Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Berusia 14 Tahun, Arya Bagus Jadi Mahasiswa Termuda UGM

dok.UGM Arya Bagus Kevin dipanggil sebagai mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada (UGM) termuda oleh pembawa acara upacara penerimaan mahasiswa baru UGM tahun akademik 2014/2015, Senin (18/8/2014).


KOMPAS.com — Arya Bagus Kevin dipanggil sebagai mahasiswa baru termuda Universitas Gadjah Mada (UGM) oleh pembawa acara dalam upacara penerimaan mahasiswa baru UGM tahun akademik 2014/2015, Senin (18/8/2014). Seperti dilansir dari situs resmi UGM, Arya memulai kuliahnya pada usia 14 tahun.

Saat ditemui di sela-sela upacara di Lapangan Grha Sabha Pramana, Arya terlihat kalem. Raut wajahnya terlihat dewasa.

"Ya senang sih, akhirnya diterima kuliah di UGM jalur ujian tulis Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi. Tepatnya (usiaku) 14 tahun, 6 bulan 9 hari," kata Arya.

Remaja seumur Arya biasanya masih belajar di tingkat sekolah menengah pertama. Namun, Arya bisa kuliah pada usia 14 tahun karena program akselerasi yang diikutinya di tingkat SMP dan SMA. Saat menjalani pendidikan di SMA Negeri 3 Solo dalam usia yang lebih muda pun, Arya mengaku tidak mengalami hambatan yang berarti.

"Semua lancar-lancar saja, mengalir gitu dan yang mengenalkan program akselerasi orangtua, terus ada ketertarikan, dan saya masuk SD di umur 4 tahun," ujar remaja kelahiran Solo, 23 Februari tahun 2000 itu.

Arya diterima di Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik UGM. Jurusan ini menjadi pilihannya setelah mendapat arahan ayahnya, Aris Murtopo, yang bekerja di Dinas Pekerjaan Umum Karanganyar, Solo. Dia pun berharap bisa belajar dengan baik di jurusan tersebut.

"Saya memilih Teknik Sipil karena selama pembangunan di negeri terus berjalan, lulusan-lulusan Teknik Sipil akan terus digunakan. Ya, kalau cita-cita sih inginnya jadi menteri," katanya malu-malu.


Sumber : http://regional.kompas.com

Usia Sosial dan Biologis Pahlawan




Para Pahlawan memiliki umur sosial,
manfaat dan sejarah jauh lebih lama
dibanding usia biologisnya.
Hal ini karena amal, karya, pemikiran dan gagasannya
yang diwariskannya kepada orang lain.

Dari Nilai menjadi Budaya


Dari NILAI berubah menjadi PERILAKU
Dari PERILAKU menjadi KARAKTER
Dari KARAKTER berubah menjadi BUDAYA

Kisah Dua Inspirator Dan Motivator Pendidikan Dana Mbojo, Dalam Satu Kesempatan.


Ibu Metri, Bang Alan dan Risky dalam penyebrangan Mataram - Bima, saat pulang dari RSUP Sanglah kemarin
Ibu Metri, Bang Alan dan Risky dalam penyebrangan Mataram - Bima, saat pulang dari RSUP Sanglah kemarin

-----------------------
Bertemu dengan dua orang Inspirator bidang pendidikan Dana Mbojo sekaligus dalam satu kesempatan yang tak diduga adalah suatu hal yang istimewa dan ‘sesuatu banget’. Dua orang ini saya anggap sebagai Inspirator Pendidikan di Dana Mbojo (sementara ini), karena dua orang ini memiliki perjuangan yang tidak mudah bagi orang biasa untuk membangun jiwa dalam dirinya guna mendorong pendidikan yang layak dan lebih baik untuk generasi dan masyarakat sekitar.

Ibu Metri (Ibu Kandung Risky) dan Pak M. Saleh atau lebih dikenal dengan Bang Alan (Sopir Bus PO Surya Kencana). Kedua orang ini biasa-biasa saja dan tidak nampak sebagai orang yang luar biasa. Namun tidak banyak yang tahu tentang perjuangan mereka dalam mendorong kehidupan sosial agar generasi bagi mereka kelak bisa mendapatkan pendidikan yang layak dan bermutu. Seandainya mereka berdua adalah orang-orang yang memiliki harta benda yang lebih dan dasar pendidikan yang mumpuni, mungkin ini adalah wajar-wajar saja.

Siti Metri, seorang Wanita (49thn), Ibu dari 4 orang anak. Tinggal di Kelurahan Kendo -  Kota Bima digubuk yang sudah sangat tidak layak huni, dilereng bukit Kendo. Belum lama ini, salah seorang anaknya, Risky, harus dirawat di RSUP Sanglah Bali karena dipatok ular, akibatnya, tangan tangan Risky membusuk dan dagingnya mengelupas cair dengan sendirinya. Masrin, suami dari Siti Metri memiliki istri muda dan hari-harinya lebih banyak dengan istri muda nya ketimbang Istri tua dan keempat anaknya, Nafisah (21 thn), Nuriansyah (18 thn), M. Afgan (13 thn) dan Kamaruddin alias Rsiky (9 thn).
Tidak ada yang tahu bila Ibu Metri membesarkan anak-anaknya dan sekaligus menyekolahkan anaknya dari hasil upah Jasa Mencuci pakaian dari rumah ke rumah. 9 tahun sudah, Ibu Metri mengelilingi Kota Bima untuk menawarkan jasa mencuci pakaian, mendatangi beberapa rumah langganan untuk mencuci dengan waktu yang sudah disepakati. Dalam sehari ia bisa mendapatkan upah antara Rp 50.000 hingga Rp 100.000. Namun , bila musim hujan, terkadang seminggu sekali baru dipanggil dan rejeki pun berkurang. Tak jarang, ia harus jalan kaki dari kelurahan Rabangodu ke kelurahan Kendo (sekitar 7-9 kilometer) hanya karena rejeki yang didapat tidak cukup untuk keperluan makan minum mereka.

