Tampilkan postingan dengan label Sejarah Bima. Tampilkan semua postingan

Desa Nata Salah Satu dari 5 Kampung Simbol Kejayaan Tenun Bima


Foto Alan Malingi.
Pada masa lalu, kaum wanita Mbojo telah mampu memproduksi berbagai jenis kain tenun yang bermutu dan bernilai seni. Bukan hanya untuk kebutuhan masyarakat Mbojo, tetapi juga menjadi barang yang laris di wilayah Nusantara. Semua orang tua bangga, bila putri mereka menjadi penenun yang terampil dan kreatif. Sebaliknya bila putri mereka tidak memiliki ketrampilan di bidang Muna ro Medi, orang tua akan merasa malu kepada masyarakat, karena gagal melaksanakan amanat adat yang mengharuskan semua wanita Mbojo menjadi penenun yang terampil.

Kecintaan masyarakat terhadap bahan sandang hasil Muna ro Medi mulai menurun pada Tahun 1960-an. Para penenun sulit menghasilkan Tembe, Sambolo dan Weri yang bermutu karena kekurangan modal, dalam waktu yang bersamaan bahan sandang dari luar semakin membanjiri pasar di Bima dan Dompu. Dalam situasi seperti itu, generasi muda cenderung mencintai bahan dari luar, ketimbang buatan para ibu sendiri. Inilah gejala awal dari terpuruknya apresiasi masyarakat terhadap Tembe, Sambolo dan Weri Mbojo.
Sebagai kenangan sejarah, inilah pusat-pusat kerajinan tenun di Bima baik yang sudah tidak ada lagi maupun yang masih eksis.

1. Kampung Bara
Terletak disebelah selatan Istana, pada masa kesultanan Kampo Bara termasuk lingkungan Istana. Pada saat sekarang merupakan Kampo (Kampung) wilayah Kelurahan Paruga Kecamatan Rasane Barat Kota Bima.Para pengrajin Muna ro Medi Kampo Bara, merupakan pengrajin yang bertugas memintal dan menenun kebutuhan keluarga Istana. Selain memiliki ketrampilan mereka juga harus mampu menjaga dan memelihara keaslian warna dan motif tenunan Mbojo. Mereka juga ditugaskan untuk membimbing para penenun dari desa-desa diluar lingkungan Istana, terutama mengenai ragam jenis dan makna motif tenunan Mbojo. Mulai tahun 1950-an, seiring berakhirnya masa kesultanan, peran Kampo Bara sebagai pusat kerajinan Muna ro Medi Istana sudah tidak terlihat lagi.

2. Rabadompu, Kumbe Dan Sabali
Pada masa kini Rabadompu sudah berstatus sebagai salah satu kelurahan di wilayah Kecamatan Raba Kota Bima. Pada mulanya para penenun Rabadompu selalu mendapat bimbingan dari para penenun Istana yang berpusat di Kampo Bara. Kerajinan menenun yang berpusat di Rabadompu, akhirnya berkembang di desa sekitarnya yaitu di desa Kumbe dan Sabali Kecamatan Rasanae Timur dan desa-desa di timur kota Bima. Sampai sekarang tiga desa itu masih menjadi pusat kerajinan Muna ro Medi yang produktif.

3. Ntobo
Ntobo berada di utara Kota Bima. Sejak dulu terkenal sebagai pusat pengrajin tenunan yang menenun Sambolo dan Weri. Pada masa lalu Weri dan sambolo untuk kebutuhan lingkungan Istana didatangkan dari Ntobo.

4. Nata
Desa Nata berada di wilayah Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima. Sejak masa kesultanan Desa Nata terkenal sebagai pusat produksi Tembe. Pada masa lalu para penenun selalu mendapat bimbingan dari para penenun Istana di Kampo Bara. Sampai sekarang warna dan motif tembe tenunan mereka selalu mengikuti warna dan motif Kampo Bara.

5. Renda.
Desa Renda adalah salah satu desa di Kecamatan Belo Kabupaten Bima. Merupakan desa yang sampai sekarang sangat produktif menenun berbagai jenis tenunan terutama Tembe dengan warna dan motif khas mereka. Sebenarnya ragam motif tenun Renda sama dengan motif-motif asli Mbojo. Pada umumnya mereka gemar memakai motif geometri seperti jajaran genjang dan segitiga. Dipadukan dengan Bunga Samobo (Bunga Sekuntum) dan Bunga Kakando (Rebung). Dana atau warna dasarnya pada umumnya hitam, hijau, biru, coklat sama dengan warna dasar asli Mbojo yang diberi warna yang ekstrim atau mencolok yang dalam bahasa Mbojo “Tambaha”.
  Sumber Akun Facebook Alan Malingi : https://www.facebook.com/alan.malingi/posts/10201158901570166
 

7 Daya Tarik Tambora


Bersama Tim Natgeo Indonesia Di Savana Tambora.

 Tambora di pulau Sumbawa menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini. Gunung api yang meletus pada tahun 1815 itu mempengaruhi kehidupan dunia. Abunya sampai di negeri Amerika dan Eropa. Musim dingin berkempanjangan selama satu tahun pasca letusan menyebabkan kematian dan  kegagalan panen. Manusia banyak yang kelaparan dan meninggal dunia. Itulah masa yang paling sulit bagi dunia. Setelah semuanya diteliti, ternyata efek dari semua itu adalah meletusnya Gunung Tambora. Menurut para ahli, ketinggian gunung Tambora sebelum meletus adalah 4300 di atas permukaan laut. Namun setelah meletus menjadi 2885 meter di atas permukaan laut. 

Ada dua kerajaan yang tertimbun letusan Tambora kala itu. Kerajaan Tambora di sebelah barat dan kerajaan Pekat di sebelah selatan. Kerajaan Sanggar, Dompu dan Bima tidak tertimbun. Tapi mengalami kesulitan hidup akibat muntahan batu, pasir dan debu gunung Tambora. Banyak manusia yang mati kala itu, baik yang tertimbun abu gunung Tambora maupun mati karena sakit dan kelaparan. Tidak ada matahari, tidak ada bahan makanan. Itulah kesulitan hidup manusia kala itu. Puluhan tahun kehidupan itu baru bisa pulih.   
 
Mengunjungi Bekas Kompleks Kerajaan Sanggar Di Boro
Banyak cerita orang tentang letusan gunung Tambora. Kata Tambora terdiri dari dua huruf yaitu Ta dan Mbora. Ta berarti mari. Mbora berarti menghilang. Jadi Tambora berarti mari kita menghilang. Dalam satu cerita dari seorang yang bernama Khatib Lukman, ada seorang ulama yang datang dari Bengkulu. Dilihatnya anjing yang ada di dalam masjid, lalu dia mengusir anjing itu. Anjing itu rupanya milik Raja Tambora yang bernama Raja Gafur. Marahlah Raja Gafur. Maka diundanglah ulama itu dalam sebuah kenduri. Disembelihlah anjing dan dimasak bercampur dengan daging kambing. Disantaplah oleh ulama itu. Setelah kenduri, diberitahulah oleh Raja Gafur bahwa yang dimakannya itu adalah daging anjing yang diusir dan diharamkannya itu. Tapi ulama itu tidak percaya. Lalu terdengarlah gonggongan anjing dari dalam perutnya. Marah dan malulah ulama itu. Kala subuh berdoalah ulama itu di tepi pantai di selatan gunung Tambora. Dia memohon kepada  tuhan azab untuk Raja Tambora dan seluruh rakyatnya. Setelah itu meletuslah Gunung Tambora. Tenggelamlah kerajaan Tambora dan Pekat tertimbun tanah dan batu gunung Tambora.
Semenanjung Sanggar.
Saat ini sudah dua ratus tahun letusan gunung Tambora berlalu. Tanah Tambora, Pekat dan Sanggar sudah kembali ramai. Sudah banyak orang yang mendiami. Sudah banyak tanaman dan perkebunan yang dikerjakan. Banyak orang yang datang dari Bali, Lombok karena gagasan pemerintah untuk pembangunan program Transmigrasi. Orang Bali, Lombok, Dompu dan Bima sudah berbaur. Mereka tinggal di sisi selatan,sisi barat dan sisi  utara lereng Tambora. Ada kampung yang bernama Doro Peti,Doro Ncanga, Pekat,Calabai,Karombo,Nanga Miro,Kadindi, sampai Pancasila yang masuk dalam wilayah kabupaten Dompu. Kampung yang masuk di wilayah Dompu itu adalah di sebelah selatan dan sebagian sebelah barat gunung Tambora. Kampung yang masuk di wilayah Kabupaten Bima yaitu di sebelah barat Labuan Kananga, Kawinda Na’e sampai di sebelah utara yaitu Kawinda To’i, Sori Panihi, Sori Katupa, sampai di timur Oi Saro kecamatan Sanggar. 
Tampak Pulau Moyo Dari Beranti.
Saat ini tanah Tambora semakin ramai dengan adanya peringatan dua ratus tahun meletusnya Gunung Tambora. Ada yang pergi jalan-jalan. Ada yang juga datang meneliti dan menulis apa saja yang terjadi dan yang ada di sekitar gunung Tambora. Apa saja sih yang dilihat dan dikunjungi di Tambora ?
            Jika star dari Kota Bima akan memakan waktu sekitar 6 jam menuju Tambora. Ada dua jalur ke Tambora yaitu melalu jalur selatan lewat Kempo Dompu dan di lingkar utara melalu Kore. Tetapi ruas jalan di lingkar utara banyak yang rusak butuh waktu delapan jam menuju Tambora lewat rute ini. Melewati lingkar selatan, jalannya cukup bagus dan mulus. Butuh waktu lima jam perjalanan menuju Tambora. Jalan di lingkar selatan maupun utara sama-sama indahnya. Ini  7 tempat menarik  untuk bertamasya ke Tambora atau ingin bebelanja di pasar Senin atau pasar Minggu atau mau mendaki gunung Tambora. 
Mata Air Hodo  dan Tampuro
            
