sumber: jejakislam.net

[1]Talsya, T. Alibasjah. (1982). Cut Nyak Meutia, Srikandi yang Gugur di Medan Perang Aceh. Jakarta: Mutiara
[2]Amran,Rusli. (1981). Sumatra Barat Hingga Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan.
[3] Carey, Peter. (2011). Kuasa Ramalan.Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
[4]Sewang, Ahmad M. 2005.Islamisasi Kerajaan Gowa Abad XVI sampai abad XVII. Jakarta. Yayasan Obor Indonesia.
[5]Amin, Enci’. (2008). Syair Perang Mengkasar, C. Skinner (ed). Makassar: Ininnawa.
[6] Alfian, Ibrahim. (1992). Sastra Perang. Sebuah Pembicaraan Mengenai Hikayat Perang Sabil. Jakarta: Balai Pustaka.
[7] Feillard, Andree. (1999). NU Vis-à-vis Negara, Pencarian Isi, Bentuk dan Makna.Yogyakarta : LKiS.
[8] Natsir, M. (2008). Revolusi Indonesia dalam Capita Selecta Jilid 2. Jakarta: PT Abadi dan Yayasan Capita Selecta.
[9] Hamka. (2002). Mengapa Mereka Masih Ribut?dalamHati ke Hati, Tentang Agama, Sosial Budaya, Politik. Jakarta: Pustaka Panjimas.
[10] Ibid
[11] Hamka. (2002). Cintakan Rasul SAW dalam Hati ke Hati, Tentang Agama, Sosial Budaya, Politik. Jakarta: Pustaka Panjimas.
[12] Hamka. (2002). Mengapa Mereka Masih Ribut?dalamHati ke Hati, Tentang Agama, Sosial Budaya, Politik. Jakarta: Pustaka Panjimas.

"Demografi & Agama" | Kolom Anis Matta


Oleh Anis Matta
Dimuat di Koran SINDO 17 Juni 2015

Agama salah satu faktor yang memengaruhi perilaku individu. Ketika individu-individu berkembang menjadi kelompok, tentu ia akan memengaruhi wajah suatu masyarakat.

Sejumlah orang menganut agama tertentu, dengan identitas dan perilaku tertentu, adalah fakta demografis dan sosiologis yang membentuk peta sosial-politik. Bagaimana pada tataran global? Pada April lalu Pew Research Centre di Amerika Serikat melansir laporan prediksi pertumbuhan agama-agama di dunia. Dalam laporan itu diperkirakan pada 2050 jumlah muslim akan sama dengan pemeluk agama Kristen di dunia.

Sebagai perbandingan, pada 2010 Kristen adalah agama terbesar di dunia dengan estimasi pemeluk 2,2 miliar (31%) dari 6,9 miliar penduduk Bumi. Islam berikutnya, dengan jumlah 1,6 miliar atau 23%. Lebih lanjut Pew memprediksi muslim akan mengisi 10% populasi Eropa dan menggeser Yahudi sebagai agama non-Kristen terbesar di Amerika. Di negeri Paman Sam, pemeluk Kristen akan turun dari tiga perempat menjadi dua pertiga pada 2050. Yang menarik India. Hindu akan tetap menjadi agama mayoritas.

Namun, karena penduduk yang begitu banyak, jumlah muslim di India akan melewati negara mana pun, termasuk Indonesia. Atheis, agnostik, dan orang yang tidak berafiliasi dengan agama, walaupun meningkat di sejumlah negara seperti AS dan Prancis, akan menurun pangsanya dalam komposisi populasi global. Buddha akan berjumlah sama dengan jumlahnya pada 2010, sementara Hindu dan Yahudi akan tumbuh.

Di Afrika diperkirakan Kristen akan tumbuh mencapai 40% dari jumlah penduduk benua itu. Nigeria akan menjadi negara dengan jumlah umat Kristen terbanyak dibanding semua negara, kecuali AS dan Brasil. Inilah prediksi wajah demografi agama di dunia pada 2050. Setiap prediksi tentu punya kelemahan dan ruang untuk kesalahan ( margin of errors ), namun laporan Pew ini menarik untuk kita jadikan sebagai referensi secara kritis.

