Tampilkan postingan dengan label Pena Iwan. Tampilkan semua postingan

Buku, Pena dan Kita

 


Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Belasan Buku Biografi Tokoh Nasional

Selasa 29 April 2025, tepatnya setelah shalat ashar, saya mendapat kejutan dari sosok yang satu dekade lebih terakhir menekuni dunia kepenulisan dan telah menulis belasan judul buku dalam beragam tema. Tak disangka, tiba-tiba saya mendapat kiriman buku pesanan saya dari seorang sahabat yang berasal dari Kota Bima, NTB. Judul bukunya singkat dan padat tapi mengandung pesan panjang dan bermakna. “Buku, Pena dan Kita”, begitu judul besar buku berukuran 12 x 19 cm ini. Bagi saya bukunya menarik dan pembaca bakal dibikin penasaran.

Tak menunggu lama, seketika saya meminta bantuan istri saya, Eni Suhaeni, untuk membuka plastik bukunya. Setelah itu, saya langsung membacanya hingga tuntas tanpa jeda. Ini termasuk buku ke-40 yang saya baca satu kali duduk hingga selesai. Saya sengaja melakukan ini agar pesan buku yang saya baca langsung masuk ke pikiran saya. Buku ini sendiri menggambarkan tekad dan kesungguhan penulisnya untuk berbagi semangat dan giat sehingga siapapun terus berkarya terutama menulis buku.

Penulisnya adalah sahabat baik saya Iwan Wahyudi, akrab saya sapa Bang Iwan. Melalui buku setebal 179 (plus xx) ini, Bang Iwan sukses berbagi 171 buah motivasi yang menyadarkan, menggerakkan dan memajukan. Lagi-lagi, saya membaca buku ini dalam waktu yang cukup singkat dan sekali duduk. Hal ini bukan saja karena pilihan diksinya yang mudah dicerna sehingga langsung masuk akal, tapi memang ungkapan yang dimuat mencerminkan betapa besarnya motivasi penulisnya, yang menurut saya tak bisa dihitung bilang.

Saya menyarankan agar pembaca, terutama penulis pemula, segera memiliki dan membaca buku terbitan Zahir Publishing, Yogjakarta, Januari 2025 lalu ini secara tuntas. Jangan pernah malu dan ragu untuk memiliki atau membeli buku karya teman kita sendiri atau siapapun yang belum kita kenal. Berkaitan dengan semangat memiliki dan membaca buku, saya termasuk agak galak. Apa sebab? Karena tak sedikit yang begitu semangat mengeluarkan uang ratusan ribu bahkan jutaan rupiah demi makan dan minum di tempat mewah, tapi untuk karya teman sendiri seperti buku diminta gratis alias gratisan.

Saya kira, sebagai teman yang baik atau pembelajar yang giat, penulis pemula seperti saya, termasuk pecinta literasi di luar sana, kita harus berani memulai sesuatu yang kerap kita remehkan selama ini: membeli buku teman sendiri. Termasuk membeli buku Bang Iwan ini. Kita harus berani melawan egoisme yang mengkristal dan menggunung dalam diri kita. Jangan pernah bakhil kepada teman kita sendiri. Kita harus berani menjadi orang, bahkan bila perlu orang pertama yang ridho memiliki dan membaca buku karya teman kita sendiri. Kita harus bangga sekaligus antusias untuk memiliki atau membelinya.

Tentu pekerjaan selanjutnya adalah membaca dan memahami isi bukunya. Pikiran dan hati kita mesti siap sedia menampung inspirasi yang kita temukan atau dapatkan, bahkan bisa juga dengan menulis buku baru. Baik tema yang sama maupun tema yang baru. Karena pembaca yang baik bukan saja mampu membaca bukunya hingga tuntas, tapi juga berusaha untuk menulis buku baru. Buku, Pena dan Kita adalah tiga kata yang mewakili semangat Bang Iwan dalam menebar kebaikan dan semangat berbuat baik kepada siapapun selama ini. Ketiganya adalah tiga elemen paketan atau satu kesatuan yang saling melengkapi.

Berkaitan dengan hal tersebut, saya menjadi teringat dengan ungkapan salah satu tokoh penting negeri ini yang berasal dari Muhammadiyah: Prof. Dr. Haedar Nashir. Ketua Umum PP Muhammadiyah ini pernah mengatakan begini, “Jika kita ingin menjadi bangsa yang maju, datanglah ke museum, perpustakaan, dan toko buku. Melalui kesadaran budaya dan sejarah, kita dapat membangun Indonesia yang memiliki jiwa pada nilai-nilai agama, kebudayaan leluhur bangsa, dan Pancasila, yang kemudian dikapitalisasi menjadi sistem ilmu pengetahuan.”