Pantai Hodo Dompu.
 Jika melewati lingkar selatan, anda akan melihat Mata air Hodo. Tempat peristirahatan bagi orang-orang yang pulang dan pergi dari Tambora. Mata air ini keluar dan mengalir sepanjang tahun. Tapi sekarang debit airnya berkurang akibat penebangan pohon-pohon di sekitar hutan di kawasan ini. Disini tempat orang makan-makan. Di sini juga tempat orang shalat karena ada mushalla di pinggir laut ini. Semilir angin dengan mata air yang meletup keluar sungguh tempat yang indah untuk melepas penat. Begitu juga di lingkar utara, ada mata air Tampuro. Tampuro terletak di desa Oi Saro kecamatan Sanggar Kabupaten Bima. Kedua mata air ini  sama saja jernih dan bersih.
Padang Savana Tambora
   
Suasana Senja di Padang Savana Tambora
        
 Di sebelah barat mata air Hodo, terdapat padang savanna yang sangat luas. Sejauh mata memandang
di sebelah utara hamparan padang menghijau dengan sapi dan kuda yang merumput.Gunung Tambora perkasa sangat indah dipandang. Di sisi selatan mata terbuai birunya teluk Saleh. Padang savanna ini kita temui sepanjang perjalanan dari Doro Ncanga menuju Doro Peti. Tempat ini sangat cocok untuk foto-foto bersama teman dan keluarga. Di senja hari ribuan sapi dan kuda merumput.Bunyi lonceng di lehernya seperti sebuah simponi music padang ilalang. Bunyinya nyaring dan berirama. Menjelang magrib para gembala menuju savanna menggiring gembalaannya untuk istirahat. Ada yang digiring ke kandang, ada juga yang diarahkan ke pinggir savanna dan dilepas begitu saja. Tapi aman, karena tidak ada yang mencuri ternak di kawasan ini.
Sori Marai Dan Sori Panihi
 
Sungai Sori Marai Yang Mengalir Sepanjang Tahun
         
 Di sisi utara gunung Tambora ada sebuah sungai yang lebar dan sangat bagus untuk mandi. Namanya Sori Marai. Air sungai ini mengalir sepanjang tahun. Tidak pernah kering. Airnya yang bersih dan jernih menjadi tempat persinggahan bagi orang-orang yang ke Tambora. Di desa Sori Panihi, ada sebuah air terjun yaitu air terjun Sori Panihi. Tempatnya memang agak jauh dari jalur jalan utama yang ke Tambora. Ada sekitar 5 KM lagi masuk ke jalur khusus di sebelah timur. Banyak orang yang berkunjung ke Sori Panihi. Tetapi jalannya masih rusak. Air Terjun Sori Panihi berada di kaki utara gunung Tambora.
Sisa Kerajaan Tambora
Rumah Atas, tempat penyimpanan hasil temuan Situs Tambora.
Di desa Oi Bura. tepatnya di rumah atas di tengah kebun kopi Tambora, ada sisa peninggalan kerajaan Tambora. Di tempat ini ada temuan sisa peninggalan kerajaan Tambora yang digali oleh Tim Arkeologi Nasional dan Tim Arkeologi Denpasar. Ada lumpang yang terbakar, sisa padi, sisa bambu yang terbakar, mangkuk dan tempat meramu obat, bajak, sisa bedek yang terbakar, guci, tempat peludahan dan masih banyak lagi yang lainnya. Rumah atas di kompleks perkebunan kopi adalah peninggalan Belanda yang dibangun pada tahun 1930. Kenun kopi tersebut sudah ada sejak zaman Belanda. Kemudian dilanjutkan oleh Sultan Bima membuka perkebunan kopi seluas 500 hektar yang tersebar di sisi barat dan sisi utara gunung Tambora. Suasananya cukup sejuk. Sangat cocok untuk minum kopi. Bisa untuk tempat menginap. Ada juga penginapan untuk disewakan. “ Penemuan tulang manusia itu adalah pada waktu penggalian untuk jalan oleh PT.Vener.” Kata Suparno juru pelihara situs Tambora. Katanya ada keris dan bajak yang ditemukan waktu itu. Namun keris itu ada di Bali dan Bajak ada di candi Borobudur.
Labuan Beranti, Kima Dan Pulau Satonda
         
 
Pulau Satonda di senja hari.
Tiga tempat ini berdekatan.Ada di desa Nanga Miro kecamatan Pekat Kabupaten Dompu. Tempat ini sangat cocok  untuk bertamasya. Pasirnya yang putih, banyak perahu-perahu nelayan yang bersandar dan mencari ikan, dan dapat melihat pulau Moyo di sisi barat. Di sebelah utara Beranti, ada bukit dan hamparan pasir putih, namanya so Fanda. Di bukit ini banyak terdapat keong raksasa atau Kima. Kima itu besar-besar. Menurut ahli, kima itu terjadi karena proses alam jutaan tahun yang lalu. Tapi sayang, kima-kima itu sudah banyak yang diambil orang terutama yang besar-besar seperti meja. Memandang ke utara kita akan melihat pulau Satonda. Hanya butuh waktu sekitar tiga puluh menit menuju pulau Satonda. Di tengah pulau itu ada danau Moti To’i namanya. Airnya sangat asin. Menurut ahli, asinnya air danau itu akibat luapan air laut yang masuk ke pulau saat letusan gunung Tambora.
          Satonda sangat indah. Pulau ini adalah tempat pertemuan Sang Bima dengan Puteri Tasi Sari Naga yang melahirkan keturunan Raja-Raja Bima. Saat ini pulau Satonda banyak disinggahi kapal-kapal pesiar dari Bali,Lombok, Moyo yang melanjutkan perjalanan ke pulau Komodo dan Manggarai. Setiap hari orang bule ke pulau Satonda.  Mereka memang datang mandi di pulau Satonda. Tempat ini sangat cocok untuk dikunjungi Sabtu dan Minggu.
Pasar Senin Dan Pasar Minggu
Pasar Minggu yang hanya ramai pada hari minggu.
 Di Kadindi dan Calabai ada pasar senin. Kemudian di Calabai ada yang namanya Pasar Minggu.Jika ke Tambora pada hari-hari itu maka kita akan bertemu dengan pasar Senin dan Pasar Minggu. Apalagi dari pagi hingga siang hari cukup ramai. Pasar senin hanya ada pada hari senin dari pagi hingga siang hari waktu zuhur. Pasar minggu adanya hanya pada hari minggu dari pagi hingga siang hari. Penjual dan pembeli datang dari Mbojo,Dompu,sampai pulau Moyo di sebelah barat Tambora. Mulai hari sabtu,perahu dari pulau Moyo berdatangan membawa pisang, buah-buahan, beras, ayam, sapi,kambing, ikan dan berbagai hasil bumi yang akan dijual. Begitu juga yang datang dari Mbojo membawa barang untuk dijual. Tradisi ini sudah ada sebelum letusan gunung Tambora. Pembauran antara warga Bali,Lombok, Moyo, Dompu, Mbojo sudah terjalin lama dan bahkan ada yang ketemu jodoh di tempat itu meski pertemuan hanya sekali seminggu. Mari kita berbelanja di pasar Minggu dan Pasar Senin di Tambora.
Mendaki Kaldera Tambora  
          