Selain potret demografis, kita juga menyaksikan tokoh-tokoh berbagai agama muncul di berbagai bidang. Ambil contoh di Amerika. CEO Microsoft Satya Nadella adalah warga negara AS beragama Hindu kelahiran Hyderabad, India. Co-founder YouTube Jawed Karim adalah muslim keturunan Bangladesh kelahiran Jerman Timur (waktu itu) yang melintas ke Jerman Barat dan pindah ke Amerika setelah reunifikasi Jerman.

Di negeri Paman Sam sudah ada dua orang muslim menjadi anggota Kongres. Di Belanda, wali kota Rotterdam adalah muslim kelahiran Maroko dan di Inggris sudah ada beberapa wali kota muslim. Masih banyak contoh di berbagai negara.

Keseimbangan Baru

Fenomena di atas dan prediksi Pew menunjukkan dunia sedang bergerak ke arah keseimbangan baru—dengan segala harapan dan kecemasannya. Dalam berbagai kesempatan berdiskusi di negara-negara dunia Islam, seperti Turki, Mesir, atau Aljazair, saya kerap mendapat pertanyaan bagaimana Indonesia melewati transisi demokrasi dalam ketegangan hubungan antara Islam dan negara serta Islam vis-a-vis modernitas.

Di Indonesia sendiri ini diskusi panjang yang telah dibuka Tjokroaminoto dan Sutan Takdir Alisjahbana sebelum kemerdekaan, dilanjutkan Nurcholish Madjid mulai 1970-an, hingga sekarang. Yang juga banyak dibahas adalah betapa benturan budaya yang belum sepenuhnya selesai menjadi masalah bagi modernisasi di dunia Islam. Basis keagamaan yang kental di suatu masyarakat tidak dapat dicerabut begitu saja oleh proyek besar modernisasi. Pada saat yang sama, negara tidak dapat menyelesaikan benturan ini dengan pendekatan struktural.

Dalam hal relasi agama (Islam) dan negara, dari pengalaman banyak negara, ketegangan yang muncul malah berujung pada pertempuran yang merugikan kedua belah pihak ( lose-lose battle). Jika kita membaca data Pew di atas, kita melihat keseimbangan geopolitik baru di masa depan dimulai dari perubahan lanskap demografis. Negara tidak lagi menjadi ”lawan bicara” tunggal agama dalam berinteraksi. Masyarakat sipil dan pasar kini berperan untuk menjadi ruang aktualisasi agama-agama.

Negara akan surut menjadi penjaga ketertiban administrasi penduduk global yang dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Negara akan menjadi makin netral dan tak ”berwarna”. Agama pernah menjadi faktor pemicu globalisasi sejak lebih dari seribu tahun lalu, ketika terjadi penyebaran agama dari pusat-pusat agama ke berbagai penjuru dunia, baik Buddha, Hindu, Islam, dan Kristen. Namun, konteks penyebaran agama pada saat itu adalah ekstensifikasi basis pengikut secara kuantitatif yang kerap berkelindan dengan motif-motif politik dan ekonomi.

Globalisasi agama yang sekarang berlangsung adalah rasa pertautan orang-orang di seluruh dunia oleh ajaran, referensi dan perilaku dari ajaran agama yang sama. Pertumbuhan agama bukan lagi disebabkan ekspansi wilayah dan penaklukan, tetapi akibat ”pertumbuhan organik” di dalam umat beragama tersebut dan akseptabilitas agama oleh individu yang makin atomistik. Daya globalisasi agama kini dalam beberapa hal mengaburkan negara-bangsa.

