Buku, Pena dan Kita

 


Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Belasan Buku Biografi Tokoh Nasional

Selasa 29 April 2025, tepatnya setelah shalat ashar, saya mendapat kejutan dari sosok yang satu dekade lebih terakhir menekuni dunia kepenulisan dan telah menulis belasan judul buku dalam beragam tema. Tak disangka, tiba-tiba saya mendapat kiriman buku pesanan saya dari seorang sahabat yang berasal dari Kota Bima, NTB. Judul bukunya singkat dan padat tapi mengandung pesan panjang dan bermakna. “Buku, Pena dan Kita”, begitu judul besar buku berukuran 12 x 19 cm ini. Bagi saya bukunya menarik dan pembaca bakal dibikin penasaran.

Tak menunggu lama, seketika saya meminta bantuan istri saya, Eni Suhaeni, untuk membuka plastik bukunya. Setelah itu, saya langsung membacanya hingga tuntas tanpa jeda. Ini termasuk buku ke-40 yang saya baca satu kali duduk hingga selesai. Saya sengaja melakukan ini agar pesan buku yang saya baca langsung masuk ke pikiran saya. Buku ini sendiri menggambarkan tekad dan kesungguhan penulisnya untuk berbagi semangat dan giat sehingga siapapun terus berkarya terutama menulis buku.

Penulisnya adalah sahabat baik saya Iwan Wahyudi, akrab saya sapa Bang Iwan. Melalui buku setebal 179 (plus xx) ini, Bang Iwan sukses berbagi 171 buah motivasi yang menyadarkan, menggerakkan dan memajukan. Lagi-lagi, saya membaca buku ini dalam waktu yang cukup singkat dan sekali duduk. Hal ini bukan saja karena pilihan diksinya yang mudah dicerna sehingga langsung masuk akal, tapi memang ungkapan yang dimuat mencerminkan betapa besarnya motivasi penulisnya, yang menurut saya tak bisa dihitung bilang.

Saya menyarankan agar pembaca, terutama penulis pemula, segera memiliki dan membaca buku terbitan Zahir Publishing, Yogjakarta, Januari 2025 lalu ini secara tuntas. Jangan pernah malu dan ragu untuk memiliki atau membeli buku karya teman kita sendiri atau siapapun yang belum kita kenal. Berkaitan dengan semangat memiliki dan membaca buku, saya termasuk agak galak. Apa sebab? Karena tak sedikit yang begitu semangat mengeluarkan uang ratusan ribu bahkan jutaan rupiah demi makan dan minum di tempat mewah, tapi untuk karya teman sendiri seperti buku diminta gratis alias gratisan.

Saya kira, sebagai teman yang baik atau pembelajar yang giat, penulis pemula seperti saya, termasuk pecinta literasi di luar sana, kita harus berani memulai sesuatu yang kerap kita remehkan selama ini: membeli buku teman sendiri. Termasuk membeli buku Bang Iwan ini. Kita harus berani melawan egoisme yang mengkristal dan menggunung dalam diri kita. Jangan pernah bakhil kepada teman kita sendiri. Kita harus berani menjadi orang, bahkan bila perlu orang pertama yang ridho memiliki dan membaca buku karya teman kita sendiri. Kita harus bangga sekaligus antusias untuk memiliki atau membelinya.

Tentu pekerjaan selanjutnya adalah membaca dan memahami isi bukunya. Pikiran dan hati kita mesti siap sedia menampung inspirasi yang kita temukan atau dapatkan, bahkan bisa juga dengan menulis buku baru. Baik tema yang sama maupun tema yang baru. Karena pembaca yang baik bukan saja mampu membaca bukunya hingga tuntas, tapi juga berusaha untuk menulis buku baru. Buku, Pena dan Kita adalah tiga kata yang mewakili semangat Bang Iwan dalam menebar kebaikan dan semangat berbuat baik kepada siapapun selama ini. Ketiganya adalah tiga elemen paketan atau satu kesatuan yang saling melengkapi.