Bang Iwan telah membuka jalan bagi siapapun untuk terus memastikan dunia literasi terutama kepenulisan di Indonesia terus menyala. Kita salut dan bangga pada Bang Iwan yang telah mengisi ruang yang selama ini tak banyak orang yang mau dan mampu mengisinya. Bagaimana pun, jumlah penulis buku di Indonesia semakin menurun dan tak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang kini mencapai 280 juta jiwa. Karena itu, kehadiran buku Bang Iwan ini menjadi pemantik semangat kita untuk segera berkarya. Selebihnya, kita perlu memastikan diri untuk menjalani tiga kunci peradaban maju ini: rajin membaca, giat menulis dan aktif mempublikasi tulisan. (*)

Iwan Wahyudi: Jejak Pena dan Pengabdian

 


Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia: Dari Kampung untuk Dunia”

IWAN Wahyudi, SE. Nama yang kini menumpang di sampul buku, di undangan seminar, dan di ruang-ruang kampus. Gelar itu bukan garis akhir, melainkan amanah. Ia persembahkan untuk dua orang yang melahirkannya, dan untuk semesta yang ia layani dengan karya. Karena ilmu, baginya, harus kembali menjadi cahaya.

Ia lahir di Jakarta, pada 17 Januari. Kota besar menjadi saksi pertama tangisnya, namun jiwanya kelak berlabuh ke timur. Tanggal itu menandai awal dari perjalanan panjang, dari gedung ibukota ke rumah sederhana, dari mimpi anak rantau ke kerja yang nyata. Di sanalah waktu mulai menuliskan takdirnya.

Keluarga

Ayahnya bernama Alm. H. Abdul Muthalib. Ibunya bernama Hj. Siti Safiah. Satu berdiri di depan papan tulis mengajar, satu menenun sabar di balik pintu rumah. Dari guru ia belajar disiplin dan ilmu, dari ibu ia belajar kasih dan doa. Dua tangan itu membentuk sumbu hidupnya.

Profesi orang tua sederhana, namun agung. Ayah adalah guru, ibu adalah IRT. Warisan harta dapat habis, namun warisan yang abadi adalah nilai. Kejujuran, kerja keras, dan tawakal. Itu bekal yang dibawa Iwan merantau. Dan itu pula yang menjaganya tetap berdiri.

Ia anak pertama dari dua bersaudara. Sebagai sulung, ia belajar memimpin sejak dini. Belajar menanggung, belajar mencontohkan. Meski nama saudaranya tidak disebut di sini, ikatan darah itu tetap menjadi rumah pulang. Keluarga kecil itu mengajarkannya arti tanggung jawab. Bahwa sulung adalah pelita bagi yang lain.

Pendidikan

Pendidikan dasar ia tempuh di SDN Kali Abang Tengah, Bekasi Utara, Bekasi, Jawa Barat. Di bangku kayu itu ia mengeja huruf pertama, dan meminjam buku untuk mengenal dunia. Tahun masuk dan lulus mungkin memudar, tapi semangat belajarnya tak pernah lulus. Sekolah itu menanamkan: mulai kecil, bermimpi besar.

Ia melanjutkan ke SLTPN 1 Belo, kini bernama SMPN 1 Palibelo, Kabupaten Bima. Jarak memisahkan dari orang tua, tapi mempertemukan dengan kemandirian. Di tanah Bima ia mengenal akar, dan mengenal dirinya yang sedang tumbuh. Lulus dari sana dengan keberanian melangkah jauh.

Masa SMA ia habiskan di SMUN 1 Raba, sekarang SMAN 1 Kota Bima. Remaja yang banyak bertanya dan mencari. Antara cita-cita dan kenyataan yang menantang. Ia lulus dengan dada penuh harapan, dan kaki yang siap merantau lagi. Bima memberinya identitas, dunia memberinya ujian.

Ia melanjutkan studi di Universitas Mataram (Unram) dan Universitas Teknologi Sumbawa (UTS). Kampus menjadi ruang kedua untuk ditempa. Di sana ia tidak hanya mengejar nilai, tapi juga mengejar makna. Dari dua almamater itu ia pulang membawa ilmu, pengalaman, dan luka yang mengajar

Organisasi

Kuliahnya ramai oleh organisasi. Ia menjadi Sekretaris LDK Baabul Hikmah. Ketua KAMMI Komisariat Unram. Anggota Bidang III BEM Fakultas. Anggota Tim 7 Perumus Pemira Langsung. Ketua BEM Unram. Hingga Ketua KAMMI Daerah NTB.