Globalisasi punya sisi gelap membuat orang teralienasi, merasa asing, dan sendiri di tengah dunia yang hiruk-pikuk. Maka tak heran jika globalisasi, selain menghasilkan keterbukaan, juga memicu lahirnya ”ketertutupan”. Fenomena ekstremisme dan primodialisme merupakan pantulan balik dari globalisasi yang menjangkau hingga ke relung-relung privat kehidupan. Kita beruntung karena semua umat beragama merupakan bagian yang tak terpisahkan dari terbentuknya negara-bangsa Indonesia.

Perdebatan Piagam Jakarta dalam proses pembentukan negara Indonesia adalah referensi sejarah yang berharga. Saya memandang peristiwa itu secara positif. Itulah bentuk kompromi dan jiwa besar para pendiri bangsa dalam menyusun suatu cetak biru yang dapat memayungi seluruh warga dari berbagai agama. Karena itu, untuk konteks Indonesia, globalisasi agama (atau agama-agama) dan negara-bangsa dapat diarahkan untuk saling memberi manfaat dan menguatkan satu sama lain. Keseimbangan baru di tataran global tidak boleh dimaknai karena ”kuat sama kuat, mari kita bertarung”.

Sebaliknya, spirit yang harus dikedepankan adalah ”karena kita sama kuat, mari bekerja sama”. Koeksistensi damai antaragama adalah proyek besar berikutnya untuk meredam kekerasan berkedok agama yang dimainkan sekelompok kecil tertentu. Dunia kini diliputi kecemasan akibat terorisme karena siapa pun kita dan apa pun agama kita dapat saja tiba-tiba terluka bahkan terbunuh oleh alasan yang tidak kita mengerti.

Rasa sakit akibat luka itu sama. Karena itu, sebenarnya umat manusia di dunia dipersatukan oleh ketakutan yang sama. Terciptanya perimbangan demografis baru pada 2050 itu harus menjadi momentum keseimbangan perdamaian global yang diusahakan oleh semua pihak, baik dari negara maupun komunitas agama global. Keseimbangan baru itu juga menjadi peluang Indonesia berperan sebagai referensi dalam transisi demokrasi dan pengelolaan relasi agama dan negara— khususnya bagi negara-negara dunia Islam.

Tentu itu memberi tantangan yang lebih berat lagi bagi kita sendiri untuk merawat demokrasi dan perdamaian antarumat beragama di negeri kita. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Sumber: Koran SINDO 17 Juni 2015

Waspada, Apakah Galon Air Minum Anda Ber-Kode PET/PETE?


Saat ini masyarakat harus lebih teliti dan waspada ketika membeli dan memakai galon air minum. Saya terkejut ketika saya baru mengetahui dan sadar setelah membeli galon air minum dan kemudian memasangnya di dispenser beberapa hari lalu, dan ketika melihat dibagian bawah galon tersebut ternyata galon air minum itu berkode PET/ (Polyethylene terephthalate) dimana biasanya dilambangkan dengan angka 1 di tengah gambar segitiga logo daur ulang. Berikut ini gambar galon air minum yang saya dapatkan dari distributor air minum.



1339177223946226334
Galon Air Minum ; Dok.Pribadi






Perlu kita ketahui bersama bahwa secara internasional telah diatur kode untuk kemasan plastik, yang mungkin bagi kita sangat perlu untuk diketahui, karena tanda tersebut berkaitan dengan jenis bahan serta cara dan dampak pemanfaatannya bagi manusia. Kode ini dikeluarkan oleh The Society of Plastic Industry pada tahun 1988 di Amerika Serikat dan diadopsi pula oleh lembaga-lembaga yang mengembangkan sistem kode, seperti ISO (International Organization for Standardization). Secara umum tanda tersebut berada di dasar, berbentuk segi tiga, di dalam segitiga akan terdapat angka, serta nama jenis plastik di bawah segitiga.

Plastik yang berjenis PET/PETE ini sesungguhnya direkomendasikan hanya sekali pakai, kenapa? Bila terlalu sering dipakai, apalagi digunakan untuk menyimpan air hangat apalagi panas, akan mengakibatkan lapisan polimer pada botol tersebut akan meleleh dan mengeluarkan zat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker) dalam jangka panjang. Semestinya segera ganti botol/galon yang sudah lama atau terlihat baret-baret.