Berkaitan dengan hal tersebut, saya menjadi teringat dengan ungkapan salah satu tokoh penting negeri ini yang berasal dari Muhammadiyah: Prof. Dr. Haedar Nashir. Ketua Umum PP Muhammadiyah ini pernah mengatakan begini, “Jika kita ingin menjadi bangsa yang maju, datanglah ke museum, perpustakaan, dan toko buku. Melalui kesadaran budaya dan sejarah, kita dapat membangun Indonesia yang memiliki jiwa pada nilai-nilai agama, kebudayaan leluhur bangsa, dan Pancasila, yang kemudian dikapitalisasi menjadi sistem ilmu pengetahuan.”

Bang Iwan telah membuka jalan bagi siapapun untuk terus memastikan dunia literasi terutama kepenulisan di Indonesia terus menyala. Kita salut dan bangga pada Bang Iwan yang telah mengisi ruang yang selama ini tak banyak orang yang mau dan mampu mengisinya. Bagaimana pun, jumlah penulis buku di Indonesia semakin menurun dan tak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang kini mencapai 280 juta jiwa. Karena itu, kehadiran buku Bang Iwan ini menjadi pemantik semangat kita untuk segera berkarya. Selebihnya, kita perlu memastikan diri untuk menjalani tiga kunci peradaban maju ini: rajin membaca, giat menulis dan aktif mempublikasi tulisan. (*)

Iwan Wahyudi: Jejak Pena dan Pengabdian

 


Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia: Dari Kampung untuk Dunia”

IWAN Wahyudi, SE. Nama yang kini menumpang di sampul buku, di undangan seminar, dan di ruang-ruang kampus. Gelar itu bukan garis akhir, melainkan amanah. Ia persembahkan untuk dua orang yang melahirkannya, dan untuk semesta yang ia layani dengan karya. Karena ilmu, baginya, harus kembali menjadi cahaya.

Ia lahir di Jakarta, pada 17 Januari. Kota besar menjadi saksi pertama tangisnya, namun jiwanya kelak berlabuh ke timur. Tanggal itu menandai awal dari perjalanan panjang, dari gedung ibukota ke rumah sederhana, dari mimpi anak rantau ke kerja yang nyata. Di sanalah waktu mulai menuliskan takdirnya.

Keluarga

Ayahnya bernama Alm. H. Abdul Muthalib. Ibunya bernama Hj. Siti Safiah. Satu berdiri di depan papan tulis mengajar, satu menenun sabar di balik pintu rumah. Dari guru ia belajar disiplin dan ilmu, dari ibu ia belajar kasih dan doa. Dua tangan itu membentuk sumbu hidupnya.

Profesi orang tua sederhana, namun agung. Ayah adalah guru, ibu adalah IRT. Warisan harta dapat habis, namun warisan yang abadi adalah nilai. Kejujuran, kerja keras, dan tawakal. Itu bekal yang dibawa Iwan merantau. Dan itu pula yang menjaganya tetap berdiri.

Ia anak pertama dari dua bersaudara. Sebagai sulung, ia belajar memimpin sejak dini. Belajar menanggung, belajar mencontohkan. Meski nama saudaranya tidak disebut di sini, ikatan darah itu tetap menjadi rumah pulang. Keluarga kecil itu mengajarkannya arti tanggung jawab. Bahwa sulung adalah pelita bagi yang lain.

Pendidikan

Pendidikan dasar ia tempuh di SDN Kali Abang Tengah, Bekasi Utara, Bekasi, Jawa Barat. Di bangku kayu itu ia mengeja huruf pertama, dan meminjam buku untuk mengenal dunia. Tahun masuk dan lulus mungkin memudar, tapi semangat belajarnya tak pernah lulus. Sekolah itu menanamkan: mulai kecil, bermimpi besar.

Ia melanjutkan ke SLTPN 1 Belo, kini bernama SMPN 1 Palibelo, Kabupaten Bima. Jarak memisahkan dari orang tua, tapi mempertemukan dengan kemandirian. Di tanah Bima ia mengenal akar, dan mengenal dirinya yang sedang tumbuh. Lulus dari sana dengan keberanian melangkah jauh.

Masa SMA ia habiskan di SMUN 1 Raba, sekarang SMAN 1 Kota Bima. Remaja yang banyak bertanya dan mencari. Antara cita-cita dan kenyataan yang menantang. Ia lulus dengan dada penuh harapan, dan kaki yang siap merantau lagi. Bima memberinya identitas, dunia memberinya ujian.