Mengapa ia berorganisasi? Karena ia percaya pada trilogi sukses mahasiswa: sukses akademik, sukses organisasi, sukses dakwah. Ruang kelas memberi teori, lapangan memberi jiwa. Di organisasi ia belajar memimpin tanpa arogan, melayani tanpa pamrih, dan memahami manusia di luar silabus.

Dampak organisasi besar bagi dirinya. Ia mengenal potensi diri, orang lain, dan lingkungan. Ia belajar bergaul dengan perbedaan yang heterogen. Ia bisa menyalurkan ide dan mewujudkannya. Ia punya banyak teman untuk bertukar mimpi. Organisasi mengasahnya, bukan sekadar menghias CV. Dari sanalah ia belajar arti kolaborasi.

Masa kuliah menyimpan banyak hal unik. Pertama kali ia berorasi di tengah demonstrasi. Pertama kali ia duduk di forum BEM SI tingkat nasional. Ia hidup mandiri dengan uang saku terbatas, tanpa mengeluh kepada orang tua. Ia pernah menjadi Co-Ass dosen saat praktikum. Dan ia mendirikan Mendirikan Keluarga Mahasiswa Islam (GAMAIS) Bima Domp

Inspirasi dan Prinsip Hidup

Hidup di rantau mengajarinya hal lain. Ia harus menentukan pilihan sendiri, memutuskan tanpa bayang-bayang orang tua. Di sanalah ia menemukan potensi tersembunyi, lalu menumbuhkannya hingga ke ujung kemampuan. Rantau bukan sekadar tempat tinggal,ia adalah guru yang tidak memberi raport.

Ada pengalaman yang membuatnya menangis: kegagalan. Air mata jatuh, dada sesak. Tapi dari sana lahir tekad untuk berbenah. Ia belajar bahwa jatuh bukan akhir, melainkan koreksi dari semesta. Dari luka ia bangkit lebih tertata. Dari gagal ia belajar cara menang.

Pengalaman paling berkesan saat kuliah adalah belajar menjadi manusia lebih baik. Dibanding masa pelajar, kuliah menuntut kedewasaan berpikir. Ia belajar salah, lalu meminta maaf. Ia belajar kalah, lalu menyiapkan menang. Itu pelajaran yang tidak ada di RPS.

Selama merantau ia menjaga tiga nilai. Beribadah dan beramal sebagai kunci keberhasilan. Kejujuran agar selamat di setiap jalan. Istiqamah agar kebaikan menjadi kebiasaan. Nilai itu tidak ia tulis di dinding, tapi ia jalani dalam langkah. Karena prinsip tanpa praktik adalah angin.

Sosok yang menginspirasinya adalah ayahnya. Sang ayah pernah merantau ke Jakarta, kuliah di IKIP Jakarta, kini UNJ. Dari kisah itu Iwan belajar arti berkorban. Merantau bukan lari, tapi menjemput takdir. Jejak ayah menjadi cahaya di depannya. Dan ia memilih berjalan di jalur yang sama.

Sosok yang paling berpengaruh dalam hidupnya adalah kedua orang tua dan para guru. Mereka tidak memberi jalan pintas, tapi memberi kompas agar tidak tersesat. Setiap nasihat menjadi pijakan kaki, setiap teladan menjadi cermin diri. Dari merekalah ia belajar menjadi manusia.

Nasihat orang tua menjadi modal hidupnya. “Berbuat terbaik di mana pun berada. Berbuat jujur apa pun posisimu. Patuhi perintah dan larangan-Nya.” Kalimat itu ia bawa ke rapat, ke orasi, ke meja kerja. Dan ia buktikan, kesederhanaan bisa menguatkan.

Ungkapan yang ia pegang adalah motto hidupnya. “Istiqomah pada kebenaran itu indah.” Kalimat itu menjadi kompas saat ragu. Menjadi penenang saat lelah. Kebenaran mungkin sepi, tapi istiqamah membuatnya ramai makna. Dan ia memilih setia di jalan itu.