Pendaki dari Natgeo Indoensia di puncak Tambora.
  Bagi yang ingin mendaki gunung Tambora, ada empat jalur pendakian. Yaitu di doro peti,doro ncanga, pancasila dan Kawinda To’i di sebelah utara. Tetapi tempat pendakian yang banyak dilakukan adalah melalui Doro Peti dan Pancasila. Jalur Pancasila yang paling mudah dan dekat untuk pendakian. Jika memulai dari Pancasila menuju pos I setinggi 1200 Meter Di atas permukaan laut akan memakan waktu 3,5 jam. Berlanjut ke Pos II setinggi 1280 Meter di atas permukaan laut akan memakan waktu sekitar 2 jam. Kemudian menuju pos III setinggi 1600 Meter di atas permukaan laut. Berjalan sampai pos III akan memakan waktu 2,5 jam. Setelah itu beristirahat di pos III menuju pod IV yang memakan waktu sekitar 1,5 jam. Setelah itu menuju pos V memakan waktu sekitar 2 jam.Mencapai puncak Tambora dengan ketinggian 2851 Meter Di atas permukaan laut membutuhkan waktu sekitar 3,5 jam. Jadi mendaki gunung Tambora membutuhkan waktu sekitar 15 jam. Dengan istirahat dan tidur pada malam hari memakan waktu selama  dua hari. Jika star di pagi hari maka bermalam di pos III atau Pos IV. Menjelang subuh baru mendaki ke puncaknya. Kalau orang asing hanya menempuh sehari semalam. Karena mereka tidak istirahat.Di puncak Tambora kita akan dapat melihat semua seperti gunung Rinjani, pulau Moyo, Pulau Moyo, Laut Flores dan seluruh kampung di Bima dan Dompu. Luas kaldera Tambora sekitar 7 KM dan kedalaman 1 KM. Di tengahnya ada gunung api kecil yang masih aktif dan masih mengeluarkan asap yaitu Doro Afi To’i.
Banyak orang yang jalan-jalan ke Tambora. Airnya yang bersih dan jernih, angin yang membawa kesejukan,kampung yang indah-indah. Lautnya yang bersih. Yuk Kita Ke Tambora…! 
 
Sumber : http://alan-malingi.blogspot.com

Di Balik Ungkapan “Kalemboade” (Ungkapan Bahasa Bima-NTB)


Sudahkan Anda ke Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB)? Kalau sudah, pasti mendengar ungkapan “kalemboade”.Pasalnya, ungkapan kalemboade ini, sudah menjadi bagian dari keseharian warga Bima.Tetapi kalau belum, catatan berikut ini, barangkali bisa dijadikan info segar, hehehe…OK,

Dalam pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia, tidak sedikit sumbangan kata - kata dan ungkapan bahasa dari bahasa asalnya yakni bahasa Melayu (BM) , kemudian ditambah dengan kata- kata dan ungkapan bahasa Daerah (BD), dan bahasa Asing (BA) seperti bahasa Arab (BA), bahasa Inggris (Bing), bahasa Belanda (BB), bahasa Portogis, dan lain – lain sekedar contoh. 

Bahasa Bima (BB) yang merupakan salah satu bahasa daerah di Indonesia juga mempunyai ungkapan yang barangkali dapat diangkat ke permukaan. Salah satu ungkapan dari bahasa Bima (BB) adalah kalemboade yang frekuensi penggunaannya oleh pemakai bahasa Bima (BB) sangat tinggi, bahkan di daerah tetangganya, ungkapan kalemboade sangat dominan dimanfaatkan. Sayang bagi mereka yang di luar Bima, menafsirkan makna idiom/ungkapan kalemboade tidak lebih dari “bersabar” saja.

Mengingat pemahaman frekuensi penggunaan makna tersebut t, penulis mencoba melakukan penelitian sederhana . Hasilnya, makna kalemboade, ternyata beragam.Keragaman itu terjadi, setelah ungkapan kalemboade itu dikontekskan. Untuk lebih jelasnya, berikut ini dideskripsikan hasilnya. 

Dalam kehidupan sehari – hari, pemakaian bahasa oleh pengguna bahasa tidak terlepas dari situasi berbahasa.Maksudnya, demikian Tarigan dalam bukunya berjudul Pendidikan Bahasa Indonesia (1992: 551), adalah perkataan yang kita ucapkan harus dapat menyampaikan gagasan yang akan kita ungkapkan. Kadang – kadang pengungkapan itu tidak secara langsung, melainkan dengan menggunakan bahasa – bahasa kias sehingga unsur bahasa yang terdapat dalam rangkaian kalimat itu tidak lagi ditafsirkan dengan makna unsur – unsur yang membentuk kalimat itu. Di sini, baik pembicara atau penyampai pesan ( = komunikator) maupun penerima pesan atau pendengar ( = komunikan), harus mampu menggunakan sekaligus menafsirkan diksi ( = pilihan kata) yang terdapat dalam kalimat.

Selanjutnya, Tarigan menjelas, penggunaan bahasa yang demikian itu adalah pemakaian kata – kata dalam: idiom, peribahasa, pemeo, atau majas. Idiom sering disebut juga ungkapan. Menurut Harimurti Kridalaksana (1980) yang dikutip Tarigan, menjelaskan: (1) idiom adalah konstruksi unsur – unsur yang saling memilih, masing – masing anggota mempunyai makna yang ada hanya karena bersama yang lain. Contoh: sejalan dengan dalam kalimat: Sejalan dengan pemikiran Anda, saya berkesimpulan bahwa yang mencuri adalah tukang kebun di sebelah. (2) Idiom adalah konstruksi yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna anggota- anggotanya. Contoh kambing hitam, dalam kalimat: Dalam peristiwa itu, HANSIP menjadi kambing hitam.

Berdasarkan unsur – unsur pembentuknya, idiom dapat berupa: (1) idiom yang terdiri dari bagian tubuh, misalnya: berat hati = kurang suka melakukan; jatuh hati = terkena asmara, cinta. (2) idiom yang terdiri dari kata indera. Contoh : kritik pedas =teguran yang keras; mandi basah = berbulan madu. (3) idiom yang terdiri dari nama warna. Contoh: lampu hijau = mendapat izin; jago merah = api; dan lain – lain.

Ungkapan seperti tersebut di atas, terdapat juga dalam Nggahi Mbojo atau Bahasa Bima (NB/BB). Salah satu dari sekian ungkapan itu, yang disajikan penulis kali ini adalah ungkapan kalemboade. Ungkapan ini sengaja diangkat bukan tanpa alasan. Kalau dicermati dengan njelimet, maka ungkapan kalemboade, sangat akrab digunakan pengguna Nggahi Mbojo atau Bahasa Bima(NM/BB)). Bagaimana tidak? Dalam berkomunikasi, warga Dou Mbojo, selalu mengungkapkan ungkapan tersebut, boleh dikatakan sebagai proses awal berkomunikasi, iya setiap awal pembicaraan selalu dimulai dengan kalemboade.

***Ungkapan (Idiom) Kalemboade***
Seperti dalam Bahasa Indonesia, ungkapan sering terbentuk dari berbagai unsur. Bahasa Bima pun demikian, katakana saja , idiom atau ungkapan yang terbentuk dari unsur bagaian tubuh manusia, misalnya: jatuh hati (Bahasa Indonesia) sedangkan dalam Bahasa Bima, kata jatuh hati itu adalah mabu ade; buah hati (Bahasa Indonesia) sedangkan dalam Bahasa Bimanya adalah : do’u ne’e; dan masih ada lagi contoh lain seperti ungkapan dari unsur indera: mandi basah (Bahasa Indonesia) sedangkan bahasa Bima : deu raso.

Bagaimana ungkapan kalembode itu sendiri ? Entah sejak kapan, ungkapan kalemboade digunakan masyarakat Mbojo (Bima), kurang tahu, penulis. Tapi yang jelas, ungkapan kalemboade selalu mewarnai kegiatan alur berkomunikasi dalam keseharian warga Dou Mbojo (orang Bima). Frekuensi penggunaannya pun , boleh dikatakan, tiada hari tanpa ada ungkapan kalemboade , bahkan tiada jam tanpa ada kalemboade.