Ia melanjutkan studi di Universitas Mataram (Unram) dan Universitas Teknologi Sumbawa (UTS). Kampus menjadi ruang kedua untuk ditempa. Di sana ia tidak hanya mengejar nilai, tapi juga mengejar makna. Dari dua almamater itu ia pulang membawa ilmu, pengalaman, dan luka yang mengajar

Organisasi

Kuliahnya ramai oleh organisasi. Ia menjadi Sekretaris LDK Baabul Hikmah. Ketua KAMMI Komisariat Unram. Anggota Bidang III BEM Fakultas. Anggota Tim 7 Perumus Pemira Langsung. Ketua BEM Unram. Hingga Ketua KAMMI Daerah NTB.

Mengapa ia berorganisasi? Karena ia percaya pada trilogi sukses mahasiswa: sukses akademik, sukses organisasi, sukses dakwah. Ruang kelas memberi teori, lapangan memberi jiwa. Di organisasi ia belajar memimpin tanpa arogan, melayani tanpa pamrih, dan memahami manusia di luar silabus.

Dampak organisasi besar bagi dirinya. Ia mengenal potensi diri, orang lain, dan lingkungan. Ia belajar bergaul dengan perbedaan yang heterogen. Ia bisa menyalurkan ide dan mewujudkannya. Ia punya banyak teman untuk bertukar mimpi. Organisasi mengasahnya, bukan sekadar menghias CV. Dari sanalah ia belajar arti kolaborasi.

Masa kuliah menyimpan banyak hal unik. Pertama kali ia berorasi di tengah demonstrasi. Pertama kali ia duduk di forum BEM SI tingkat nasional. Ia hidup mandiri dengan uang saku terbatas, tanpa mengeluh kepada orang tua. Ia pernah menjadi Co-Ass dosen saat praktikum. Dan ia mendirikan Mendirikan Keluarga Mahasiswa Islam (GAMAIS) Bima Domp

Inspirasi dan Prinsip Hidup

Hidup di rantau mengajarinya hal lain. Ia harus menentukan pilihan sendiri, memutuskan tanpa bayang-bayang orang tua. Di sanalah ia menemukan potensi tersembunyi, lalu menumbuhkannya hingga ke ujung kemampuan. Rantau bukan sekadar tempat tinggal,ia adalah guru yang tidak memberi raport.

Ada pengalaman yang membuatnya menangis: kegagalan. Air mata jatuh, dada sesak. Tapi dari sana lahir tekad untuk berbenah. Ia belajar bahwa jatuh bukan akhir, melainkan koreksi dari semesta. Dari luka ia bangkit lebih tertata. Dari gagal ia belajar cara menang.

Pengalaman paling berkesan saat kuliah adalah belajar menjadi manusia lebih baik. Dibanding masa pelajar, kuliah menuntut kedewasaan berpikir. Ia belajar salah, lalu meminta maaf. Ia belajar kalah, lalu menyiapkan menang. Itu pelajaran yang tidak ada di RPS.

Selama merantau ia menjaga tiga nilai. Beribadah dan beramal sebagai kunci keberhasilan. Kejujuran agar selamat di setiap jalan. Istiqamah agar kebaikan menjadi kebiasaan. Nilai itu tidak ia tulis di dinding, tapi ia jalani dalam langkah. Karena prinsip tanpa praktik adalah angin.

Sosok yang menginspirasinya adalah ayahnya. Sang ayah pernah merantau ke Jakarta, kuliah di IKIP Jakarta, kini UNJ. Dari kisah itu Iwan belajar arti berkorban. Merantau bukan lari, tapi menjemput takdir. Jejak ayah menjadi cahaya di depannya. Dan ia memilih berjalan di jalur yang sama.

Sosok yang paling berpengaruh dalam hidupnya adalah kedua orang tua dan para guru. Mereka tidak memberi jalan pintas, tapi memberi kompas agar tidak tersesat. Setiap nasihat menjadi pijakan kaki, setiap teladan menjadi cermin diri. Dari merekalah ia belajar menjadi manusia.

Nasihat orang tua menjadi modal hidupnya. “Berbuat terbaik di mana pun berada. Berbuat jujur apa pun posisimu. Patuhi perintah dan larangan-Nya.” Kalimat itu ia bawa ke rapat, ke orasi, ke meja kerja. Dan ia buktikan, kesederhanaan bisa menguatkan.