Karier, Jejak dan Karya

Perjalanan kerjanya dimulai dari politik. Ia pernah menjadi Aspri Wakil Ketua DPRD NTB tahun 2010-2014. Lalu Direktur Inspirasi Wajah Negeri sejak 2014. Sekretaris pertama pada pengurus Yayasan Pengambangan Swadaya Ummat (YPSU) As-Syamil 2010-2017. Yayasan itu sekarang berkembang dengan mendirikan institusi pendidikan dari SD hingga perguruan tinggi di Desa Lenek Daya, Kecamatan Lenek, Kabupaten Lombok Timur. SDIT Nurul Jihad As-Syamil, SMPIT Cahaya Bangsa, SMAIT Cahaya Bangsa dan Lombok Institute of Technology (LIT). Kemudian Wakil Rektor III UTS tahun 2019-2020. Di masa itu prestasi mahasiswa UTS menanjak. Dari debat, PKM, hingga olahraga.

Di bawah kepemimpinannya sebagai Warek III, UTS menembus semifinal NUDC tingkat Kopertis VIII. 9 proposal PKM lolos pendanaan Dikti. UTS satu-satunya wakil PTN-PTS Bali-NTB di LKTIQ MTQMN. Kontingen terbesar UTS dikirim ke POMNAS Jakarta.

Ada juara karate, atletik, tenis meja, dan catur. Prestasi itu menjadi sejarah baru kampus. Ia juga pernah mengurus olahraga dan karakter. Pengurus Wilayah BAPOMI NTB tahun 2019-2020. Kepala BPKO UTS tahun 2020-2021. Kini ia menjabat Direktur Penerbit Panggita sejak tahun 2024. Selain itu ia menjadi pemateri di diskusi, seminar, dan pelatihan. Juga rutin menulis di media online.

Ia menekuni kepenulisan karena percaya, menulis adalah kerja keabadian dan amal jariyah. Ada puisi, esai, motivasi, dan catatan zaman. Setiap buku adalah jejak, agar namanya boleh hilang, tapi maknanya tetap hidup. Sejak 2016 ia telah melahirkan 32 karya.

Sebut saja: Best Seller Inspirasi dan Spirit Menjadi Manusia Luar Biasa (2016), Inspiring Words Mozaik Kata Penumbuh Motivasi (2019), Secangkir Inspirasi (2019), Energi Ramadhan Resonansi Hati di Bulan Suci (2020), Melawan Dengan Damai; Renungan Inspiratif di masa Pandemi (2020), dan Kepak Sayap Elang Muda; Dari Sumbawa untuk Semesta (2020).

Kemudian, Bind And Spread Love: Mengikat dan Menebar Cinta (2021), Kisah Pena Inspiratif (2022), Subuh Merah Padang Penantian (2022), Do The Best, Menghimpun Nikmat, Meracik Spirit Menjadi Manusia Hebat (2023), Melodi dari Rintik Gerimis (2023), 383 Puisi Untuk Bima (2023), Bocah Matahari: Syamsudin Kadir di Mata Sahabat (2023), Pemuda Negarawan, Dari Pemuda untuk Indonesia (2023), dan Kapita Selekta Pendidikan, Gagasan untuk Indonesia Emas 2045 (2024).

Lalu, Cloudburst (2024), Rindu Ibu (2024), Inspirasi 25 Tokoh Inspirasi Indonesia (2024), Bangkit Kaum Muda Majukan Indonesia (2024), Andai Aku Jadi Gubernur Jawa Barat (2024), Buku, Pena, dan Kita (2025), Rintik Berbisik (2025), Lembar untuk Ayah dan Ibu (2025), Tentang Senja, Rindu, dan Seduhan Teh (2025), Among The Clouds (2025), Dalam Pelukan Al-Qur’an (2025), Silent (2025), Ctrl+Z (2025), Hidup adalah Catatan (2025), Pemuda, Inspirasi Wajah Negeri (2025), Si Gila Literasi (2026), dan Bahasa Hujan Jilid 3 (2026)

Impian dan Pesan

Tentang rencana lanjutan studi, ia belum menuliskannya secara rinci. Gelar sarjana sudah ia persembahkan. Kini ia menunaikan tugas di lapangan. Mungkin ilmu akan dikejar lagi, ketika waktu dan amanah mengizinkan. Untuk sekarang, pengabdian adalah literasi dan sosial.

Mimpinya untuk Bima dan NTB sederhana. Mengembalikan kebaikan masa lalu yang tergerus oleh zaman. Ia ingin daerahnya naik kelas di tingkat nasional. Caranya lewat pembinaan pemuda dan literasi. Karena bangsa besar lahir dari yang muda membaca. Dan dari yang tua memberi teladan.

Untuk pelajar dan mahasiswa perantau ia berpesan. “Jadilah pelajar dan mahasiswa dengan segenap maknanya. Jangan takut gagal, dan jangan cepat puas saat berhasil. Gagal adalah guru, berhasil adalah ujian. Tanah rantau menguji mental sebelum menguji otak. Maka kuatkan hati dulu, baru melangkah.”