Jika kita ingat iklan di televisi mengenai air minum mineral yang setelah diminum kemudian diremas-remas / di remukkan kemudian dibuang di tempat sampah, hal tersebut merupakan contoh sebuah pendidikan dan perlindungan konsumen akan dampak-dampak negatif dari botol plastik tersebut.  Jika botol air mineral saja di sarankan untuk sekali pakai, ADA APA DENGAN GALON BER_KODE PET Malah DIMINTA KEMBALIKAN UNTUK DIISI ULANG ?
Kali ini PEMERINTAH & MASYARAKAT SUDAH KECOLONGAN dengan menyebar luasnya galon berkode PET plus adanya tulisan KEMBALIKAN UNTUK DIISI ULANG, jika ini dibiarkan hal ini sama dengan membiarkan ANCAMAN KESEHATAN MASYARAKAT dalam jangka panjang. Jika masalah ini tidak ada perbaikan untuk meningkatkan kualitas galon air minum dengan kode plastik yang lebih aman sesuai dengan standar BPOM yaitu kode plastik 7, seperti yang tertera pada lampiran kode dari BPOM berikut ini.

1339183053336777366
lampiran kode dari BPOM
1339183283726829113
lampiran kode dari BPOM

Masalah ini tentu harus menjadi perhatian pemerintah seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Lembaga Perlindungan Konsumen (LPK), BPOM, dan lembaga terkait yang berhak memberikan ijin dan pengawasan galon air minum. Semoga hal ini tidak dibiarkan berlarut-larut dan kemudian diiringi dengan adanya pengganti galon berkode PET yang sudah buruk dan berkali-kali dipakai dengan kondisi yang lebih baik sehingga tidak menjadi ancaman kesehatan masyarakat.

Terimakasih, Salam Sehat..
Agus Samsudrajat S

Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2012/06/08/waspada-apakah-galon-air-minum-anda-ber-kode-petpete-468435.html

Singapura Caplok Mabes TNI Angkatan Udara



 Gonjang-ganjing Maskapai Berlogo Kepala Singa 

IndonesianReview.com -- Kalau benar Temasek punya saham terselubung dibalik kepemilikan Lion Air, maka TNI AU wajib menggugatnya. Sayangnya, TNI AU diam seribu bahasa.
Bila tidak, barangkali orang pertama yang menangis adalah Marsekal Muda “Anumerta” Abdul Halim Perdanakusuma, andai pahlawan nasional itu masih hidup. Kemenangan Lion Air atas PT Angkasa Pura II dan Induk Koperasi TNI AU dalam gugatan pengelolaan Bandara Halim Perdanakusuma menjadi bandara internasional yang dioperasikan secara sementara dan komersil untuk mengalihkan sesaknya penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta, sesungguhnya telah mengusik kedaulatan negeri.

Terlebih lagi Lion Air memenangkan perkara itu secara beruntut. Di mulai dari PN Jakarta Timur pada 2010 sampai dengan kasasi di Mahkamah Agung, Oktober 2014. Amar putusan hakim yang memerintahkan pihak TNI AU dan Angkasa Pura II untuk mengosongkan asetnya di Halim Perdanakusma sangat melukai perasaan bangsa jika pihak yang berpesta pora di balik kemenangan ini adalah BUMN Singapura tersebut.

Teramat sulit diterima akal sehat, mengingat bukan saja sebatas nilai-nilai sejarah yang dikandung Markas Komando Operasi Angkatan Udara I TNI AU Halim Perdanakusuma, tapi juga peran dan fungsi letak geografis sekaligus geostrategis markas tersebut.

Sejarah skuadron tempur tertua
Secara historis, Pangkalan Udara Utama (Lanuma) Halim Perdanakusuma bukan saja simbol perjuangan TNI AU. Tapi juga merekam mozaik sejarah pengorbanan jiwa dan harta benda anak bangsa dalam memperkuat AURI di masa kembalinya Belanda menjajah Indonesia pasca 1945.