Ungkapan yang ia pegang adalah motto hidupnya. “Istiqomah pada kebenaran itu indah.” Kalimat itu menjadi kompas saat ragu. Menjadi penenang saat lelah. Kebenaran mungkin sepi, tapi istiqamah membuatnya ramai makna. Dan ia memilih setia di jalan itu.

Karier, Jejak dan Karya

Perjalanan kerjanya dimulai dari politik. Ia pernah menjadi Aspri Wakil Ketua DPRD NTB tahun 2010-2014. Lalu Direktur Inspirasi Wajah Negeri sejak 2014. Sekretaris pertama pada pengurus Yayasan Pengambangan Swadaya Ummat (YPSU) As-Syamil 2010-2017. Yayasan itu sekarang berkembang dengan mendirikan institusi pendidikan dari SD hingga perguruan tinggi di Desa Lenek Daya, Kecamatan Lenek, Kabupaten Lombok Timur. SDIT Nurul Jihad As-Syamil, SMPIT Cahaya Bangsa, SMAIT Cahaya Bangsa dan Lombok Institute of Technology (LIT). Kemudian Wakil Rektor III UTS tahun 2019-2020. Di masa itu prestasi mahasiswa UTS menanjak. Dari debat, PKM, hingga olahraga.

Di bawah kepemimpinannya sebagai Warek III, UTS menembus semifinal NUDC tingkat Kopertis VIII. 9 proposal PKM lolos pendanaan Dikti. UTS satu-satunya wakil PTN-PTS Bali-NTB di LKTIQ MTQMN. Kontingen terbesar UTS dikirim ke POMNAS Jakarta.

Ada juara karate, atletik, tenis meja, dan catur. Prestasi itu menjadi sejarah baru kampus. Ia juga pernah mengurus olahraga dan karakter. Pengurus Wilayah BAPOMI NTB tahun 2019-2020. Kepala BPKO UTS tahun 2020-2021. Kini ia menjabat Direktur Penerbit Panggita sejak tahun 2024. Selain itu ia menjadi pemateri di diskusi, seminar, dan pelatihan. Juga rutin menulis di media online.

Ia menekuni kepenulisan karena percaya, menulis adalah kerja keabadian dan amal jariyah. Ada puisi, esai, motivasi, dan catatan zaman. Setiap buku adalah jejak, agar namanya boleh hilang, tapi maknanya tetap hidup. Sejak 2016 ia telah melahirkan 32 karya.

Sebut saja: Best Seller Inspirasi dan Spirit Menjadi Manusia Luar Biasa (2016), Inspiring Words Mozaik Kata Penumbuh Motivasi (2019), Secangkir Inspirasi (2019), Energi Ramadhan Resonansi Hati di Bulan Suci (2020), Melawan Dengan Damai; Renungan Inspiratif di masa Pandemi (2020), dan Kepak Sayap Elang Muda; Dari Sumbawa untuk Semesta (2020).

Kemudian, Bind And Spread Love: Mengikat dan Menebar Cinta (2021), Kisah Pena Inspiratif (2022), Subuh Merah Padang Penantian (2022), Do The Best, Menghimpun Nikmat, Meracik Spirit Menjadi Manusia Hebat (2023), Melodi dari Rintik Gerimis (2023), 383 Puisi Untuk Bima (2023), Bocah Matahari: Syamsudin Kadir di Mata Sahabat (2023), Pemuda Negarawan, Dari Pemuda untuk Indonesia (2023), dan Kapita Selekta Pendidikan, Gagasan untuk Indonesia Emas 2045 (2024).

Lalu, Cloudburst (2024), Rindu Ibu (2024), Inspirasi 25 Tokoh Inspirasi Indonesia (2024), Bangkit Kaum Muda Majukan Indonesia (2024), Andai Aku Jadi Gubernur Jawa Barat (2024), Buku, Pena, dan Kita (2025), Rintik Berbisik (2025), Lembar untuk Ayah dan Ibu (2025), Tentang Senja, Rindu, dan Seduhan Teh (2025), Among The Clouds (2025), Dalam Pelukan Al-Qur’an (2025), Silent (2025), Ctrl+Z (2025), Hidup adalah Catatan (2025), Pemuda, Inspirasi Wajah Negeri (2025), Si Gila Literasi (2026), dan Bahasa Hujan Jilid 3 (2026)

Impian dan Pesan

Tentang rencana lanjutan studi, ia belum menuliskannya secara rinci. Gelar sarjana sudah ia persembahkan. Kini ia menunaikan tugas di lapangan. Mungkin ilmu akan dikejar lagi, ketika waktu dan amanah mengizinkan. Untuk sekarang, pengabdian adalah literasi dan sosial.