Terima Kasih

Untuk rektor dan para dosen ia bersujud syukur. “Terima kasih tak terhingga. Semoga menjadi amal yang tak pernah putus. Guru bisa lupa nama muridnya, tapi murid tak akan lupa gurunya.” Ilmu adalah utang budi, yang harus dibayar dengan cara mengamalkannya.

Cinta itu tidak selesai di dunia. Untuk orang tua ia menitipkan rindu dan doa. “Terima kasih. Dari rahim dan darah kalian aku lahir ke dunia, mengenal Sang Pencipta, dan bisa berbuat untuk semesta. Semoga ini jadi amal jariyah, yang tak putus hingga dipertemukan di jannah-Nya.” (*)


[REFLEKSI SENJA]

 


SUKSES DAN GAGAL

Sukses itu bukan tak pernah gagal, tapi bisa membahagiakan orang banyak diluar diri sendiri.
Gagal bukan tanda titik, bisa jadi ia tanda koma yang sengaja dibuat sebagai pijakan memeluk sekaligus beberapa kesuksesan.

DATANG DAN PERGI
Hidup sebenarnya cuma panggung perjumpaan sebelum memasuki panggung berikutnya. Siapa yang datang sambutlah dan yang pergi ikhlaskan.
Yang akan selalu hidup ialah amal, kenangan dan tulisan yang melintasi jaman walau telah berjumpa kematian.

DIINGAT DAN DILUPAKAN
Dosa dan kesalahan harus selalu diingat agar tak terulang dan ketagihan, kebaikan  dan amal lupakan bersama hembusan waktu.
Yang berbahaya jika hati dan pikiran tak lagi mengingat-Nya dengan sebenar-benarnya ingatan dan diri terlupakan oleh-Nya 

KESETIAAN DAN PENGKHIANATAN
Tetaplah kokoh berpijak dan menggenggam janji walau tak harus berteriak dan selalu diulang oleh lisan karena diri paling tau kapan setiap janji dapat tertunaikan.
Para pengkhianat pasti akan ditemui, yang mereka rampas sebenarnya bukan jatah rezekimu dari-Nya. Mereka sedang menipu diri dengan  menyambut rezekinya  sendiri dengan cara hina dan nista.

LEMBARAN LAMA DAN LEMBARAN BARU
Setiap datang pagi, lembaran kemarin penuh atau kosong tetap harus ditinggalkan karena lembaran baru telah tersaji untuk diisi atau tetap dibiarkan tanpa setitik tintapun. 
Setiap hari mustahil ada cerita yang sama terus dalam episode hidup. Tapi, tiap hari selalu ada kisah yang diperankan. Tinggal bagaimana keberanian menulis lembarannya untuk dibaca banyak orang, bukan memenuhi kepuasan diri yang subyektif semata.

DO’A DAN HARAPAN
Harapan setiap saat bukan berkurang, namun akan bertambah  dan beragam karena kebutuhan fitrah manusia yang tak pernah cukup. Manusia tanpa harapan, manusia tanpa gairah menghadapi kehidupan dan masa depan.
Ada do’a yang telah berusia panjang, namun belum terwujud. Ada juga do’a yang baru sekejab terkabul lebih cepat dari permohonan. Ia urusan-Nya, kapan, dimana, sa’at apa dan bagaimana mengijabahnya. Tugas diri tak jera dan lelah mengetuk pintu langit-Nya.

Senja 31122020
#IWANwahyudi
#MariBerbagiMakna #reHATIwan
#InspirasiWajahNegeri
@iwanwahyudi1
@inspirasiwajahnegeri

[KITA BUTUH CERMIN AKHIR TAHUN UNTUK MENUMBUHKAN RESOLUSI]

 