Ketika semangat para pejuang republik nyaris pupus akibat Agresi Militer I Belanda pada 21 Juli 1947 yang meluluhlantak Jawa, AURI yang baru setahun terbentuk memompa nyali perjuangan itu kembali. Untuk menunjukan kepada dunia bahwa Indonesia belum remuk redam, KSAU Komodor Udara Suryadi Suryadarma memerintah Komodor Halim Perdanakusuma untuk menyusun aksi serangan balik.

Walau hanya dengan tiga pesawat terbang dan jumlah mesiu yang kalah hebat dengan pasukan musuh, misi serangan udara yang dipimpin Halim pada 29 Juli 1947 itu efeknya luar biasa. Serangan balasan itu membuktikan kepada dunia bahwa perjuangan RI sampai titik darah penghabisan, hingga mampu menarik simpatik dunia luar.

Disamping itu, serangan ini juga menjadi pemicu untuk mempercepat konektivitas Pulau Jawa dengan pulau-pulau besar lainnya, mengingat penjajah bisa menginvansi lagi sewaktu-waktu yang menghancurkan sejumlah pangkalan udara RI. Halim Perdanakusuma bertugas menyambung Sumatera dengan Yogyakarta sebagai pusat pemerintahan darurat dengan membentuk AURI wilayah Sumatera yang saat itu berpusat di Bukittinggi.

Di wilayah Timur, ia juga diminta untuk menyusun strategi AURI menembus blokade Belanda melalui Kotawaringin, Kalimantan Tengah, sekaligus membuka stasiun radio induk yang menghubungkan komunikasi langsung Kalimantan-Yogyakarta.  Misi yang berlangsung  pada 17 Oktober 1947 ini tercatat dalam sejarah sebagai Operasi Penerjunan Militer Pertama di Indonesia sekaligus peristiwa yang menandai lahirnya pasukan elit baret jingga, dikenal dengan Korps Pasukan Khas (Korpaskhas) TNI AU.

Di tengah upaya memperkuat AURI itulah sejumlah anak negeri menyumbangkan emas dan harta benda lainnya demi membeli pesawat yang mengganti armada yang telah hancur sebelumnya. Halim Perdanakusuma bertugas menampung sumbangan itu hingga AURI mampu membeli sebuah pesawat Avro Anson VH-BBY dengan harga 12 kg emas murni yang diberi nomor registrasi RI-003.

Menggunakan pesawat yang dibeli dari hasil keringat rakyat itu pula Halim Perdanakusuma bersama Opsir I Udara Iswahyudi mengemban sebuah misi penting penerbangan rute Bangkok-Singapura. Misinya adalah membeli persenjataan dan pesawat lainnya; menjalin dukungan perjuangan RI dengan negara-negara sahabat sekaligus inspeksi Perwakilan RI; serta memasok barang ke Singapura untuk menembus blokade Belanda.
Naasnya, dalam perjalanan lanjutan dari Bangkok ke Singapura itulah pesawat Avro Anson jatuh hancur lebur di Tanjung Hantu Malaka. Penyebabnya masih gelap. Diduga antara akibat terbang rendah untuk menghindari kabut tebal dan adanya sabotase. Tapi yang jelas: peristiwa ini merupakan pukulan berat bagi dunia penerbangan nasional.

Halim Perdanakusuma pergi ketika negeri masih sangat membutuhkan kecakapan dan pengalamannya untuk ditransfer ke AURI. Betapa tidak, ia adalah segelintir putra Indonesia yang menjadi perwira Royal Air Force sekaligus Royal Canadian Air Force pada Perang Dunia II, dan pernah berpangkalan di Colombo.