Sekedar contoh, ketika kita makan makanan yang amat lengkap : empat sehat lima sempurna sekalipun, penyuguh makanan selalu mengawali kegiatan makan, dengan mengatakan, “Kalemboade makan apa adanya”(= kalemboade ngaha wati tantu nde atau ngaha be ma wara) . Di sini, maknanya adalah merendahkan diri (litotes).

Iya, apalagi kalau makanan yang disuguhkan misalnya kurang memenuhi menu yang diharapkan, ungkapan kalemboade malah diulang-ulang diungkapkan. (1) “Kalemboade, ngaha hangga sa toi”(= makanan tersedia hanya sedikit). (2) Kalemboade, kalemboade ngaha be ma wara! Atau kalemboade, mboto kangampu ta, wati tantu ngaha re be poda ma wara. Artinya, banyak maaf karena makanan itu, apa adanya). Makna yang dikandung dalam dua kalimat di atas, berarti : memohon maaf, karena mungkin tidak kena salera.

Nah, kalemboade itu sendiri, apa sih artinya? Secara sederhana, dapat dikatakan maknanya: bersabar. Itu dipahami karena ungkapan itu terbentuk dari kata kalembo = sabar; ade = hati. Jadi, kalemboade artinya bersabar yang bermula dari keikhlasan hati –nurani . Namun demikian, dalam penerapannya oleh pengguna nggahi Mbojo ( bahasa Bima) justeru ungkapan kalemboade mengandung banyak makna. Artinya, pemanfaatan ungkapan kalemboade bergantung pada situasi dan kondisi pengguna bahasa. Benar kata ahli bahasa, kata atau ungkapan belum punya arti, jika belum dikontekskan. Artinya, kata atau ungkapan yang digunakan pemakai bahasa baru mempunyai artinya jika dirangkaikan dalam bentuk kalimat atau dirangkaikan dalam bentuk wacana.

Setelah diadakan penelitian sederhana, penulis menemukan sekian makna ungkapan kalemboade itu. Dan ternyata, tafsiran kita terhadap ungkapan kalemboade, memang beragam maknanya. Untuk tidak sekedar diperbincangkan, berikut ini, disajikan hasilnya, antara lain, sebagai berikut:

Pertama, kalemboade bermakna: tidak mudah putus-asa. Ketika kita mengalami kesulitan, seperti kekurangan uang untuk membayar SPP, orang dekat dengan kita selalu menggunakan ungkapan,” Kalemboade ari e, kata orang bijak, sabar akan menjadi subur”. Atau kalau seorang teman tertimpa musibah kematian, orang dekat dengannya selalu berungkapan, kalemboade setiap orang pasti mati. Dalam nggahi Mbojo: “Kalemboade,ari e, aina ipi nangi, ndai ta manusia ke di ma made ntene” = “Tidak usah putus asa ( menangis) adik, karena kita manusia ini, semuanya mati!”

Kedua, kalemboade bermakna: tidak tergesa-gesa. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak di antara kita dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan dengan cepat selesai. Rasanya, kita tidak mau menyelesaikan sesuatu dengan sedikit demi sedikit. Iya, akibatnya, hasilnya kurang memuaskan. Kepada orang yang berkerja dengan tergesa – gesa itu, disarankan oleh orang lain dengan ungkapan, “Kalemboade teman, kita tidak bisa menanrgetkan suatu pekerjaan dalam tempo yang singkat”. Di sini artinya, jangan tergesa dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan.
NggahiMojo,”Kalemboade lenga e, ai na ipi hura-hara krawi e, nari – nari mpa!”Artinya, Jangan terlalu terburu – buru (hura – hara) teman, pelan – pelan saja !”

Ketiga, kalemboade bermakna : teliti dan tekun.Dalam hal belajar misalnya, kita disarankan agar selalu memperhatikan dan memahami sepenuhnya tentang apa yang kita pelajari. Belajar tidak setengah – setengah, atau sepotong – sepotong. Belajar harus sepenuh hati. Oleh karena itu, biasanya orang dekat kita mengatakan,” Kalemboade ari belajar itu butuh kerja ekstra keras. Dalam nggahi Mbojo,”Kalemboade ari e, tanao ka poda ade. Artinya, belajar lebih giat lagi!

Keempat, kalemboade bermakna jengkel atau marah.Ketika kita menagih utang kepada teman, kemudian teman kita selalu menunda – nunda pembayarannya, maka terkadang kesabaran kita ada batasnya. Maka tanpa disadari emosional kita meledak dalam seketika. Kalemboade ya, sambil menunjuk –tunjuk jemari kita di depan mata seseorang. Dalam nggahi Mbojo,”Kalemboade , cina e, ndaim k e ke susah podaku, nahu ke, nggee nggongga nahu ke senai – naiku! Artinya, Banyak maaf teman, setiap hari saya datang, hanya untuk mendengarkan ocehan kesabaran kamu!”

Kelima, kalemboade bermakna: merendahkan diri. Pada waktu kita menyuguhkan sesuatu kepada teman , katakan saja memberikan hadiah yang mahal harganya, tapi justeru kita mengatakan kalemboade hanya itu yang bisa kita berikan. Jauh dari lubuk hati si penerima mengatakan wah…, sudah bagus apalagi mahal harganya malah dikatakan kalemboade. Di sini dipentingkan adalah untuk merendahkan diri .
Dalam nggahiMbojo, kita temukan ungkapan,”Kalemboade, ake mpa ma wara!” Artinya, Banyak maaf, ini saja yang ada dari kami!”

Keenam, kalemboade bermakna: mohon maaf. Dalam keseharian, kita terkadang terlambat datang pada suatu pertemuan. Oleh karena itu, kita selalu meminta maaf atas keterlambatan kita. Dalam nggahi Mbojo, biasanya diungkapkan demikian,” Kalemboade, mada wara sengiri ke “, = Banyak maaf saya agak terlambat.

Ketujuh, kalemboade bermakna: tegur – sapa. Tegur – menegur adalah pola komunikasi yang sangat bermanfaat bagi sesama, begitupun di Bima, tegur – sapa ini digunakan dalam kehidupan sehari - hari. Misalnya, “Kalemboade, ampo ja eda angi Kamana e.Artinya, “Banyak maaf kita ini baru bertemu”.

Menyumbang kata atau istilah serta ungkapan demi pertumbuhan dan perkembangan Bahasa Indonesia adalah sebuah keniscayaan. Bagaimanapun juga, bahasa Indonesia secara historis berasal dari Bahasa Melayu (BM) ditambah dengan Bahasa daerah (BD) serta masukan Bahasa Asing (BA). Nah, Bahasa Bima (BB) merupakan salah satu Bahasa Daerah ( BD) yang berada di negeri ini, mengapa kita tidak berusaha mengangkat beberapa kata atau ungkapan demi kemajuan Bahasa Indonesia? Iya, menjadi tugas kita semua warga Dou Mbojo (orang Mbojo/Bima), baik yang berada di Bima maupun di luar Bima, untuk mencari makna lain di balik ungkapan kata – kata nggahi Mbojo dan salah satunya adalah kalemboade. Penulis yakin, masih banyak makna lain yang perlu diungkapkan dari ungkapan kalemboade.Dan ini merupakan PR untuk warga Dou Mbojo, siapa lagi kalau bukan kita sebagai pemilik ungkapan kalemboade?

*)Sumber: Wawancara bersama: Drs. H. Yusuf HM. Said, Drs.Dahlan, MA ; dan M.Ruslan, SH.M.Si

Usman D. Ganggang

http://bahasa.kompasiana.com


Dari Kamina Hingga Nggusu Waru


Masjid Kamina dibangun di atas bekas masjid aslinya.
Kamina adalah nama sebuah dusun di pegunungan sisi selatan tanah Bima. Dari puncak Kamina atau yang saat ini dikenal dengan Desa Kalodu membentang eksotisme teluk Waworada. Kamina atau Kalodu adalah nama sebuah desa dari kecamatan Langgudu Kabupaten Bima. Desa ini punya sejarah panjang terkait masuknya islam di tanah Bima. Kenapa dinamakan Kamina ? dan apa hubungannya dengan filosofi Nggusu Waru yang menjelma dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat Bima hingga saat ini ? Kita mulai dari Kamina. Di desa ini terdapat sebuah masjid yang diberinama Kamina. Diberi nama Kamina, karena orang-orang di sinilah yang pertama meng-amini Islam yang rahmatan lil alamin. Dalam bahasa Bima Ka berarti yang. Sedangkan Amina adalah yang mengaminkan. Jadi dinamakan Kamina karena orang-orang disinilah yang pertama menerima islam. 