"Manusia memiliki sepasang mata yang dapat memandang apa saja, tapi satu yang tak bisa ia lihat yaitu dirinya sendiri ".
Setiap akhir tahun, rutinitas refleksi akhir tahun sangat ramai mulai dari ulasan tertulis para pakar berbagai bidang dimedia cetak hingga acara talkshow ditelevisi. Refleksi tersebut tak cukup dilakukan sehari atau semalam saja bahkan berhari-hari. Selain refleksi 365 hari yang telah berjalan, ditambah lagi sesi prospek tahun depan terkait semua bidang kehidupan : ekonomi, politik, keamanan, hukum dan sebagainya. Hampir semua energi anak bangsa terfokus padahal tersebut. Hingga melupakan satu hal, melakukan refleksi pada diri sendiri. Kita lupa sebuah komunitas besar bernama masyarakat, negara hingga tatanan dunia terdiri dari personal orang perorang.
Mari mengambil cermin untuk menatap bayangan kita sejenak saja. Dari rutinitas yang begitu menyita waktu, dari ritual tahunan merefleksi hal besar namun, rapuh menatap pori-pori kekurangan personal yang harus ditutupi segera agar tak menjalar dan mengurangi kecantikan wajah besar tersebut.
Mengapa kita harus bercermin untuk melihat bayangan kita ? karena cermin memliki keistimewaan dalam kesederhanaan bentuknya yang datar dan pipih tersebut.
1. Kita dapat melihat semua bagian tubuh dengan utuh. Sesuai dengan kebutuhan dan keinginan kita. Dari ujung rambut sampai kaki sekaligus atau fokus pada bagian tertentu saja yang kita butuhkan.
2. Cermin akan memperlihatkan sisi tubuh kita yang perlu diperbaiki.
3. Kita akan merasa nyaman karena cermin tak pernah mengejek atau membully kekurangan kita
4. Cermin tak pernah menyimpan bayangan kita untuk diperlihatkan pada orang lain yang bercermin berikutnya.
Dari kejujuran dan setianya cermin memperlihatan diri kita dan merahasiakannya dari orang lain tersebut, tak cukup membuat kita utuh menerimanya jika tidak menghadirkan empat hal berikut agar bercermin kita benar-benar sesuai dengan fungsi bercermin, merefleksi diri.
1. Harus jujur pada diri sendiri. Apa yang dipantulkan oleh cermin, begitulah adanya diri kita. Terimalah itu dengan lapang dada karena lari dari kenyataan adalah sifat para pecundang dan manusia seperti ini akan selalu dihantui ketakutan akan kekurangannya sendiri.
2. Menghitung kekurangan kita. Kita terlalu sering menghitung kelebihan kita dan menyandingkannya dengan daftar kekurangan orang lain. Setiap kelebihan tak perlu diingat karena ia kan membuahkan kebaikan pula, tapi setiap kekurangan harus selalu dihafal karena itu harus segera diperbaiki agar menjadi lebih baik dan sempurna. Setiap kekurangan tak perlu ditutupi, toh untuk kita baca sendiri. Menyadari kekurangan sendiri kadang perlu keberanian apalagi mengakui dan menerima kekurangan dihadapan orang lain tentu perlu nyali ekstra. Hapus satu persatu kekurangan tersebut dari daftar jika telah kita perbaiki.
3. Memperbaiki diri setiap saat. Salah satu cara agar tidak diejek oleh orang lain atas kekurangan kita adalah mengurangi, menambal, memperbaiki dan melepaskan diri dari belenggu dosa, kekurangan dan kegagalan yang selama ini menjadi bahan bully orang lain terhadap kita. Jangan tunggu nanti, semakin lama menyimpannya maka semakin membebani diri.
4. Menghitung semua potensi dan titik kelebihan. Kita harus menyadari bahwa yang kita gunakan selama ini belum semua potensi yang tersimpan didalam diri. Temukan dan optimalkan potensi yang belum termanfaatkan tersebut. Pompa terus hingga titik maksimal jika potensi tersebut telah kita tumbuhkan. Buat catatan daftar potensi hidup dan segala resolusi hidup, raih satu persatu dengan potensi tersebut.
Lalu apa yang harus kita lakukan setelah bercermin dan membuat daftar resolusi hidup sehingga tahun-tahun kedepan dapat lebih baik lagi
1. Bersyukur dalam setiap waktu. Segala potensi yang ada dalam diri merupakan anugerah tak ternilai. Ia melekat bersama lahirnya setiap manusia dimuka bumi. Allah SWT menciptakan ini agar dapat dioptimalkan dengan saluran-saluran yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan oleh manusia itu sendiri.
2. Jangan Lupa Bahagia. Takaran bahagia dalam kacamata setiap orang selalu berbeda. Ukuran bahagia menurut kita belum tentu orang lain. Bahagia lebih pada bagaimana kelapangan jiwa seseorang. Kekuatan jiwa semacam ini harus dimiliki oleh kita dalam keadaan apapun. Hanya mereka yang melalui hari dan kehidupan dengan bahagia yang dapat melakukan apapun dengan suka cita. Dengan kondisi bahagia manusia akan mengeluarkan potensi terbaiknya dengan keikhlasan tanpa beban dan paksaan.
3. Mengikat dan Menebar Cinta. Betapa betebarannya cinta dimuka bumi ini. Baik antara orang tua dan anak, begitu pula sebaliknya. Baik antara lelaki dan perempuan, antara yang memberi dan yang menerima dan sebagainya. Serpihan cinta ini harus diikat, di serap hingga menjadi energi cinta yang lebih besar dalam diri manusia untuk ditebar lagi pada manusia dan semesta disekitanya agar dapat merasakan kekuatan cinta tersebut. Cinta ini menjadi modal utama dalam membangun hubungan sosial yang akan menopang potensi personal seseorang.
4. Jejakkan karya sekecil apapun itu. Hidup adalah perjalanan dan ia akumulasi jejak dan langkah manusia. Penanda jejak tersebut berupa karya yang dapat dilihat oleh orang lain. Tak semua karya dapat dilihat oleh mata, tapi keberadaannya dirasakan. Potensi diri yang beragam dan disatukan dengan kekuatan jiwa yang melahirkan kebahagiaan kemudian bersenyawa dengan cinta personal dan akumulasi cinta sosial, tentu mustahil tak melahirkan karya.
Waktu selalu berjalan tanpa menengok kebelakang apalagi mengambil ruang jeda untuk rehat. Namun, setiap manusia memiliki kesempatan dan seharusnya demikian mengambil waktu rehat untuk jeda sejenak mengukur dan menghitung waktu yang telah lewat dan menyiapkan diri untuk waktu yang akan datang.
Kita terlalu sering disibukkan dan terlena dengan refleksi yang bersifat kolektif dan sangat larut dengan hiruk-pikuknya. Kita lupa bahkan jarang yang menyesali diri saat tersadar melewati segala waktu tanpa bercermin diri. Memilah potensi dan mengais segala kekurangan agar menjadi bahan kontempelasi. Hingga resolusi dan harapan yang akan diraih dimasa mendatang benar-benar terukur dan rasional, bukan sekedar ikut-ikutan mengekor, gaya-gayaan agar tak ketinggalan, atau sekedar saja supaya lepas dari bahan olokan orang lain.