Guna memenuhi biaya hidup dan sekolah anak-anaknya, disela panggilan jasa cuci pakaian manual, ia kerap ke bukit yang rimbun dibelakang rumahnya untuk mengumpulkan kayu bakar guna dijual atau sekedar diganti dengan beras beberapa liter. Sesekali ia juga menjadi babby sister bagi langganan cucian yang membutuhkannya. Pekerjaan apa saja ia terima asal halal dan mampu ia lakukan.

Alhamdulillah, anak-anaknya mampu ia sekolahkan hingga lulus. Nafisah, anak pertama yang kini berumur 21 tahun lulus dengan nilai yang baik di SMAN 3 Kota Bima. Nuriansyah, anak kedua, kini berumur 18 tahun, baru lulus SMA tahun lalu (2013) sebagai Siswi SMA PGRI Kota Bima. Sedangkan M Afgan anak ketiga masih duduk dibangku kelas 1 SMPN 8 Kota Bima serta Kamaruddin (9 thn) masih duduk di bangku SD. Semuanya dibiayai dengan peluh keringat upah hasil jasa mencuci dan mencari kayu bakar di gunung.

Nafisah dan Nuriansyah merantau ke Jakarta untuk bekerja mengurangi beban Ibunya. Sedangkan M. Afgan, setiap hari sepulang sekolah harus bekerja disalah satu Kandang Sapi di Kendo. Tugasnya untuk member makan sapi, membersihkan kadang serta menjaga Sapi bila sesekali digembala diluar kandang. Dan kerap tidur dikandang. Upahnya sebulan antara Rp 250.000 hingga Rp 350.000. pekerjaannya sebagai penjaga kandang baru dilakoninya 7 bulan terakhir atau sejak ia duduk di bangku SMP.

Sang Suami, Pak Masrin (49 thn) dalam beberapa tahun terakhir tidak lagi bersama dengan Ibu Metri dan ke empat anaknya. Bukan karena cerai namun lebih betah dengan istri mudanya. Dan hampir semua warga Kendo mengatahui dan menyadarinya. Sesekali Masrin menyambangi Istri dan Anaknya di Kendo, itupun hanya beberapa kali dalam satu bulan malah tidak pernah sama sekali. Lebih-lebih terkait nafkah hidup, terkadang ada namun lebih banyak tak ada.

Ibu Metri menyadari bahwa begitu pentingnya pendidikan untuk anak-anaknya. Hal itu terdorong dari kesadaran dirinya yang sewaktu sekolah dua puluan tahun silam, tidak menyeriusi dan lebih banyak tidak focus karena harus membantu orang tua bercocok tanam digunung. Sehingga atas hal demikian, Ibu Metri tidak ingin hal tersebut dirasakan pula oleh ke 4 anaknya. Ia berjuang menyambangi rumah kerumah hanya untuk menawarkan jasa mencuci pakaian dan menerima upah berapa saja yang diberikan oleh pengguna jasanya. Meskipun ia kini sudah memiliki beberapa pelanggan tetap. Namun tidak setiap hari jasanya digunakan.

Kini, Peluh keringat, harapan dan doa yang ia panjatkan selama ini ter-Ijabah meski harus melalui jalan liku dan pengorbanan yang tak berkesudahan. Melalui Cobaan yang menimpa anaknya, Kamaruddin, Ibu Metri mulai dikenal dan diketahui rekam jejak hidupnya. Banyak orang yang mulai menunjukan rasa Simpati, Bangga dan menjadinya Inspirator Dana Mbojo, termasuk saya,’ angkat Topi’ untuk Ibu Metri dalam mendorong anak-anaknya agar bisa sekolah dan meraih cita-cita masa depan yang lebih baik, meski dirinya harus menjadi budak bagi orang lain.  

Beda Ibu Metri, beda pula kisah pak M. Saleh (46 thn) atau akrab disapa Bang Alan. Seorang supir Bus PO Surya Kencana dengan trayek Bima – Mataram. Dari tampang dan postur, bagi banyak orang ia mungkin ditakuti karena rambutnya yang gondrong sebahu, berkulit sawo matang dan tubuh besar. Kesannya, ia adalah seorang preman, residivis atau sejenisnya. Tetapi sesungguhnya sangat jauh dari yang nampak dihadapan mata.

Bang Alan bagi saya adalah salah seorang Inspirator, Motivator dan sekaligus sahabat yang sangat baik. Beberapa kali bertemu dalam satu perjalanan menuju atau dari Mataram ke Bima. Bang Alan pernah saya kisahkan dalam Catatan sebelumnya (BACA: https://www.facebook.com/notes/rangga-babuju/wajah-pendidikan-kita-pemerintah-cuek-karena-sekolah-di-bangun-oleh-seorang-supi/10152190542587950 ). Ia adalah pahlawan dunia Pendidikan di Dana Mbojo. Membangun sekolah Agama yang bernama MIS (Madrasaha Ibtidaiyah Swasta) Darul Ulum Tololai Ambalawi. MIS Darul Ulum tidak dibangun sepermanen seperti ketika pemerintah membangun sekolah baru dengan anggaran ratusan juta hingga miliaran rupiah. Alan membangun MIS diatas tanah Warisan dengan anggaran belasan juta hasil tabungannya sendiri selama 10 tahun menjadi Supir Fuso Trip Flores - Sumatera, berlantai tanah, berdinding bedek (Bahasa Bima: Jarimpi) dan beratap rumbia pada tahun 2009 yang lalu.

Tahun 2009 adalah tahun yang begitu sulit bagi Bang Alan untuk menemukan Guru Pengajar serta Siswa/i yang akan sekolah di MIS yang ia bangun. Hal ini karena Culture masyarakat pesisir yang lebih mengedepankan mencari uang sejak kecil dari pada menimba ilmu sejak dini. Tetapi berkat keuletannya, Keihlasannya serta Ketulusannya untuk mengubah mental generasi serta masyarakat Tololai. Akhirnya ia mendapatkan 2 orang Tenaga Pengajar yang mau Mengabdi disekolah tersebut dengan upah sealakadarnya dan Siswa/i tahun pertama berjumlah 15 orang.