Dengan pangkat Wing Commander, ia satu-satunya putra Indonesia yang mengantong jam terbang terbilang tinggi dalam mengemban misi navigasi dan pengeboman di wilayah target pada masa perang dunia itu. Setidaknya sudah 44 kali pengeboman yang dilancarkan Halim Perdanakusuma di bumi NAZI Jerman, menggunakan pesawat Liberator dan Lancaster. Sungguh sebuah misi sangar dibalik posturnya yang kurus dan berwajah halus.

Di Indonesia yang masih bayi merah, bayangkan: pria kelahiran Sampang Madura ini adalah salah satu di antara hanya dua orang jumlah navigator yang dimiliki AURI di masa itu. Maka sebagai penghormatan, pada 17 Agustus 1952, nama Pangkalan Udara (Lanud) Cililitan diganti lalu diabadikan dengan namanya sebagaimana yang kita kenal sampai sekarang: Pangkalan Udara Utama (Lanuma) Halim Perdanakusuma.
Di republik ini hanya ada dua wilayah besar Markas Komando Operasi TNI AU. Pertama, Lanuma Halim Perdanakusuma yang membawahi kurang lebih 20 Lanuma dan Lanud Tipe A-C untuk Wilayah I Indonesia Barat. Ia merupakan Skuadron udara tempur tertua dan paling banyak terlibat dalam operasi tempur Indonesia. Kedua, Lanuma Hasanuddin di Makassar yang membawahi sekitar 19 Lanuma dan Lanud Tipe A sampai D untuk Wilayah II Indonesia Timur.

Fungsi vital Halim Perdanakusuma
Secara geografis dan geostrategis, Lanuma Halim Perdanakusuma adalah Mabes TNI AU. Komando Pertahanan Udara Nasional Indonesia (KOHANUDNAS) memang bermarkas di komplek Lanuma satu ini. Termasuk sebagai pusat komando batalyon tempur korps elit baret jingga itu.

Sebagai Mabes, boleh saja ia kalah pamor dengan Lanuma Iswahyudi lantaran Skuadron udara di Madiun itu merupakan markas pesawat-pesawat seri terbaru nan canggih seperti sukhoi SU-27 atau F-16. Tapi kalau muncul serangan mendadak militer asing dan dalam situasi pertempuran, kendali teritorial dan pertahanan udara RI praktis dioperasikan dari Mabes Halim Perdanakusuma. Beberapa Skuadron tempur udara wilayah Barat-Timur Indonesia juga akan kembali ke pangkuannya.

Sebab, invansi militer musuh yang biasanya diawali dengan pengerahan kekuatan tempur udara ke wilayah target, secara otomatis akan ditangkal terlebih dulu  oleh sejumlah Lanuma dan Lanud di wilayah besar Barat dan Timur Indonesia sehingga Jakarta sebagai pusat pemerintahan relatif lebih terkendali.

Kalau datang dari Barat, otomatis dihalau dari pangkalan TNI AU di berbagai provinsi di Sumatera. Terutama oleh Lanuma Roesmin Nurjadin di Riau serta Lanud Tanjungpinang, Lanud Hang Nadim dan Lanud Ranai (Natuna) Kepulauan Riau sebagai wilayah perbatasan laut-udara RI dengan teritori asing. Bila datangnya dari Timur, Lanuma Hasanuddin berpesan besar menangkalnya.

Letak Halim Perdanakusuma di Cililitan Jakarta Timur juga sesungguhnya bertalian erat dengan posisi Markas Kopassus dan Sat 81 Gultor di Cijantung serta Mabes TNI di Cilangkap; sama-sama berjarak dekat di Jakarta Timur. Tujuannya tak lain untuk memudahkan memobilisasi dan sinergis unit-unit tempur di tubuh TNI, terutama dalam mobilisasi serangan balik ke teritori lawan dan pengatur tempo pada pertempuran infanteri yang telah menembus wilayah RI.  