Trap/tangga menuju Masjid Kamina
Masjid kuno ini oleh masyarakat Mbojo (Bima) diberi nama “ Sigi Kalodu atau Sigi Kamina” (Sigi berarti Masjid). Didirkan sekitar tahun 1621 M. Oleh jena Teke La Kai ( setelah memeluk agama Islam bernama Abdul Kahir ), bersama beberapa Mubalig dari Sulawesi Selatan ( Goa, Tallo, Luwu dan Bone ) dan para pengikut Jena Teke Abdul Kahir ( Jena Teke berarti Putera Mahkota ). Sigi Kalodu merupakan masjid kuno tertua di Bima setelah Masjid kuno Kampo NaE ( Kampung NaE ) kecamatan Sape. Masjid ini juga didirikan oleh para mubalig dari Gowa, Tallo, Luwu dan Bone, beberapa tahun sebelum Masjid Kalodu di bangun. Sebelum masjid Kalodu di bangun, Dusun Kalodu merupakan tempat persembunyian Jena Teke La Kai bersama pengikutnya, yang terpaksa meninggalkan Istana karena mau dibunuh oleh pamanya yang bernama Salisi. Dengan bantuan Belanda Salisi berambisi mengambil alih kekuasaan, walau tidak di setujui oleh Lembaga Hadat Dana Mbojo ( Lembaga Pemerintahan Kerajaan ). Pada tahun 1621 M, Jena Teke La Kai bersama pengikut berangkat ke Sape untuk menemui para mubalig dari Sulawesi Selatan yang datang untuk menyiarkan agama Islam serta ingin menyampaikan pesan raja Gowa dan Tallo kepada Raja dan keluarga Istana Bima. Karena itu raja-raja Sulawesi Selatan di Sape, maka pada tanggal 15 Rabi’ul Awal 1030 H ( 7 Februari 1621 ) Jena Teke La Kai bersama pengikutnya memeluk agama Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan para gurunya. Sejak itu nama La Ka’I juga bernama Bumi Jara Mbojo bernama Awaluddin, La Mbilla bernama Jalaluddin, Manuru Bata Putera Raja Dompu Ma Wa’a Tonggo Dese bernama Sirajuddin. Beberapa bulan setelah memeluk agama Islam, Jena Teke Abdul Kahir bersama pengikut didampingin oleh beberapa orang gurunya dari Sulawesi Selatan kembaliu menuju Dusun Kalodu. Setelah berada di Kalodu mereka mendirikan sebuah Masjid, selain sebagai tempat ibadah juga menjadi pusat kegiatan dakwah. Mulai saat itu Dusun Kalodu menjadi pusat penyiaran Islam, selain Kampo Sigi (Kampung Sigi ) di sekitar Desa NaE kecamatan Sape.  
Menyusuri kampung Kamina
Karena bangunan kuno tersebut sudah lama tiada, di telan zaman maka sulit untuk diketahui dengan pasti bagaimana sesungguhnya ( Arsitektur ) Masjid Kalodu menurut Bo Asi ( Bo Istana ) yaitu catatan kuno peninggalan Kesultanan Bima, bentuk Masjiod Kalodu di gambarkan sebagai berikut:
1.      Bangunan masjid berbentuk segi empat sama sisi ( bujur sangkar ) dan tidak memiliki migrab seperti lazimnya sebuah Masjid pada masa berikutnya. Empat sisi yang sama itu merupakan simbol empat orang putera dan keluarga Raja yang memeluk Agama Islam yaitu La kai ( Abdul Kahir ), Bumi Jara Mbojo (Awaluddin ), La Mbilla ( Jalaluddin ) dan Manuru Bata Putera Raja Dompu Ma Wa’a Tonggo Dese ( Sirajuddin ). Selain itu empat buah sisi bangunan merupakan simbol daerah assal para gurunya yaitu Gowa, Tallo, Luwu dan Bone.
2.      Tiang bangunan masjid ada delapan, yang berbentuk nggusu waru (segi delapan) merupakan simbol dari empat orang putera dan keluarga Istana dan empat daerah asal para ulama yang menjadi Guru mereka yaitu Gowa, Tallo, Luwu dan Bone.
3.      Tidak dijelaskan luas bangunan induk dari bangunan masjid tersebut. Mungkin bisa diketahui dari luas bekas bangunan yang sampai sekarang masih dapat di saksikan. Luas bangunan Masjid + 2 Are, belum terhitung luas tempat tinggalnya Jena Teke (Abdul Kahir) bersama pengikut dan anggota masyarakat yang datang untuk belajar agama Islam.
Komunitas JELAJAH memberikan bantuan warga Kamina
Dalam Bo Istana tidak dijelaskan jenis bahan bangunan Masjid, tetapi besar dugaan bahwa bangunan itu dibuat dari kayu, karena kayu marupakan bahan utama dari semua jenis bangunan mereka termasuk rumah tempat tinggal. Dugaan itu semakin kuat, mengingat Dusun Kalodu berada di tengah hutan belantara, yang banyak menyediakan berbagai jenis kayu untuk bahan bangunan. Atap masjid, mungkin dibuat dari “ Arti “ atau “Kandolo” (jenis ilalang) yang banyak tumbuh di daerah dataran tinggi, yang sampai sekarang menjadi bahan atap rumah masyarakat Mbojo (Bima dan Dompu)
Kemungkinan lain atap Masjid dibuat dari bambu yang dibelah dengan ukuran panjang sekitar 30 cm yang oleh masyarakat disebut “Sira” (sirap) yaitu atapnya dibuat dari kayu yang dibelah dengan ketebalan 1 cm dan dipotong berukuran kurang lebih 30 cm karena bahan bangunan dibuat dari kayu maka tidaklah mengherankan apabila bangunan masjid Kuno di kalodu, tidak akan bertahan lama.
Seandainya Masjid Kalodu yang berada di tengah hutan belantara itu tidak ada, maka dapat dibayangkan betapa sulitnya para Juru  Dakwah dan Mubakig datang menyiarkan Agama Islam di Dusun dan Desa yang berada di Kaki gunung terpencil itu dengan kata lain sesungguhnya Masjid Kalodu memiliki keistimewaan yang jarang ditemukan di daerah lain karena di daerah lain semua masjid tertua pada umumnya berada di daerah pesisir bukan di daerah padalaman apalagi daerah perbukitan seperti Dusun Kalodu, sehingga di daerah-daerah tersebut sulit mengislamkan masyarakat pedalaman.(Diadaptasi dari Buku Sejarah Bima Dana Mbojo, H. Abdullah Tayib, BA)
Masjid kamina ini saat ini sudah tidak sesuai aslinya lagi karena tiangnya sudah bertambah. Masjid kamina yang sekarang adalah sudah direnovasi dengan jumlah tiang 24. Renovasi masjid ini dilakukan oleh Bupati Bima H.Ferry Zulkarnain, ST pada tahun 2009 di atas lahan seluas 1,5 Ha. Lokasinya berada di puncak Gunung Kamina desa Kalodu kecamatan Langgudu.
Apa hubungannya dengan NGGUSU WARU ?
Pose bersama di depan Masjid Kamina
Saya memprediksi bahwa asal mula falsafah kepemimpinan Mbojo adalah dari proses pembangunan masjid Kamina ini. Nggusu Waru merupakan filosofi kepemimpinann Dou Mbojo, sebagai perangkat nilai, pikir dan tindak, maka Nggusu Waru menitipkan beberapa nilai kepemimpinan Dou Dompu, dengan beberapa Prinsip yaitu; 1. Mato,a di Ruma la bo Rasul (Beriman) 2. Ma Loa Ra Bade (Cerdas dan Bijak) 3. Ma Mbani Ro Disa (Gagah Berani) 4. Ma Bisa ra Guna (mbawa dan Kharismatik) 5. Ma Tenggor Ra Wale (Kuat dan gigih) 6. Mantiri Nggahi ra ka lampa (Jujur sesuai tutur kata dan perbuatan) 7. Mantiri fiko Ra Paresa (Adil dan seksama) 8. Londo Dou Ma Taho (Keturunan yang baik)
Nggusu Waru atau dasar segi delapan bagunan Masjid Kalodu melambangkan 4 serangkai pejuang berdirinya kesultanan Bima yaitu La Ka’I, Manuru Bata, La Mbila dan Bumi Jara Mbojo dengan empat orang mubaliq yang datang dari Gowa, Bone, Tallo dan Luwu. Jadi delapan orang membentuk satu kekuatan sejarah berdiri dan jayanya Islam di tanah Bima. Kekuatan itu dilambangkan dalam pucuk bangunan yang satu yang terbentuk dari delapan pilar utama. Nah, itulah yang kemudian menjadi filosofi kepemimpinan di tanah Bima.
Pada perkembangan berikutnya, Nggusu Waru tidak hanya menjelma dalam bentuk bangunan, tetapi terus mengalir dalam bentuk seni dan budaya Dou Mbojo serta segala sendi kehidupannya. Kita lihat bangunan Lare-lare Istana Bima, Paruga Nae di seluruh kecamatan, motif tenunan, motif keris dan berbagai produk seni budaya lainnya.
View dari puncak Kamina
Di dusun Kamina hingga saat ini masih terwarisi tradisi NGAJI WARU. Tradisi ini biasa dilakukan sekali sebulan. Dimana delapan orang yang menggambarkan delapan pendiri masjid Kamina duduk bersila di delapan tiang masjid untuk membuka kitab kuno. Kitab suci Alquran yang mereka yakini warisan dari para mubaliq penyiar agama islam di Bima. Lalu mereka melantunkan ayat-ayat suci Alquran di masjid ini. Kitab kuno itu sudah sangat using. Entah kapan kitab itu ditulis dan dibukukan. Walahu alam.
Antara dusun Kamina dengan lahirnya filosofi kepemimpinan NGGUSU WARU seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipishkan. Nggusu Waru memang terlahir sejak lama di Bumi Mbojo, bahkan jauh sebelum islam menyentuh tanah ini. Tapi implementasi sempurna dari nilai-nilai itu hadir bersama 4 Serangkai proklamator berdirinya kesultanan Bima dengan 4 mubaliq penyiar agama islam di tanah Bima.  