Kini menjelang tahun ajaran baru 2014, siswi/i di MIS Darul Ulum Tololai sudah berjumlah 68 siswa yang diajar oleh 12 orang Guru pengajar. Meski tidak semua guru pengajar masuk setiap hari. Mulai dari mendaftar hingga kelulusan, MIS Darul Ulum tidak mengungut biaya sepeserpun, termasuk pengadaan Seragam sekolah sepenuhnya ditanggung oleh Yayasan MIS Darul Ulum. Honor Tenaga pengajar maupun operasional MIS serta seragam sekolah dibayar melalui Dana BOS yang cair sejak 2 tahun terakhir sebesar Rp 7.500.000 per tahun serta dana bang Alan pribadi yang dihajatkan setengah dari Gaji nya sebagai Seorang Supir Bus malam.

Alan mendirikan MIS Daru Ulum Tololai, karena menyadari sikap dan prilaku generasi 5 hingga 10 tahun kedepan. Dari berbagai pengalamannya yang sudah belasan tahun sebagai Supir Bus dari daerah yang satu kedaerah yang lain, dari Flores hingga Sumatra, ia menyadari betapa sesaknya hidup generasi Tololai dimasa yang akan datang bila tak diimbangi dengan ILMU dan AMAL. Baginya untuk membangun sesuatu yang baik bagi sosial masyarakat tidak harus menunggu dan menggantungkan harapan melalui pemerintah semata sebab, procedural birokrasi membuat banyak ide dan gagasan harus gugur ditengah jalan karena proses yang cukup lama dan cenderung tidak sesuai dengan harapan. Belum lagi ‘disunat’ untuk ini dan itu.

Alan pun membangun MIS dengan jerih payah sendiri, peluh keringat sendiri dan usaha sendiri. Persoalan apakah pemerintah mau memperhatikan atau tidak, itu urusan belakang. Jikalau menganggap MIS Darul Ulum baik bagi perkembangan daerah, dengan sendirinya akan menjadi perhatian, namun bila tidak, tidak menjadi masalah. Bagi Alan, generasi Tololai 10-20 tahun kedepan harus menjadi Generasi Unggul untuk tanahnya sendiri, masyarakatnya sendiri dan peradabannya sendiri. Itulah yang membuat lelaki yang sudah ‘berkepala empat’ ini melakukan hal yang tidak banyak orang melakukannya.

Kini, siswa/i MIS Darul Ulum hampir sebagian besarnya sudah bisa membaca IQRA dan mengaji Qur’an. Ini juga yang membuat para wali murid percayakan pendidikan dan pengalaman belajar kepada MIS Darul Ulum. Meski MIS ini masih jauh dari kelayakan sebuah sekolah, namun tidak menjadi soal bagi warga Tolalai. Mereka bangga anaknya bisa mengaji dan membaca serta berhitung lancar ketika bersekolah di MIS ini. Bagi Alan, disitulah kebanggaan dan kebahagiaan itu tidak akan pernah mampu dibayar dengan uang seberapapun besarnya.

Ibu Metri dan Bang Alan hanyalah segelintir manusia yang berbuat untuk Dana Mbojo. Masih banyak Ibu Metri dan Bang Alan lainnya dipojok-pojok Dana Mbari ini yang tidak diketahui oleh banyak orang tentang usaha dan upaya mereka sebagai Motivator sekaligus Inspirator Pembangunan Daerah, baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun, lagi-lagi sangat sedikit sekali yang diketahui dan diapresiasi oleh Pemerintah Daerah sebagai Stakeholder pembangunan Daerah ini.

Sudah berapa hal yang anda perbuat untuk orang banyak seperti mereka?. Sudah berapa kali anda mengintropeksi diri dengan bekal potensi dan materi yang miliki untuk orang banyak?. Sudah berapa kali anda berbuat mendorong serta mengapresiasi hal-hal positif seperti yang dilakukan oleh Ibu Metri dan Bang Alan? Bukankah salah satu amalan yang dihisab suatu masa kelak adalah ILMU, AMAL dan DOA ANAK YANG SALEH? Lalu kenapa kita mesti menunggu memiliki segala hal baru berbuat? Menunggu segala sesuatunya lengkap sempurnah baru berbagi? Kenapa tidak berbuat dulu untuk menggapai segala hal? Kenapa tidak berbagi terlebih dahulu untuk meraih kesempurnaan atas manfaat hidup?

Ibu Metri dan Bang Alan adalah Inspirator dan Motivator Dana Mbojo untuk saat ini. Mungkin kita tidak bisa menjadi sama seperti mereka, tetapi kita bisa mendorong dan membantu mereka untuk meringankan beban perjuangan mereka sesuai dengan kemampuan dan potensi masing-masing dari kita sebagai bentuk apresiasi atas apa yang telah mereka lakukan. “Bukankah masa depan adalah buah dari masa lalu..?”. IQRA….!!!

------------------------------------------
Kota Bima, 25 Mei 2014 di Subuh Hari.


"Kisah Inspirasi"


Ibu Metri bersama 4 orang anaknya tinggal, besar dan hidup dirumah reok ini
Ibu Metri bersama 4 orang anaknya tinggal, besar dan hidup dirumah reok ini
Ibu Metri saat menemani Anaknya, Risky, di ruang Isolasi RSUP Sanglah Bali
Ibu Metri saat menemani Anaknya, Risky, di ruang Isolasi RSUP Sanglah Bali
Ibu Metri, Bang Alan dan Risky dalam penyebrangan Mataram - Bima, saat pulang dari RSUP Sanglah kemarin
Ibu Metri, Bang Alan dan Risky dalam penyebrangan Mataram - Bima, saat pulang dari RSUP Sanglah kemarin
MIS Darul Ulum yang dibangun oleh Bang Alan
MIS Darul Ulum yang dibangun oleh Bang Alan
Salah satu ruang belajar (ruang Kelas 1) di MIS Darul Ulum Tololai
Salah satu ruang belajar (ruang Kelas 1) di MIS Darul Ulum Tololai
Hampir semua Ruang kelas MIS Darul Ulum Tololai berubin tanah
Hampir semua Ruang kelas MIS Darul Ulum Tololai berubin tanah
Foto bersama Tenaga Pengajar MIS Darul Ulum Tololai - Ambalawi Kab Bima
Foto bersama Tenaga Pengajar MIS Darul Ulum Tololai - Ambalawi Kab Bima
 
Sumber : https://www.facebook.com/notes/rangga-babuju/kisah-dua-inspirator-dan-motivator-pendidikan-dana-mbojo-dalam-satu-kesempatan/10152214628482950

Pesan Untuk Orang-Orang Biasa



Kumpulan tulisan ini adalah anak-anak zamannya. Lahir saat badai menerpa seluruh sisi kehidupan bangsa kita. Kumpulan tulisan ini adalah kerja kecil untuk tetap mempertahankan harapan dan optimisme kita ditengah badai itu.