Mimpinya untuk Bima dan NTB sederhana. Mengembalikan kebaikan masa lalu yang tergerus oleh zaman. Ia ingin daerahnya naik kelas di tingkat nasional. Caranya lewat pembinaan pemuda dan literasi. Karena bangsa besar lahir dari yang muda membaca. Dan dari yang tua memberi teladan.

Untuk pelajar dan mahasiswa perantau ia berpesan. “Jadilah pelajar dan mahasiswa dengan segenap maknanya. Jangan takut gagal, dan jangan cepat puas saat berhasil. Gagal adalah guru, berhasil adalah ujian. Tanah rantau menguji mental sebelum menguji otak. Maka kuatkan hati dulu, baru melangkah.”

Terima Kasih

Untuk rektor dan para dosen ia bersujud syukur. “Terima kasih tak terhingga. Semoga menjadi amal yang tak pernah putus. Guru bisa lupa nama muridnya, tapi murid tak akan lupa gurunya.” Ilmu adalah utang budi, yang harus dibayar dengan cara mengamalkannya.

Cinta itu tidak selesai di dunia. Untuk orang tua ia menitipkan rindu dan doa. “Terima kasih. Dari rahim dan darah kalian aku lahir ke dunia, mengenal Sang Pencipta, dan bisa berbuat untuk semesta. Semoga ini jadi amal jariyah, yang tak putus hingga dipertemukan di jannah-Nya.” (*)


Omicron Mengganas, Kasus Covid-19 di AS Tembus 1 Juta/Hari!

 


Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) kembali melaporkan rekor jumlah kasus harian Covid-19. Data dari Universitas Johns Hopkins (JHU) mencatat ada sebanyak 1.082.549 kasus harian per Senin (3/1/2022) waktu setempat.

Melansir CNBC International, kenaikan kasus harian dipicu oleh varian omicron yang sangat menular. Rata-rata tujuh hari, kasus baru Covid di AS mencapai rekor 363.592 per hari, menurut data JHU.

Penghitungan harian baru menjadikan jumlah total kasus yang dikonfirmasi di AS sejak awal pandemi menjadi 56.189.547. Secara total, virus tersebut telah menyebabkan 827.748 kematian di seluruh Negeri Paman Sam.

Data JHU menunjukkan bahwa negara bagian dengan jumlah kasus baru terkonfirmasi tertinggi di atas 100.000 orang adalah Maryland, Alabama, Delaware, New Jersey, dan Ohio.

Data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS sebelumnya mengatakan varian Omicron diperkirakan 58,6% lebih banyak dibandingkan varian virus corona yang beredar di Amerika Serikat pada 25 Desember 2021.

Anthony Fauci, pakar penyakit menular terkemuka asal AS juga sempat mengatakan negaranya akan menghadapi bahaya lonjakan rawat inap pasien Covid-19. Sebab, gelombang kasus baru diperkirakan akan muncul meski data awal menunjukkan varian Omicron tidak terlalu parah.

Pekan lalu, CDC juga telah mengurangi periode isolasi yang direkomendasikan untuk orang dengan Covid-19 tanpa gejala menjadi lima hari, turun dari 10 hari. Kebijakan tersebut tidak memerlukan pengujian untuk mengonfirmasi bahwa seseorang tidak lagi menularkan sebelum mereka kembali bekerja atau bersosialisasi.

 sumber : https://www.cnbcindonesia.com/news/20220104180311-4-304579/omicron-mengganas-kasus-covid-19-di-as-tembus-1-juta-hari

Jumlah Kasus COVID-19 Harian di Dunia Melampaui 1 Juta Kasus

 

Orang-orang menunggu dalam antrean panjang di Indianapolis Motor Speedway untuk pengujian dan vaksin penyakit virus corona (COVID-19) ketika varian Omicron terus menyebar di Indianapolis, Indiana, AS, Rabu (29/12/2021). Gambar diambil dengan drone. (ANTARA FOTO/REUTERS/Cheney Orr/rwa/sa.)