[ITU-ITU DAN DISITU-SITU SAJA]



Pernahkah anda merasa bosan melakukan hal yang itu-itu aja?. Liburan juga ke tempat yang itu-itu aja di tambah bentuk kegiatannya itu-itu aja. Sebenarnya semua tergantung diri kita sendiri. Perlu ada variasi tempat agar ada pengalaman dan wawasan kita tentang yang ada diatas muka bumi ini. Jika tak ada waktu yang lebih luang atau finansial yang lebih, maka yang harus diubah adalah cara dan bentuk mengisi liburan tersebut, walau cuma disitu-situ aja tempatnya.

Apa yang menyebabkan kita hanya melakukan itu-itu aja dan disitu-situ aja ?
1. Kita tipe orang yang pasrah dan tidak mau menambahkan pengalaman baru dalam hidup. Intinya g mau keluar dari zona nyaman.
2. Kita bagian dari kelompok orang yang kurang kreatif dan variatif. Jarang berpikir diluar kebiasaan yang pernah dilakukan. Kreatif dan variatif tidak harus dengan menambah finansial, tapi bahkan malah bisa menghemat finansial. Contoh dari pada nonton di bioskop mendingan nonton bareng teman-teman dihalaman rumah.
3. Kita kurang gaul dan berteman. Di era media sosial sekarang tentu sungguh terlalu jika kita tidak punya teman dan sempit pergaulan. Dari penjelajah di medsos kita akan tau dimana tempat-tempat kece buat liburan yang murah dan bisa jadi dekat dengan tempat tinggal kita.

So...semua tempat bisa menjadi tempat liburan. Tiap pandangan mata bisa menjadi ide untuk memperkaya imajinasi dan hati. Tiap teman menjadi alternatif kunjungan silaturahim.