Krisis adalah takdir semua bangsa. Ia tidak perlu disesali. Apalagi dikutuk. Kita hanya perlu meyakini sebuah kaidah, bahwa masalah kita bukan pada krisis itu terjadi. Itu tanda kelangsungan hidup atau kehancuran sebuah bangsa.

Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan kebumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali kelangit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis.


Mereka tidak harus dicatat dalam buku sejarah. Atau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Mereka juga melakukan kesalahan dan dosa. Mereka bukan malaikat. Mereka hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Mereka merakit kerja-kerja kecil jadi sebuah gunung: karya kepahlawanan adalah tabungan jiwa dalam masa yang lama.

Orang-orang biasa yang melakukan kerja-kerja besar itulah yang kita butuhkan di saat krisis. Bukan orang-orang yang tampak besar tapi hanya melakukan kerja-kerja kecil lalu menulisnya dalam autobiografinya. Semangat untuk melakukan kerja-kerja besar dalam sunyi yang panjang itulah yang dihidupkan kumpulan tulisan ini. Maka tulisan-tulisan ini mencoba menghadirkan makna-makna yang melatari sebuah tindakan kepahlawanan. Bukan sekedar cerita heroisme yang melahirkan kekaguman tapi tidak mendorong kita meneladaninya.

Para pahlawan bukan untuk dikagumi. Tapi untuk diteladani. Maka makna-makna yang melatari tindakan mereka yang perlu dihadirkan ke dalam kesadaran kita. Jadi tulisan-tulisan ini adalah pesan untuk orang-orang biasa, seperti saya sendiri, atau juga anda para pembaca, yang mencoba dengan tulus memahami makna-makna itu, lalu secara diam-diam merakit kerja-kerja kecil menjadi sebuah gunung karya.

Sukses blog ini tidak perlu diukur dengan tiras besar. Tapi jika ada satu-dua hati yang mulai tergerak, dan mulai bekerja, saya akan cukup yakin berdoa kepada Allah: “Ya Allah, Jadikanlah kerja kecil ini sebagai kendaraan yang akan mengantarku menuju ridha dan surga-Mu.

Anis Matta

Sukses Tidak Mengenal Usia


Oleh : Cahyadi Takariawan

ilustrasi : www.docstoc.com
ilustrasi : www.docstoc.com

Berapa usia anda sekarang ? Bisa saya pastikan belum ada yang mencapai delapan puluh tahun saat membaca tulisan saya ini. Apakah anda telah menjadi orang yang sukses pada usia anda sekarang ? Jika anda merasa belum sukses, jangan khawatir dan jangan pernah berputus asa. Ternyata sukses bukan masalah usia. Dia bisa datang pada usia muda atau usia tua.

Jangan mengira sukses itu adalah sebuah hasil, karena sesungguhnya sukses itu adalah tentang bagaimana kita berusaha dan terus berusaha melakukan hal terbaik. Zig Ziglar memaknai sukses sebagai berikut, â€Å“Success means doing the best we can with what we have. Success is the doing, not the getting; in the trying, not the triumph. Success is a personal standard, reaching for the highest that is in us, becoming all that we can be.”

Menurut Ziglar, sukses adalah melakukan yang terbaik apa yang bisa kita lakukan dengan apa yang kita miliki. Sukses adalah melakukan, bukan mendapatkan; sukses adalah usaha, bukan kemenangan. Sukses adalah standar pribadi, meraih yang tertinggi yang ada di dalam diri kita, menjadi semua yang kita bisa.
Mari kita perhatikan, sangat banyak orang mencapai sukses ketika usia mereka sudah tidak bisa dibilang muda lagi. Walaupun semua orang menghendaki mendapatkan sukses sejak masih muda remaja, namun jangan pernah putus asa jika belum mendapatkannya. Karena sukses bisa menjadi milik kita kapan saja, pada usia berapa saja, tidak pernah terlambat untuk mendapatkannya.


Penulis Sukses di Usia 99
Toyo Shibata jelas tidak lagi muda. Pada usianya yang hampir 100 tahun, perempuan Jepang itu memunculkan buku kumpulan puisi, dan baru pertama kali itu pula ia menerbitkan buku. Tidak dinyana, buku berjudul Don̢۪t Be Frustated tersebut laris manis. Tidak sampai satu tahun, telah menembus angka penjualan 1.500.000 eksemplar. Sangat fantastis. Sementara di Jepang, buku puisi disebut sukses jika sudah mencapai 10.000 eksemplar.

Buku perdana Toyo Shibata berhasil masuk The 10 Best Seller 2010 versi Touhan, penerbit buku terbesar di Jepang. Uniknya, ia baru mulai menulis saat berusia 92 tahun. Luar biasa, benar-benar nenek yang produktif. Usia tidak menghalanginya berkarya dan bekerja meraih sukses. Padahal kita lihat banyak orang tua di sekitar kita yang sudah tidak berpikir lagi untuk menghasilkan karya besar. Bahkan banyak juga anak muda yang tidak memiliki keinginan kuat untuk sukses dan memiliki karya monumental.

Toyo Shibata menjadi contoh bahwa kesuksesan bisa diraih pada usia berapapun. Ia menjadi ikon bahwa menulis bisa dilakukan kapan saja, pada usia berapa saja. Ia membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk berkarya dan berprestasi gemilang. Benar-benar pesan yang kuat, bahwa tidak ada terlambat untuk meraih sukses dan terkenal. Kita semua belum pernah mendengar nama Toyo Shibata sebelum ini. Justru kita mengenal namanya saat ia berusia 99 tahun dan bersiap menyambut usia genap 100 tahun.