Sumber : http://alan-malingi.blogspot.com

Kerajaan yang Terkubur Letusan Tambora


Letusan gunung berapi Tambora tahun 1815 menewaskan 117.000 orang di Asia Tenggara, termasuk yang diyakini terkubur tiga meter di bawah batu dan abu di pemukiman yang baru ditemukan.

Seperti yang dikutip dari Alam Mengembang Jadi Guru, Letusan Gunung Tambora 1815 mengeluarkan material vulkanik hingga 100 kilometer kubik batuan cair dan bubuk dan memuntahkan 400 juta ton gas sulfur setinggi 43 kilometer ke atmosfer. Sebagai perbandingan, letusan Gunung St Helens tahun 1980 di Washington State mengeluarkan 0,5 kilometer kubik lava, letusan Krakatau tahun 1883 Krakatau di Indonesia mengeluarkan 15 kilometer kubik batuan cair; Vesuvius mengeluarkan 6 kilometer kubik lava.



“Tambora jauh lebih besar dari semua itu” kata Sigurdsson. “Ini benar-benar yang letusan terbesar di Bumi dalam sejarah yang tercatat.”

Sebelum meletus, tinggi gunung tambora mencapai sekitar 13.800 kaki (4.200 meter). Saat ini tingginya sekitar 9.200 kaki (2.800 meter) dan memiliki kaldera yang dalamnya 4.100 kaki (1.250 meter).

Gas-gas belerang dimuntahkan ke atmosfer oleh Tambora membentuk tetesan aerosol yang memantulkan sinar matahari sebelum mencapai tanah. Hal ini menyebabkan satu tahun pendinginan global pada tahun 1816 yang sekarang dikenal sebagai tahun tanpa musim panas. Suhu dingin memicu kegagalan panen yang meluas, kekurangan pangan, dan wabah penyakit, mungkin menimbulkan korban tambahan 200.000 orang di seluruh dunia, kata Sigurdsson. “Ada masalah yang luar biasa di Eropa tengah dan di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat,” katanya.

Pada tahun 1980, orang mulai memperhatikan ketika para pekerja dari sebuah perusahaan penebangan komersial mulai melakukan pengerukan dan menemukan fragmen tembikar dan tulang belulang di daerah dekat desa kecil Pancasila di pulau Sumbawa, Indonesia. Penduduk lokal lain mulai menemukan koin, barang kuningan dan kayu hangus di wilayah yang sama, semua terkubur di bawah lapisan tebal endapan vulkanik. Temuan yang tidak jauh dari kaki gunung berapi Tambora, gunung berapi itu, pada bulan April 1815, menghasilkan letusan terbesar dalam sejarah. Bahkan, karena begitu kuatnya, letusan tersebut, efeknya di atmosfer mempengaruhi pola cuaca di seluruh Eropa dan Amerika Utara yang jauh. Dan dalam satu malam saja, menghancurkan sedikitnya satu kerajaan di dekat kakinya.



Bertindak pada penemuan tahun 2004, vulkanologi Haraldur Sigurdsson dari Universitas Rhode Island mulai menyelidiki area hutan dengan menggunakan Ground Penetrating Radar. Dia mengidentifikasi rumah lengkap terkubur di bawah 2-3 meter aliran piroklastik dan endapan. Meskipun seluruhnya hangus, namun bentuknya tetap terlihat dan terawetkan, sehingga memungkinkan untuk membedakan balok dan lantai bambu. Artefak yang ditemukan di dalam struktur termasuk porselen Cina, peralatan besi dan mangkuk tembaga. Dua korban juga ditemukan, satu kerangka lengkap ditemukan dekat perapian di area dapur dan yang kedua, yang sangat rusak parah, teridentifikasi hanya dengan tulang kaki dan tulang belakang, ditemukan di beranda.


Satu korban yang ditemukan selama penggalian tahun 2009. Lengan kirinya melindungi kepalanya mungkin dalam usaha (yang gagal) untuk melindungi dirinya dari kematian. Balok balok rumah terbakar juga terlihat

Penemuan Sigurdsson memicu serangkaian penggalian resmi mulai tahun 2006 dan berlanjut sampai hari ini di bawah arahan Dr M. Geria dari Institut Arkeologi Bali. Apa yang mereka temukan adalah, seperti sisa-sisa Pompeii, struktur rumah yang hangus tapi tetap sangat terawat baik , tubuh manusia, dan banyak perlengkapan hidup di saat-saat terakhir mereka yang “dibekukan” oleh waktu. Pada tahun 2008, ditemukan rumah yang mengandung kerangka pria yang duduk tegak, dihiasi dengan kotak tembakau tembaga terikat pada pinggang dan tombak upacara di sisinya. Dia memakai cincin bertatahkan batu mulia, gelang di pergelangan tangannya, dan bandul kalung kuningan besar di lehernya. Selama musim penggalian 2009, rumah dalam bentuk arang lainnya ditemukan, kali ini dengan tubuh berbaring di luar di bawah reruntuhan vulkanik, dengan lengan kirinya melindungi kepala, mungkin dalam usaha (yang gagal) untuk melindungi dirinya dari guguran abu vulkanik. Pada tahun 2011, sisa-sisa rumah juga telah diidentifikasi.



“Berdasarkan artefak yang ditemukan, terutama benda perunggu dan perhiasan yang banyak adalah bukti yang menunjukkan situs ini pernah dihuni oleh orang kaya atau elit yang telah tumbuh makmur melalui perdagangan” kata Emma Johnston, seorang anggota tim investigasi dan kandidat Ph.D dari Bristol University (Inggris). “Bukti sejarah mendukung teori ini, orang-orang tambora secara historis dikenal di Hindia Timur untuk madu, kuda, pewarna merah dan kayu cendana mereka. Desain dan dekorasi dari artefak menunjukkan bahwa budaya Tamboran dikaitkan dengan Vietnam dan Kamboja.”

Para peneliti utama berharap untuk tidak hanya belajar lebih banyak tentang satu kerajaan yang terkubur ini, yang mereka perkirakan memiliki penduduk sekitar 10.000 orang, tetapi juga tentang kronologi peristiwa dan aktifitas yang menggambarkan rincian tentang bagaimana mereka menemui ajalnya.