Washington, D.C., Gatra.com - Covid-19 makin mengkhawatirkan. Menurut penghitungan, jumlah kasus baru COVID-19 harian di seluruh dunia sudah melampaui 1 juta kasus untuk pertama kalinya. Hal ini sejak infeksi pertama kali tercatat dua tahun lalu, di mana pandemi dimulai pada Maret 2020.

Sementara itu, Al Jazeera melaporkan pada Kamis, 30 Desember 2021, infeksi baru COVID-19 di Amerika Serikat telah melonjak ke level tertinggi, dimana angka kasus harian tembus angka 400 ribu kasus. Diketahui, sebagian besar didorong oleh varian virus corona Omicron yang sangat menular.

Yang mengkhawatirkan, kasus Covid-19 pada anak-anak usia di bawah 5 tahun, mengalami pengingkatan. padahal anak-anak umur ini belum bisa divaksinasi. 

Adapun, Australia juga mencapai rekor barunya pada hari Kamis, (30/12). Hal ini dikarenakan mereka melonggarkan persyaratan untuk tes COVID-19.

Di samping itu, World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia memperingatkan bahwa varian Omicron dan Delta dapat menghasilkan "tsunami" kasus COVID-19, yang akan memberikan "tekanan besar" pada sistem perawatan kesehatan.

sumber : Gatra.com | 30 Dec 2021 22:53

[REFLEKSI SENJA]

 


SUKSES DAN GAGAL

Sukses itu bukan tak pernah gagal, tapi bisa membahagiakan orang banyak diluar diri sendiri.
Gagal bukan tanda titik, bisa jadi ia tanda koma yang sengaja dibuat sebagai pijakan memeluk sekaligus beberapa kesuksesan.

DATANG DAN PERGI
Hidup sebenarnya cuma panggung perjumpaan sebelum memasuki panggung berikutnya. Siapa yang datang sambutlah dan yang pergi ikhlaskan.
Yang akan selalu hidup ialah amal, kenangan dan tulisan yang melintasi jaman walau telah berjumpa kematian.

DIINGAT DAN DILUPAKAN
Dosa dan kesalahan harus selalu diingat agar tak terulang dan ketagihan, kebaikan  dan amal lupakan bersama hembusan waktu.
Yang berbahaya jika hati dan pikiran tak lagi mengingat-Nya dengan sebenar-benarnya ingatan dan diri terlupakan oleh-Nya 

KESETIAAN DAN PENGKHIANATAN
Tetaplah kokoh berpijak dan menggenggam janji walau tak harus berteriak dan selalu diulang oleh lisan karena diri paling tau kapan setiap janji dapat tertunaikan.
Para pengkhianat pasti akan ditemui, yang mereka rampas sebenarnya bukan jatah rezekimu dari-Nya. Mereka sedang menipu diri dengan  menyambut rezekinya  sendiri dengan cara hina dan nista.

LEMBARAN LAMA DAN LEMBARAN BARU
Setiap datang pagi, lembaran kemarin penuh atau kosong tetap harus ditinggalkan karena lembaran baru telah tersaji untuk diisi atau tetap dibiarkan tanpa setitik tintapun. 
Setiap hari mustahil ada cerita yang sama terus dalam episode hidup. Tapi, tiap hari selalu ada kisah yang diperankan. Tinggal bagaimana keberanian menulis lembarannya untuk dibaca banyak orang, bukan memenuhi kepuasan diri yang subyektif semata.

DO’A DAN HARAPAN
Harapan setiap saat bukan berkurang, namun akan bertambah  dan beragam karena kebutuhan fitrah manusia yang tak pernah cukup. Manusia tanpa harapan, manusia tanpa gairah menghadapi kehidupan dan masa depan.
Ada do’a yang telah berusia panjang, namun belum terwujud. Ada juga do’a yang baru sekejab terkabul lebih cepat dari permohonan. Ia urusan-Nya, kapan, dimana, sa’at apa dan bagaimana mengijabahnya. Tugas diri tak jera dan lelah mengetuk pintu langit-Nya.

Senja 31122020
#IWANwahyudi
#MariBerbagiMakna #reHATIwan
#InspirasiWajahNegeri
@iwanwahyudi1
@inspirasiwajahnegeri