Menjadi Penyanyi Terkenal di Usia 60
Kita juga ingat musisi fenomenal Urip Ariyanto yang lebih terkenal dengan nama Mbah Surip. Lagu Tak Gendong melejitkan namanya, dan sempat menjadi berita yang menghangatkan dunia hiburan Indonesia. Ia lahir tahun 1949, setelah mengalami berbagai jenis pekerjaan, tahun 1979 mulai hijrah ke Jakarta. Mbah Surip sebenarnya sudah banyak melahirkan album, seperti â€Å“Ijo Royo-royo” (1997), â€Å“Indonesiaâ€Å“ (1998), â€Å“Reformasi” (1998), â€Å“Tak Gendong” (2003) dan â€Å“Barang Baru” (2004). Album ini bukan dirilis perusahaan musik, tapi direkam dan diedarkan sendiri. Distribusinya bukan dari Disc Tara atau toko musik terkenal lain, tapi melalui warung dan toilet umum di seputar Blok M dan Ancol.

Baru pada April 2009, perusahaan rekaman Falcon memilih 10 lagu Mbah Surip, termasuk â€Å“Tak Gedong” dan â€Å“Bangun Tidur”, lalu melemparnya ke pasar, dan ternyata langsung meledak. Usianya sudah 60 tahun saat menjadi populer dan sukses. Ia menjadi selebritis mendadak, diundang di berbagai kegiatan dan forum. Diwawancara berbagai stasiun televisi, radio,  majalah dan koran. Lagunya dinyanyikan sejak anak kecil sampai orang tua. Ucapan â€Å“I Love You Full” menjadi bahasa gaul yang ditirukan banyak kalangan.

Walaupun hanya sebentar menikmati masa sukses, namun ada pesan yang kuat tertangkap oleh kita, bahwa sukses tidak mengenal usia. Mbah Surip sudah tua saat terkenal. Ia tidak terkenal saat berusia 20 atau 30 tahun. Lagu Tak Gendong yang sudah dirilis pada tahun 2003, baru meledak setelah dirilis ulang pada tahun 2009. Konon, ia berhak mendapatkan royalti 4,5 Milyar Rupiah dari album Tak Gendong yang dirilis tahun 2009. Jelas uang yang tak pernah dibayangkan Mbah Surip sepanjang hidupnya. Ternyata sukses tidak mengenal usia.

Sanders Sukses di Usia 65
Kita juga mengenal Kolonel Harland Sanders, pendiri Kentucky Fried Chicken. Sanders lahir di tahun 1890. Ia telah melakukan banyak pekerjaan sebelum menjadi sukses dengan KFC-nya. Pernah menjadi tukang parkir pada usia 15 tahun di New Albany, kemudian pada usia 16 tahun menjadi tentara yang dikirim selama 6 bulan di Kuba. Setelah itu ia menjadi petugas pemadam kebakaran, pegawai asuransi, operator kapal feri, penjual ban, dan operator bengkel. Sanders sempat belajar ilmu hukum melalui korespondensi dan mempraktikkannya dalam dunia pengadilan. Pada usia 40 tahun Kolonel mulai memasak untuk orang yang yang bepergian yang singgah di bengkelnya di Corbin.

Percaya diri dengan kualitas ayam gorengnya, Kolonel membuka usaha waralaba yang dimulai tahun 1952. Ia pergi jauh menyeberangi Negara bagian dengan mobil dari satu restoran ke restoran lainnya, memasak sejumlah ayam untuk pemilik restoran dan karyawannya. Jika reaksi yang terlihat bagus, ia menawarkan perjanjian untuk mendapatkan pembayaran dari setiap ayam yang laku terjual. Inilah kegigihan Kolonel Sanders. Dia memulai suksesnya di usia 65 tahun, saat tidak memiliki uang sepeser pun kecuali dari tunjangan hari tuanya sebagai pensiunan tentara.

Dia memiliki keahlian dalam memasak, dia tawarkan resep masakannya ke lebih dari 1.000 restoran di negaranya. Akhirnya restoran yang ke-1008 menerima resepnya tersebut, dan kini Kentucky Fried Chicken telah tersebar di lebih dari 80 negara di dunia. Ya, tak ada kata terlambat untuk menjadi sukses dan terkenal. Di usia 66 tahun memulai usaha besar, dan ternyata Sanders mendapatkan tempat di dunia makanan. KFC menjadi cita rasa makanan orang di berbagai negara.

Walikota Sukses di Usia 89
Hazel McCallion adalah sosok perempuan yang sangat kuat. Pada usianya yang sudah lebih dari 90 tahun, ia masih mampu menjadi walikota Mississauga, Ontario, Kanada yang sukses. Ia selalu terpilih dalam pemilihan walikota sejak 1978. Sudah 33 tahun memimpin kota hingga sekarang, mampu mengubah Mississauga yang dulu kumuh, kini menjadi salah satu kota terindah di Kanada.

Masyarakat Mississauga selalu mendukung Hazel dalam setiap pemilihan walikota yang digelar secara langsung dan demokratis. Hazel selalu berhasil memenangkan para pesaing politiknya dalam ritual pemilihan umum, namun hal itu tidak membuatnya besar kepala dan sombong. Kekuasaan yang dimilikinya di Kota Mississauga, tidak mengantarkan ia menjadi seorang pemimpin yang glamour atau hedonis. Bahkan ia menampilkan jati dirinya sebagai seorang pemimpin yang sederhana dan bersahaja.

Hazel McCallion mulai karir politiknya di distrik Streetsville, berawal sebagai ketua Badan Perencanaan Streetsville pada tahun 1967. Ia terpilih sebagai walikota Streetsville pada tahun 1970, dan menjabat sampai tahun 1973. Ia mulai terpilih menjadi walikota Mississauga pada tahun 1978, ketika ia sudah berumur 67 tahun.