Johnston mengatakan:. “Kita tahu dari penggalian dan stratigrafi endapan bahwa rumah-rumah kebanyakan dihuni ketika hujan pumice (batu batu dari gunung), menyebabkan runtuhnya rumah, menjebak dan menewaskan orang-orang yang berada di dalamnya. Bukti yang telah ditemukan hingga kini menunjukkan ini adalah nasib semua korban yang telah diidentifikasi sejauh ini. ”

Tim peneliti akan kembali ke situs ini lagi. “Penggalian sejauh ini hanya menggaruk permukaan”, kata Johnston. “Banyaknya temuan menunjukkan bahwa ada banyak lagi yang masih menunggu untuk ditemukan di situs ini.”
Sebuah artikel rinci tentang letusan dan penggalian serta studi kerajaan yanga hilang di Tambora telah diterbitkan dalam majalah Arkeologi Populer.

Sumber : http://terselubung.in/sejarah/kerajaan-yang-terkubur-letusan-tambora.html

Kejayaan Masa Lalu Maritim Bima Telah Runtuh

Kejayaan Masa Lalu Maritim Bima Telah RuntuhWisatawan melintasi salah satu ruangan yang menyimpan diorama berbagai tokoh penjelajah dunia di Museum Bahari, Jakarta Utara. Dahulu, bangunan ini digunakan sebagai tempat penyimpanan dan pengemasan rempah-rempah oleh VOC. (Yunaidi/National Geographic Traveler)

Memudarnya kejayaan maritim Bima di masa lalu merupakan potret kemunduran tradisi bahari Nusantara.

Antropolog Bernice de Jong Boers (1994) menyebut, Bandar Bima, Nusa Tenggara Barat, pada masa lalu disinggahi kapal dari mancanegara.

Kejayaan Kerajaan Bima di masa lalu (seperti kerajaan-kerajaan lain di Nusantara) ditopang oleh kemampuan memproduksi sumber daya berbasis pertanian dan hasil hutan—serta penguasaan laut sebagai jalur perdagangan.

Adrian B Lapian (2008) menulis, Nusantara pada masa lalu adalah kerajaan-kerajaan kecil terpencar di pulau-pulau, dihubungkan aktivitas ekonomi dan kultural. Sewaktu-waktu, secara politis bergaubung dalam kesatuan lebih besar.

Komunikasi, lalu lintas antarpulau terjadi karena warganya mengembangkan jejaring maritim, didukung teknologi kapal, kemahiran navigasi dan semangat kewirausahaan kuat.

Salah satu armada maritim yang ...Salah satu armada maritim yang dimiliki oleh TNI-AL yang tengah merapat di dermaga di Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau (Ukirsari Manggalani)
 
Dengan dominasi wilayah perairan, siapa pun yang menguasai jalur maritim, dia berkuasa.
Kerajaan Bima adalah penguasa wilayah timur Nusantara abad ke-17 hingga abad ke-19. Kekuatan Bima bertambah setelah bersekutu dengan Kesultanan Gowa di Sulawesi lewat pernikahan. Kekuasaan Bima meliputi bagian timur Pulau Sumbawa dan area barat Flores.

"Inilah bekas bendera angkatan laut Bima," ujar Siti Maryam (87), doktor filologi yang juga putri keenam Sultan Bima terakhir, Muhammad Salahuddin. Maryam menunjuk bendera lusuh, nyaris tanpa warga lagi, yang terpasang di dinding Museum Asi Mbojo, Bima. Didukung armada laut kuat, Bima berkuasa hingga ke Manggarai, Flores.

Kemajuan budaya dan ekonomi berbasis maritim saat itu juga dapat dilihat dari adanya undang-undang Bandar Bima, dalam Bo Kerajaan Bima, yang manuskripnya tersimpan di Museum Samparaja Bima. "Undang-undang itu mengatur soal pertanian, pemerintahan, hingga pelayaran," kata Maryam.
Undang-undang Bandar Bima, seperti halnya undang-undang laut Kesultanan Gowa, Amanna Gappa, memberi acuan para pelayar, misalnya syarat menjadi nakhoda, tata niaga, dan bagi hasil. "Anehnya," ujar Maryam, "Kini negara kita belum punya undang-undang maritim."

Kemunduran tradisi bahari dimulai sejak kedatangan bangsa Barat, terutama Belanda yang menguasai Nusantara hingga 3,5 abad. Pada Bima dan kerajaan lain di Sumbawa, kemunduran itu juga dipengaruhi letusan Tambora pada April 1815. Kerajaan Papekat dan Kerajaan Tambora musnah dikubur letusan gunung itu.

Bima pun kehilangan separuh jumlah warga. Letusan gunung api terbesar di Bumi dalam sejarah manusia modern itu menewaskan sekitar 91.000 orang di Sumbawa, Lombok, Bali.

Belanda memakai momen letusan gunung itu untuk kian menancapkan kekuasaan. "Belanda menyerahkan bekas wilayah Kerajaan Tambora ke Kesultanan Bima. Tetapi, penyerahan wilayah harus ditukar dengan wilayah Bima di Manggarai," jelas Maryam.

Bima yang semula merupakan wilayah kerajaan bahari lintas pulau menjadi kerajaan daratan. Dengan mendesak Bima ke daratan, kapal-kapal Belanda leluasa menguasai jalur pelayaran.

Pada 1857, Kesultanan Bima dipaksa menandatangani perjanjian dan kontrak pengakuan kekuasaan Hindia Belanda. Lalu Belanda menetapkan pajak bea cukai, pajak pelayaran, pajak ekspor, dan pajak penghasilan — menandai akhir kedaulatan Bima.

Kerajaan Bandar Bima tak kembali meski Belanda telah angkat kaki dari Nusantara.
Inilah potret Bandar Bima kini: pelabuhan kecil yang tak lagi melayani kegiatan ekspor-impor, tak memiliki industri pembuatan kapal, kekurangan armada kapal dan pelaut andal.

Jauh dari gambaran kejayaan masa lalu Bandar Bima.

(Ahmad Arif dan Hariadi Saptono, Sumber: Kompas)

http://nationalgeographic.co.id

Gelar & Pangkat Jabatan Kesultanan Bima

 

Nama-nama Gelar dan Pangkat Jabatan dalam sistem pemerintahan Kesultanan Bima :