Marsekal Muda (Purn) TNI AU Prayitno Ramelan pernah mengurai strategi infanteri ini kepada merdeka.com. Menurutnya, pasokan penerjunan pasukan penerjun payung dalam perang infanteri paling banyak dari Halim Perdanakusuma selain dari Lanuma Abdul Rachman Saleh di Malang yang memudahkan mobilisasi pasukan penerjun payung. Karena itulah Halim Perdanakusuma menjadi fasilitas utama Batalyon Infanteri Lintas Udara (Brigif  Linud) 328 (masuk dalam Brigif Linud 17/Kujang I) yang bermarkas di Cilodong-Depok dan saling berdekatan dengan pasukan elit baret hijau di Cijantung.

Begitu pula dengan Brigif Linud 18/Trisula yang bermarkas di Jabung Malang, menjadikan Lanuma Abdul Rachman Saleh sebagai fasilitas utamanya. Mobilisasi pasukan terjun payung itu juga sebagai penjelas kenapa dua Lanuma tersebut menjadi pangkalan Hercules, dan keduanya didekatkan dengan bandara penerbangan sipilnya masing-masing.

Tak cuma itu, di masa darurat, Lanuma Halim Perdanakusuma menjadi titik evakuasi Presiden RI dan tamu-tamu negara lainnya. Akses dari Istana menuju Halim lebih cepat ditempuh ketimbang ke Cengkareng dimana jalan menuju Halim sejak awal sengaja tidak diperlebar. Di dalam area bandaranya, tempat naik-turun penumpang juga sengaja tidak stel lebar. Jumlah landasan pacunya dibiarkan hanya satu landasan, yang itupun panjangnya cuma tiga kilometer. Semua itu tidak absen dari strategi, agar mobilisasi titik pengamanan dan manuver pesawat tidak terhambat sedarurat apapun situasinya.

Nasib Halim Perdanakusuma  
Tapi nampaknya kini nilai sejarah TNI AU dan penghormatan terhadap Halim Perdanakusuma bakal hangus. Sistem pertahanan TNI AU juga praktis banyak berubah. Pihak “Temasek” melalui tangan PT Angkasa Transportindo Selaras, anak perusahaan Lion Air, akan merombak Mabes TNI AU ini dengan dana awal Rp 5 trilyun. Dengan dana jumbo ini bandaranya akan disulap seperti lazim di Eropa sebagai kota bandara. Pihak Lion Air akan membangun taxiway dan melengkapinya dengan berbagai fasilitas seperti monorel, under pass dan sebagainya.

Itu semua diintegrasikan dengan kawasan bisnis seperti business center, ruang MICE; lengkap dengan perhotelan di area dalam bandara ini yang luasnya mencapai 21 ha. Pihak Lion Air sudah menggandeng PT Adhi Karya untuk menyulap semua itu. Bahkan menurut Dirut-nya bisa jadi kelak pihak BUMN Konstruksi ini memiliki saham.

Dengan skema bagi hasil 80% PT Angkasa Transportindo Selaras dan 20% Induk Koperasi TNI AU, pihak TNI AU tak berkutik dengan rencana yang telah mulai berjalan sejak 2004 itu. Mabes TNI AU merestuinya melalui Kepala Dinas Penerbangan TNI AU Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto usai pertemuan dengan pihak Lion Air dan Angkasa Pura II sebagaimana disampaikan sang Marsekal, 13/01/2014.

Sampai dengan setelah kemenangan kasasi Lion Air, 16/10/ 2014, pihak TNI AU masih menunjukan sikap serupa. Malah, Korpaskhas TNI AU tanggap bersiaga di landasan pacu Terminal III Bandara Seokarno Hatta, 20/02/2015, untuk mengamankan aksi blokir para penumpang Lion Air yang terlantar akibat keterlambatan maskapai berlogo kepala singa itu.

Kini sebelum semuanya terlambat, tentu rakyat tidak rela membiarkan Singapura mencaploknya. Kalau tidak, gawat sekali urusannya. Tapi bila semuanya terlaksana, yah..selamat tinggal Halim Perdanakusuma!  ***
http://indonesianreview.com/alfi-rahmadi/singapura-caplok-mabes-tni-angkatan-udara#sthash.sckevr02.dpuf