Karena popularitasnya, ia tidak memerlukan kampanye selama proses pemilihan umum walikota. Bukan hanya itu, ia bahkan menolak menerima donasi politik. Hazel tidak meminta pihak manapun untuk menyumbangkan dana bagi pemenangan dirinya dalam setiap pemilihan wakil kota. Ia memenangkan pemilihan walikota Mississauga 12 (dua belas) kali berturutan, hingga ia berhasil memenangkan pemilihan terakhir pada 25 Oktober 2010 kemarin, pada saat usianya sudah 89 tahun.

Wisuda Sarjana di Usia 99
Tidak pernah terlambat untuk menuntut ilmu dan menjadi sarjana. Ungkapan ini rupanya benar-benar diterapkan oleh seorang nenek berusia 94 tahun, Hazel Soares. Warga kota San Leandro, California, Amerika Serikat (AS) ini adalah satu dari sekitar 500 lulusan Mills College yang berhasil meraih gelar sarjana. Upacara kelulusan berlangsung pada Sabtu, 15 Mei 2010.

â€Å“Perlu waktu lama (untuk lulus) karena saya sangat sibuk,” kata Soares. â€Å“Akhirnya saya berhasil mencapainya dan membuat saya merasa sangat puas,” lanjut sarjana sejarah seni ini. Soares, ibu enam anak dan nenek dari 40 cucu dan cicit, berhasil menyelesaikan studi di perguruan tinggi. Soares lahir di Richmond, California pada tahun 1915, ia mengatakan ingin kuliah setelah lulus dari sekolah menengah atas Roosevelt di Oakland pada 1932, saat sedang terjadi Depresi Besar. â€Å“Kecuali kita dapat bantuan dana, sangat mustahil bisa kuliah,” kata Soares. â€Å“Tapi keinginan saya untuk kuliah tidak pernah lenyap,” lanjutnya.

Satu lagi seorang nenek, Nola Ochs (OAKS) dari Kansas, menempati posisi sebagai orang tertua saat lulus dari Fort Hays State University tiga tahun lalu pada usia 95 tahun, menurut Guinness Book of World Records. Ochs, kini 98 tahun, baru-baru ini juga menerima gelar master di bidang studi liberal dari Fort Hays.

Dia kuliah satu kelas dengan cucunya yang berusia 21 tahun. Berjalan di kampus dengan rambut putih dan keriput,  Nola menjadi sangat populer di kampus. Teman kelas memberi dia kejutan ketika berultah yang ke 95. Selama kuliah dua semester, nenek Nola mendapat IPK 3,7 dan menyelesaikan lebih dari 100 paper dan esai. Profesornya memberi nila A plus terhadap salah satu paper Nola dan menjadikannya sebagai contoh bagaimana membuat paper yang baik.

Ada lagi yang lebih tua dari mereka berdua. Leo Plass, kakek berusia 99 tahun keluar dari perguruan tinggi selama masa Depresi Besar (Great Depression) tahun 1932 untuk bekerja, tapi kini meraih gelar sarjana. Leo Plass, pria asal Redmond, Oregon, Amerika Serikat itu berhasil meraih gelar sarjana dari Eastern Oregon University, La Grande, pada 11 Juni lalu dalam usia 99 tahun.

Ketika Eastern Oregon University, dulu bernama Eastern Oregon Normal School, memeriksa skripsi Leo, mereka baru menyadari bahwa berdasarkan ketentuan yang baru ternyata Plass memenuhi syarat untuk meraih gelar sarjana. Jadilah Leo diwisuda dan mungkin menjadi wisudawan tertua di dunia.

“Saya hanya butuh waktu 80 tahun untuk menyelesaikan kuliah,” kata Leo berkelakar kepada Reuters, Kamis (17/6). “Mereka membawa saya keliling kampus. Ya ampun, semuanya sudah berubah,” kata Leo saat wisuda. Leo Plass yang akan berusia 100 tahun pada 3 Agustus 2011 mengaku tidak memiliki keinginan atau rencana khusus untuk meniti karier lain dengan gelar barunya tersebut.

Lakukan Sesuatu, Jika Ingin Sukses
Bagi manusia yang religius, sukses adalah sebuah keinginan dan cita-cita terbesar dalam kehidupan. Kita ingin mendapatkan sukses di dunia dan sukses di akhirat. Kita ingin bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Jika hanya mengejar sukses dunia saja, kita akan merugi kelak di akhirat. Contoh-contoh yang saya tulis di atas tentu saja adalah sukses menurut ukuran dunia. Bagaimana orang-orang melakukan aktivitas kehidupan yang bisa membuatnya menjadi sukses dalam kehidupan. Bahkan pada usia yang sudah tua sekalipun, sukses bisa diraih.

Kita tidak memisahkan jalan antara sukses dunia dengan sukses akhirat, karena itu berada di jalan yang harus sama, agar tidak perlu menempuh dua jalan yang berbeda untuk bisa sukses pada keduanya. Allah telah memerintahkan manusia agar selalu bekerja keras, bekerja serius, dengan mengoptimalkan segenap potensi dan waktu yang dimiliki :
â€Å“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh  (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap” (Alam Nasyrah: 7 – 8).

Allah menghendaki agar semua waktu kita produktif, tidak ada yang tersia-siakan. Bersambung antara satu kegiatan dengan kegiatan berikutnya, antara satu usaha dengan usaha berikutnya. Jangan membiarkan diri manja dan cengeng dengan meratapi kondisi yang tidak sesuai harapan, sampai menghabiskan waktu hanya untuk menangisi nasib yang belum berpihak kepada dirinya. Tidak mengenal usia, semua waktu harus bermanfaat dan teroptimalkan untuk membuat karya. Namun di semua usaha kita, ujungnya adalah harapan besar kepada Tuhan.

Inilah jalan sukses itu. Kesungguhan, kegigihan, dan keseriusan dalam perjuangan untuk melakukan aktivitas terbaik pada setiap waktu yang kita lewati. Tidak mudah mengeluh, tidak mudah kecewa, tidak berputus asa dari kebaikan. Jika di masa muda belum merasa menemukan kesuksesan, bukan alasan untuk menutup lembar kehidupan dengan mengatakan â€Å“Sudah selesai sejarahku. Tidak mungkin aku menjadi orang sukses”. Ini pikiran dan jiwa pesimis yang harus dibuang.