31122019
#IWANwahyudi
#MariBerbagiMakna
#InspirasiWajahNegeri #reHATIwan
@iwanwahyudi1

[MENOLAK KALAH]



"Tingkat cobaan iman tak ubahnya anak tangga yang bertingkat-tingkat. Tiap satu anak tangga dinaiki, datang dari bawah pukulan
hebat
mengenai tubuh orang yang mendaki. Kalau tangannya kuat menggantung, kalau kakinya kuat berpijak, dan kalau akal pikirannya tetap waspada, pukulan itu malah akan mendorong menaikkannya ke anak tangga yang lebih tinggi. Tapi kalau tangan lemah, kaki tidak kuat, akalnya hilang, pikirannya kusut, maka pukulan itu akan dapat menjatuhkan dan merobohkannya. Yang paling disayangkan, kalau robohnya tidak hanya satu dua anak tangga kebawah, tapi jatuh ke anak demi anak tangga di bawahnya sangat banyak. Bahkan karena lemahnya, seseorang bisa sulit bangkit." (Buya Hamka)
Tak ada satu manusiapun yang luput dari cobaan dan ujian, bahkan kalangan nabi dan rasul sekalipun, apalagi kita manusia biasa. Namun, mereka menolak takluk jiwanya oleh kegetiran hidup, menolak kalah tujuannya oleh pahitnya ujian. Karena sejatinya dunia ladang ujian yang harus dilawan layaknya peperangan. Dan mereka tak membiarkan dirinya menjadi orang-orang kalah.
Kita harus dapat memaknai gempuran, hantaman, kejutan dan tekanan adalah keniscayaan sehingga tidak masuk dalam golongan orang-orang kalah. Bahkan gempuran inilah mengantarkan pada kematangan. Kematangan menyikapi ujian dari Allah. Ujian untuk mencari calon
terbaik
.
Semoga Allah SWT menguatkan pundak memikul, kaki berpijak, punggung menopang diri dari semua ujia-Nya.

[PINTU SURGA YANG TERLUPA]

 


Betapa banyak orang untuk memperoleh kebahagiaan harus berkeliling kemana-mana, namun ia tak menyadari bahwa salah satu sumber kebahagiaan tersebut berada didekatnya, didalam rumahnya sendiri. Merekalah kedua orang tua kita.

Keagungan kedua orang tua tersebut dengan jelas Rasulullah gambarkan dalam sebuah haditsnya dengan begitu Indah . “Orang tua itu adalah sebaik-baik pintu surga, seandainya kamu mau, jagalah pintu itu dan jangan kau sia-siakan”.  (HR. Turmudzi)

Apasih sebenarnya yang dicari oleh manusia selain surga? Baik surga yang didunia terlebih surga yang abadi di akhirat kelak. Surga merupakan gambaran puncak segala nikmat. Baik itu berupa rasa maupun tempat. Surga di akhirat ialah tempat kompensasi dan balasan atas amal kebaikan yang dilakukan oleh manusia selama perjalanan hidupnya dimuka bumi. Tentu tak mudah mendapatkannya. Semua orang berlomba memperolehnya dengan berbagai macam cara. Namun, kadang kita lupa akan hal-hal sederhana dan dekat dengan keseharian yang menjadi jalan padanya.

Cerita bagaimana seorang anak memuliakan ibunya benar-benar saya saksikan sendiri. Disebuah warung makan kecil yang dibuat bersebelahan dengan bangunan utama tempat tinggal disebuah perumahan. Tempat ini menjadi langganan saya untuk membeli ikan dan lauk kala siang, sore maupun malam hari. Sang ibu yang sudah berstatus janda ini biasanya memasak dan menjadi pelayan warung tersebut dari pagi hingga malam, ia memiliki seorang anak perempuan yang bekerja dari pagi hingga menjelang maghrib dan pulang istirahat pada siang hari. Setiap anak perempuan ini berangkat maupun pulang kerja termasuk saat istirahat siang, saya selalu melihatnya mencium tangan dan pipi sang ibu, bahkan jika pada saat ia datang atau pergi sang ibu sedang berada didapur maupun melayani pembeli. Suatu ketika yang berada disana hanya saya, si ibu dan anak perempuan yang akan berangkat kerja. Setelah prosesi salaman dan cipika cipiki dan buah hatinya hilang dari pandangan,  sang ibu berkata pada saya “ Saya bahagia sekali dengan anak perempuan saya wan. Tiap berangkat dan pulang dari manapun ia selalu cium tangan dan pipi saya. Sepertinya itu yang bikin dia selalu berhasil dibanding kakak-kakaknya “.

Sederhana, mudah, praktis dan semua orang berkesempatan melakukan hal diatas. Penyesalan akan datang terlambat saat kesadaran itu tiba bila pintu surga itu diambil oleh Allah SWT dan selama ini kita sia-siakan. 

“ Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka “. (QS. Maryam: 32)

Bersyukur, berbahagia dan manfaatkan kesempatan memperoleh pintu surga didepan mata. Berburulah surga dari yang terdekat.

24122019
#IWANwahyudi
#MariBerbagiMakna
#InspirasiWajahNegeri #reHATIwan
#InspirationsWednesday
@iwanwahyudi1