  • Ama Ka’u, gelar anak lelaki dari bangsawan tinggi, bila ayahnya bangsawan tinggi dan ibunya bangsawan tinggi juga atau setingkat lebih rendah dari ayahnya.; lih. Ina Ka’u.
  • Anangguru, pangkat menengah; dicatat disini para anangguru yang menjadi anggota Majelis Adat, atau kepala satu kelompok masyarakat lain dari satu dari (para anangguru  kepala dari dapat di lihat dalam daftar dari)
  • Anangguru Kapitan, Perwira sepasukan lasykar yang khusus memakai senapan.
  • Anangguru Latunang,  perwira sepasukan lasykar bersenapan; pangkatnya setingkat lebih rendah dari anangguru capital.
  • Anangguru Mangaji, kepala dari mangaji ; ada dua : tua dan sampela, kedua-duanya anggota sara hukum
  • Anangguru Mantero (kepala para matros kapal atau para kelasi perahu).
  • Anangguru Mbodane’e (mengepalai semua Anangguru Mboda)
  • Anangguru Mbodasambicarakai, kepala pesuruh raja bicara .
  • Anangguru Mpa’a, petugas yang mengurus tari-tarian istana (pria dan wanita) terutama yang bernilai klasik
  • Anangguru Robo, kepala dari marbot yang memilihara mesjid kerajaan .
  • Anangguru sape, Anggota anggota sara tua.
  • Anangguru Sumpi, perwira yang memimpin lasykar bersumpit ; ada dua, yakni  AS Bolo dan Mbojo; kedua-duanya anggota sara tua.
  • Anangguru Wera, Perwira lasykar dari wera.
  • Bata Dadi, pengurus sawah sultan
  • Bata Jero, angkat ertukangamn ;bawahan bumi jero.
  • Bata Juru, pesuruh di istana; pembantu syahbandar
  • Bata  Kangonga; pengawal rumah Raja Bicara
  • Bata Nggampo, pengawal dan pesuruh di istana .
  • Bilal mesjid raya  Bima, sebanyak 8 orang, anggota sara hokum
  • Bumi Bajangkara, pengawal istana
  • Bumi Baralau, pengawal istanaberpangkat perwira.
  • Bumi Batambani, pengawal Istana
  • Bumi Cendawa, pejabat bertugas di bidang obat bedil dan masalah percampuran obat , ia termasuk dalam dari Ndora.
  • Bumi cenggu, pejabat yang mewakili  masarakat cenggu dan sekitar di dalam Mjelis Adat .
  • Bumi Jara, Bupati pasukan berkuda ;ada tiga, yakni BJ Bolo, Mbojo, dan Nggampo mereka  adalah  anggota sara – sara.
  • Budi Jara Tolotui, pengurus tanah garapan  di seeebelah barat dan timur teluk bima; ada dua, yakni BJT  bolo (yang mengurus tanah di sebelah barat teluk yaitu wilayah bolo dan donggo ) dan BJT Mbojo (mengurus tanah di timur teluk ,yaitu wilayah Wera, wawo, sape,rasana’e, na’e).
  • Bumi Jero, kepala perrtukangan.
  • Bumi Karombi, kepala pertukangan.
  • Bumi Keli, anggota sara sara; di bawahnya Bumi Ncawu keli bertugas dalam masalah tukang kayu dan mengawasi hutan jati di keli dan sekitarnya (termaksud tololai)
  • Bumi Lawiu, anggota sara tua
  • Bumi Luma, pangkat tinggi dalam majelis adat : ada tiga , yakni BL Rasana’e (ketua sara tua).
  • Bumi Nata, anggota sara sara , mewakili daerah Nata dan sekitarnya.
  • Bumi Ncandi, anggota sara sara, mewakili daerah Ncandi dan sekitarnya.
  • Bumi Ncawu Keli, lih. Bumi Keli.
  • Bumindora, mengurus masalah kesejantaan kerajaan bima,di atas bumi cendawa;anggota sara tua
  • Bumi nggampo, mengurus/menyatukan para anggota sara tua yang tak berwilayah di dalam majelis adat
  • Bumi Nggeko, perwira tertinggi bagi para pengawai istana ;anggota sara tua
  • Bumi Ngeko, perwira yang mengurus kelasyaran kerajaan bima; ada Dua, yakni BN Bolo dan mbojo ;mereka anggota sara tua.
  • Bumi Pabise, pengurus kelasykaran laut serta para kelasi dan matros,di bawah perintah bumi renda ; ada dua , yakni BP bolo dan mbojo; mereka anggota  sara tua.
  • Bumi Pajuri, mengurus para prajurit lasykar; anggota sara tua.
  • Bumi Pareka, pembantu bumi rendah dalam mengurus dan mengatur lasykar; ada Dua, yakni BP Bolo dan Mbojo; anggota sara tua.
  • Bumi Parise, penjabat rendah yang mengurus  permainan parise,yaitu permainan ketangkasan dari orang-orang manggarai yang sudah di bebaskan dan biberi tanah pertanian dan kampungf di buncu[kejenelian sape].
  • Bumi Parisi, penjabat tinggi rendah yang bertugas sebagai sekretaris dan juru bicara kerajaan, sebagai bawahan raja bicara; ada tiga Bolo, Mbojo dan Kae; BP Kae jarang di angkat, dan selalu di perbantukan pada bumi parise yang lain, atau bertindak sebagai juru bahasa di pelabuhan; BP Bolo dan Mbojo itulah yang di sebut dalam bo’ sebagai juru tulis bicarakai;mereka pada umumnya berasal dari keturunan melayu {dari paranaka} dan menjadi sara tua.
  • Bumi partiga, petugas di istana; anggota sara tua.
  • Bumi Punti, petugas di istana; anggota sara tua.
  • Bumi Renda, pimpinan tertinggi lasykar kerajaan merangkap jaksa;anggota sara tua.
  • Bumi Roka, anggota sara tua.
  • Bumi Rompo, anggota sara tua;mewakilin masyarakat rompo dan sekitarnya.
  • Bumi sakuru, pangkat pertukangan kayu;anggota sara tua.
  • Bumi sambanta, anggota sara tua.
  • Bumi Sampoi, pimpinan kelompok gendang dan silu kerajaan;dibantu oleh jena sampoi.
  • Bumi Sari, ada, yakni BS mbojo,ntonggu dan sape;mereka adalah anggota sara tua.
  • Bumi Silu, permain silu kerajaan; ada dua,yakni  BS bolo dan mbojo; mereka dibantu oleh dua peringkat adat lagi, yaitu jena silu mbojo dan jena silu bolo.
  • Bumi Tente, pangkat menengah;anggota sara tua.
  • Bumi Tingincai, pangkat rendah di bawah bumi rendah,bertugas mencanangkan berita-berita darurat{menjaga kebakaran,kebanjiran dan bahaya-bahaya lain];juga dengan anak buahnya menjadi algojo.
  • Bumi tonggorisa, pangkat menengah;anggota sara  tua.
  • Bumi waworada,pangkat menengah;anggota sara tua.
  • Cepeweki, pangkat rendah yang bertugas mengawai  tanah pada suatu area.
  • Imam, anggota sara hukum.
  • Ina ka’u, gelar anak perempuan dari bangsawan tinggi,yang terlahir dari ayah bangsawan tinggi dari ibu sederajat atau setidak-setidaknya bangasawan menengah;lih ama ka’u.
  • Ince, nama panggilan [bukan gelar] dari orang keturunan melayu {mly;encik].
  • Jena, pangkat rendah; setiap jena berada di bawah perintah seorang bumi.
  • Jena Jara Otuteru, bintara pasukan berkuda;tugasnya membuat tempat makanan kuda;waktu luangnya bertugas  menjaga  istana.
  • Jena Luma, pembantubumi luma dan kepala dari sajena luma;ada Dua; yakni Jl Bolo dan mbojo; mereka anggota sara tua.
  • Jena Mone Na’e, kepala dari sejumlah nenti mone{pengawai istana};anggota sara tua.
  • Jena Sampoi, pembatu bumi sampoi,anggota rombongan music istana.
  • Jena Silu, pembantu bumi silu;kedua jena silu yang tertinggi ,yakni  js bolo dan mbojo,membawahi  jena silu yang lain,yang banyak jumlahnya.
  • Jena Sumpi, bawahan bumi sumpi  dalam kesatuan kelasykaran kerajaan{suba}.
  • Jena Teke, sultan muda.
  • Jeneli, salah satu pangkat tertinggi dalam pemerintahan  bima;masing-masing  jenelis bertugas memerintah satu wilayah atau Kejenelian [yang di sebut dalam nama pangkatnya]; pada asalnya ada sepuluh jeneli,yakni jeneli  Belo, Bolo, Donggo, Monta, Parado, Rasana’e, Sape, Wawo, Wera dan Woha; satu kejenelian baru,yaitu jeneli kare,tercipta setelah kerajaan sanggar bergabung dengan bima pada tahun  1928.
  • Kadi[Qadli], pimpinan sara hokum.
  • Khatib, ada empat khatib yang  menjadi anggota sara hokum ,yaitu khatib tua , karoto, lawili,dan To’i
  • Lebe, ada delapan belas lebe yang menjadi anggota sara hokum ,yaitu lebe dalam  Talabiu, Sape, Sila, Ngali,Wera, Wawo, Sakuru, Teke, Dena, Sumi, raba keli,Parado, Karumbu, Cenggu, Raba [Raba Ngodu] dan Mbawa.
  • Mboda, pangkat rendah;pesuruh,khususnya pesuruh raja bicara.
  • Ncawu Lati, pejabat rendah di dawah peringkat jena;tetep bertugas di istana.
  • Nenti Mone, pengawai di istana  berpangkat  rendah;banyak jumlahnya; nenti mone Goa  dan menti mone kaluku  berasal dari goa; semua nenti mone di pimpin oleh nenti Mone  Na’e  dan di kepalai oleh Ompu To’i.
  • Nentirasa, kepala dusun.
  • Ompu To’i, kepala urusan dalam istana.
  • Pata Asi, petugas urusan dan istana, bawahan Ompu To’i.
  • Patarasa. Kepala  dusun.
  • Raja Bicara, pangkat perdana menteri;di sebut demikian saja kalau tidak merangkap sebagai tureli nggampo.
  • Sahbanda, penguasa pelabuhan.
  • Tonda, pesuruh,khususnya pesuruh jeneli.
  • Tureli, salah satu pangkat tertinggi dalam pemerintahan Bima. Boleh di samakan dengan menteri;ada tujuan tureli,semuanya menjadi anggota sara sara, yaitu Belo, Bolo, Donggo, Sarado, Sakuru, Woha, serta
  • Tureli Nggampo, yang berjabat sebagai ketua semua tureli, perdana menteri, dan Ketua sara sara.
Sumber : http://kesultananbima.blogspot.com