Selama kita masih diberi waktu, semua peluang dan kesempatan sukses selalu terbuka. Tinggal kita mengolah potensi dan mengambil kesempatan yang terbuka tersebut untuk meraih sukses. Kewajiban manusia hanyalah berusaha, melakukan yang terbaik, sembari terus berdoa. Allah yang akan memberikan kesuksesan bagi kita. Jangan pernah menyerah untuk mendapatkan sukses. Sesaat sebelum meninggalnya, seseorang bisa meraih sukses.

Jangan merasa tua untuk memulai karya. Jangan merasa tua untuk bekerja produktif. Jangan merasa tua untuk meraih mimpi. Jangan merasa tua untuk mendapatkan sukses.

3 Hal yang Kita Dapat dari Kejujuran






“ Orang-orang yang suka berkata jujur mendapatkan tiga hal :
KEPERCAYAAN
CINTA &
RASA HORMAT .“

Ali bin Abi Thalib

4 Hal untuk Memenangkan sebuah Pemikiran



“ Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang dijalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya “.

( Imam Hasan Al-Banna )

Indah itu tak harus dipaksa seragam 1 warna


JANGAN batasi Imajinasi & Mimpi Anak Negeri untuk Mengabdi pada Ibu Pertiwi


Jangan berhenti berbuat baik sampai waktu memberhentikanmu


Kisah Aher di bumi Muhammad Al-Fatih


"KONSTRUKSI PERADABAN"

(Disampaikan oleh Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat, Keynote Speaker dalam acara Democratic and Economic Youth Summit (DEYS) 2013 oleh Persatuan Pelajar Indonesia Istanbul. 26 Oktober 2013. Kozyatağı Kültür Merkezi Kadıköy, Istanbul-Turki.)

***

HAL yang pertama kali saya ucapkan ketika turun dari pesawat Turkish Airline adalah ‘Inilah pertama kali saya menginjakkan kaki di bumi Muhammad Al-Fatih’. Ibnu Qayyim dan Ibnu Khaldun pernah berbicara panjang lebar mengenai syarat-syarat sebuah peradaban. Satu diantara syarat peradaban itu adalah masyarakatnya masih punya harapan. Tak salah jika kita bernyanyi ‘Harapan itu masih ada’.
Suatu ketika pemerintahan Turki jatuh kepemimpinan Sultan Abdul Hamid pada tahun 1924. Pada waktu itu Jawa Barat masih sebagian kawasan hutan sedangkan Istanbul pada waktu itu sudah menjadi kota besar, kota yang memegang peranan penting bagi dunia. Kemajuan peradaban ini tidak lain disebabkan oleh spirit keagamaan, spirit keislaman. Dan agama lain menjadi perekat di berbagai belahan dunia untuk membangun kebebasan, membangun kemerdekaan, dan membangun peradaban dlam waktu yang bersamaan.
Tentulah masih kita ingat ketika pemerintahan Umar bin Abdul Aziz bahwa tak seorangpun yang berhak menerima zakat pada waktu itu. Coba bayangkan dengan peradaban masa sekarang, tentu sangat jauh berbeda. Kesuksesan di masa itu mereka torehkan karena mereka berpegang teguh pada nilai-nilai agama.
Inilah KONSTRUKSI PERADABAN yang sesungguhnya, Allah SWT, Pencipta alam semesta ini mencipatakan manusia. Manusia adalah mahluk pertama di alam semesta ini, tidaklah mungkin ada kehadiran alam semesta tanpa kehadiran manusia. Bahkan tidaklah mungkin ada kehadiran alam semesta tanpa hadirnya cinta dari umat manusia.
‘Kalau tidak ada cinta dan kasih sayang diantara manusia saya tidak akan pernah menciptakan alam semesta ini’
Tentu karya manusia dibatasi oleh waktu, selain ada ruang tempat berupa alam semesta. Ternyata manusia dibatasi oleh ruang dan waktu. Al-Baqarah 38, Allah berfirman “Kalian dipersilahkan tinggal dibumi untuk waktu yang sudah ditentukan”
Ketika Allah SWT menciptakan manusia  di alam semesta, pada ruang waktu tertentu. Allah pun tidak meninggalkan manusia tanpa petunjuk. Allah memberikan petunjuk kepada kita supaya tidak sesat. Petunjuk itulah yang disebut dengan manhaj atau minhaj.

“Dia-lah Allah SWT yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar”. 

Jadi kita di bumi ini hidup dengan manual, ada sofwarenya yang mengajarkan kepada kita supaya hidup ini bertujuan yang benar. Baik tujuan dunia maupun akhirat kelak nanti. Oleh karena itu kita diminta untuk menghadirkan karya-karya yang kita masih dimanfaatkan oleh generasi-generasi berikutnya.
Secara fisik di Turki banyak karya sejarah, pembangunnya sudah wafat hari ini masih kita bisa manfaatkan karya bangunan fisiknya. Dan karya-karya pikiran ulama-ulama masa lalu. Di Indonesia, saya tinggal di gedung Pakuan. Gedung Pakuan sebagai tempat tinggal resmi gubernur Jawa Barat dibangun pada tahun 1884, sampai sekarang masih kokoh. Gedung Sate dibangun 1920, masih kokoh sampai sekarang. Bandingkan dengan bangunan yang dibangun anak negeri di masa sekarang ini dengan menggunakan proses tender. Biasnya umur manusianya masih hidup bangunannya sudah runtuh. Kenapa? Teorinya sederhana, karena ia tidak berpikir untuk membuat sejarah. Padahal ketika Allah menciptakan manusia dibumi pada waktu tertentu
Turki dalah salah satu negeri yang menorehkan peradaban islam pada masa silam dan mungkin pada yang masa akan datang. Dan jangan KHAWATIR, Allah akan mempergilirkan kepada umat manusia kesempatan untuk memimpin peradaban.
Seorang futuristik mengatakan bahwa bangsa-bangsa besar sudah mengalami, mendapatkan jatah kepemimpinan. Arab sudah, arab bagian barat sudah di Cordoba. Turki sudah. Mongolia sudah dalam menaklukkan Baghdad. Dan ada satu etnis besar yang belum kebagian menaklukkan dunia itulah etnis melayu. Kalau kemudian kita berbicara peradaban, dan kita berasal dari Indonesia adalah sangat wajar karena kita bangsa besar yang belum dapat giliran. Dan Allah akan mempergilirkan dengan cara adil. In sha Allah dimasa depan yang akan memimpin peradaban dunia adalah Indonesia.
Mungkin kita bertanya untuk apa kita membangun peradaban? Tentu ketinggian sebuah peradaban adalah cita-cita manusia. Adalah ketinggian visi manusia, visi sekelompok manusia. Adalah ketinggian penghambaan seorang manusia. Semangat semakin tinggi, semangat kemajuanpun semakin tinggi. Ketika kita bercita-cita besar di dunia ini untuk membangun peradaban, itu sama dengan kita bercita-cita besar membangun akhirat kita untuk hari kiamat nanti.
Manhaj Islam, Yusuf Qardhawi menjelaskan tentang manhaj keseimbangan, yakni seimbang dunia dan akhirat. Dalam surat Al-Jumu’ah 9 dan 10. Ketika azan Jum’at berkumandang tinggalkanlah segala aktifitas duniawi. Tetapi Allah juga kemudian melanjutkan dengan ‘ketika sholat jumat usai dilaksanakan, maka menyebarlah keseluruh muka bumi’. Tidak ada konsep tidur siang untuk mencari karunia Allah serta berzikir; inilah keseimbangan.
Jadi seorang muslim yang bercita-cita jadi orang kaya, berhak untuk itu. Seorang muslim yang bercita-cita untuk menjadi orang hebat, berkewajiban untuk itu. Orang kaya yang bersyukur lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah SWT daripada orang miskin yang bersabar. Lebih baik jadi orang kaya yang bersyukur daripada orang miskin yang bersabar. Pilih mana? Islam tidak memisahkan antara kaya dan syukur, tetapi justru memadukan keduanya dalam waktu yang bersamaan.
Sehingga salah satu jalan untuk membangaun peradaban adalah adalah orang kaya yang menggunakan hartanya dalam kebaikan. Karena 9 diantara 10 sahabat yang dijamin masuk surga adalah pengusaha. Rizki mempunyai 10 pintu, dan 9 pintunya adalah dengan menjadi pengusaha. Satunya adalah untuk para pegawai. Jadi kalau ada pegawai yang kaya raya, patut dicurigai. Jangan-jangan hasil korupsi.
Dalam makro ekonomi sebuah  egara dipandang normal kalau 4% dari populasinya adalah para pengusaha. Cina mempunyai 11% pengusaha dari jumlah penduduknya. Amerika 12% dari pendudukanya adalah pengusaha. Singapura 8.5 % penduduknya adalah pengusaha. Malaysia 3.5% penduduknya adalah pengusaha. Indonesia 0.8% penduduknya adalah pengusaha. Oleh karena itu pelajar di Turki ini jadilah pengusaha-pengusaha hebat di masa yang akan datang.
Kembali ke syarat peradaban yang dibangun manusia. Tak mungkin manusia tersebut membangun peradaban tanpa memiliki kualifikasi untuk membangun peradaban. Hasan Al-Banna menyebutkan beberapa kunci kualifikasi manusia pembangun peradaban: (1) akidah lurus (2) ibadah benar (3) karakter kuat (4) jasmani sehat (5) pikiran luas (6) mandiri secara ekonomi (7) kehidupan teratur (8) manajemen waktu kuat (9) bermanfaat bagi masyarakat.
Itu menurut Hasan Al-Banna, sedang menurut saya, saya meringkasnya menjadi 4 kriteria. Jauh sebelum Erdogan menyebut 4 sebagai symbol Rabia, saya sudah punya simbol 4 terlebih dahulu. Sejak zaman kampanye. Untuk menggambarkan wajah-wajah anak Indonesia: (1) cerdas (2) sehat (3) daya saing tinggi dan yang paling penting (4) taat kepada Allah SWT.
Saya ingin pelajar Indonesia yang ada di Turki, baik yang pulang maupun tidak pulang kembali. Jadilah orang-orang hebat. Tahun 1973, China mengirim seratus ribu lebih anak-anak China ke luar negeri sebagai pelajar. Kebijakan ini dikritik, kenapa mengirim pelajar banyak sekali ke luar negeri untuk sekolah? Jangan-jangan nanti tidak pulang. Kemudian pemimpinnya berkata ‘Saya hanya membutuhkan 10% saja yang pulang’ yang lain biarkan saja diluar. Dan pelajar yang di utus tahun 73 tersebut yang membangun Cina modern pada saat ini dengan GDP terbesar di dunia.
Anda pelajar Indonesia di Turki, pulang atau tidak pulang ke Indonesia. Tidak ada persoalan yang penting anda hadir untuk membangun sebuah peradaban yang hebat dimasa yang akan datang dan bawa nama Indonesia ke Turki dan ketempat-tempat yang lainnya.
Mudahah-mudahan pelajar Indonesia di Turki menjadi orang-orang yang hebat, hari ini anda menjadi pelajar, 15 tahun yang akan datang saya tidak lagi ceramah seperti ini karena anda sudah masuk kategori orang-orang yang berhasil, orang-orang hebat baik di Indonesia maupun di tempat lain.

***

Jadikanlah ....






Setiap detik adalah kerja ikhlas dengan amal heroik
 
Setiap detak adalah kerja cerdas dengan karya yang tercetak
 
Setiap tetes keringat adalah kerja keras
 sebagai syukur nikmat
 
Setiap tetes air mata adalah kerja mawas
 sebagai lautan maghfirah dan jadikanlah…

Setiap tetes darah adalah kerja tuntas jihad
untuk membersihkan dosa


Solikhin Abu Izzuddin
dalam Happy Ending Full Barokah