Oase Iman
Isra’ Mi’raj (2)
Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala.
Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad,
juga untuk segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang
menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.
Amma ba’du. Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
Saya kira, Anda semua telah mengetahui
bahwa Hadits Tsulatsa kali ini mengambil tema Isra’ Mi’raj. Tema ini
dibahas oleh para Ikhwan bukan sebagai kisah semata, tetapi di satu sisi
sebagai pelajaran dan di sisi yang lain sebagai pemacu amal. Sebagai
kisah, cukuplah kita mendapatkan informasi yang dibawa oleh Al-Qur’anul
Karim, “Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada
suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami
berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari
tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar
lagi Maha Melihat.”(QS. Al-Isra’: 1 )
Ayat ini mengandung keterangan mengenai
Isra’. Di antara makna yang dikandungnya, ayat ini menyebut Masjidil
Aqsha, padahal bila ditinjau dari definisi masjid saat itu, ia belum
merupakan sebuah masjid, melainkan sekedar tempat ibadah. Sebutan masjid
yang digunakan oleh Allah dapat menjadi pemicu bagi kaum muslimin untuk
masjid ini, menguasai tanah yang diberkahi ini, memperjuangkannya, dan
menjaganya jangan sampai lepas dari tangan mereka. Ini juga merupakan
isyarat bahwa ia kelak menjadi masjid dan ia akan tetap demikian,
sekalipun orang-orang kafir membencinya. Semoga Allah memberikan pahala
kebaikan kepada tamu Mesir yang agung, Samahah Mufti Akbar yang telah
berulang kali mempertaruhkan darahnya agar Masjidil Aqsha ini tetap
merupakan masjid. Orang-orang Yahudi pernah menawari beliau tebusan
sebesar satu juta pound agar memberikan konsesi dengan menyerahkan tiga
belas meter tanah di Masjidil Aqsha. Beliau menjawab dengan keimanan
mendalam, “Demi Allah, andaikata kalian mampu mengumpulkan seluruh harta
orang-orang Yahudi di dunia, niscaya aku tidak akan menyerahkan kepada
kalian walaupun hanya setengah meter.” Kenyataannya, merupakan salah
satu mukjizat Islam dan sebab terjaganya Masjidil Aqsha, karena Allah
memudahkan orang-orang semacam Samahah Mufti untuk mengambil sikap agung
ini.
Sebagaimana telah menyinggung tentang peristiwa Isra’, Allah juga menyinggung tentang peristiwa Mi’raj, di dalam firman-Nya, “Dan
sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang
asli) pada waktu yang lain. (Yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada
surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan)Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm: 13-18)
Yang penting kita perhatikan tentang
Isra’ dan Mi’raj adalah banyak manusia menganggap bahwa Isra’ dan Mi’raj
merupakan peristiwa yang bertentangan dengan hukum-hukum alam, karena
perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain dengan jarak seperti
ini merupakan hal yang mustahil berdasarkan kebiasaan. Duhai, masih
cukup baik jika mereka berhenti sampai pada batas ini, namun ternyata
lebih dari itu. Mereka berkata, “Beliau dinaikkan ke langit, lantas
bagaimana beliau bernapas?” Selama masa yang panjang mereka masih ragu
terhadap peristiwa ini.
Para salaf pendahulu kita mempunyai
jawaban atas pertanyaan ini. Dan jawaban mereka tetap sama yaitu,
“Sesungguhnya peristiwa ini adalah mukjizat yang berlangsung di luar
kebiasaan. Kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala bisa mewujudkan hal-hal semacam itu, dan itu merupakan sunah-sunah yang dikenal di kalangan orang-orang yang beriman.”
“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kalian (berbuat durhaka) terhadap Tuhan kalian Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kalian lalu menyempurnakan kejadian kalian dan menjadikan (susunan tubuh) kalian seimbang. Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuh kalian.” (QS. Al-lnfithar: 6-8)
Bahkan, kita katakan kepada orang-orang
yang ragu tersebut, “Mari berpikir sejenak! Apakah kalian telah
mengetahui seluruh hukum yang berlaku di alam semesta? Anda sendiri
mengakui bahwa Anda belum mengetahui seluruh kekuatan yang tersimpan di
alam semesta dan tidak mengetahui secara menyeluruh tentang hukum-hukum
alam. Karena itu, anggap saja ini sebagai suatu hal yang belum Anda
ketahui ilmunya dan belum sampai kepada akal pikiran Anda.
“Dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra’: 85)
Andaikata Anda memperhatikan sejarah
penemuan-penemuan ilmiah, niscaya Anda ingat bagaimana setiap penemuan
disikapi dengan penolakan dan pengingkaran. Kemudian akal manusia tunduk
mengikuti hukum realitas setelah sebelumnya mengingkari dan menolak.
Kita juga mengatakan kepada mereka,
“Ilmu empirik yang Anda andalkan telah membuktikan bahwa kekuatan psikis
bisa mempengaruhi jasad fisik, sehingga bisa memindahkannya dari satu
tempat ke tempat lain dan mengangkatnya dari permukaan tanah. Jika
manusia dengan kekuatan psikisnya mampu melakukan keajaiban-keajaiban
itu, maka mustahilkah bagi Allah untuk memberikan kekuatan jiwa kepada
Nabi-Nya, yang menguasai badan beliau yang mulia, sehingga badan
tersebut berubah menjadi ruh murni, dan badan ruhani ini menembus materi
tersebut, karena ia telah keluar dari ruang lingkup materi kepada ruang
lingkup ruhani.” Semoga Allah merahmati Asy-Syauqi yang mengatakan, ‘Dengan keduanya beliau diisra’kan Ruh, ruhani, dan cahaya.’
Mereka mengatakan, “Sesungguhnya Musa alayhissalaam setelah selesai dari masa berbicara dengan Allah Yang Mahatinggi, bisa mendengar rayapan semut dari jarak empat farsakh.” Maka, bagaimana pula menurut Anda jika hal itu dalam keadaan tajalli. Bagaimana pula dengan Rasul shalallahu ‘alayhi wa sallam sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala telah bertajalli terhadap
beliau dengan keruhanian yang sempurna. Mustahilkah bagi beliau untuk
menembus batas-batas materi. Jadi pada malam tersebut, ruh adalah yang
berkuasa atas hakikat fisik.
Ada satu kajian lain yang penting bagi
kita, yaitu hikmah Isra’ dan Mi’raj. Sebagian orang bertanya, “Apa
hikmah Isra’ Mi’raj?” Menjawab pertanyaan ini, para Salaf pendahulu kita
berkata, “Allah berkehendak untuk memuliakan Nabi-Nya shalallahu ‘alayhi wa sallam, karena itu Allah memanggil beliau dan membukakan di hadapannya kerajaan langit dan bumi.”
‘Jika Sang Raja dari semua raja memberi. Jangan sekali-kali kamu bertanya tentang sebabnya.’
Kita katakan, “Isra’ Mi’raj merupakan keharusan demi pembentukan kepribadian beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam. Karena Allah subhanahu wa ta’ala
telah mengutus beliau sebagai penghulu bagi seluruh orang yang beriman
dan guru dari segala guru. Allah telah menjadikan beliau sebagai mata
air jernih dan pemancar cahaya, yaitu cahaya ilmu dan petunjuk, untuk
segenap makhluk.
Beliau adalah dinamo yang akan
memberikan energi untuk dunia secara keseluruhan, maka harus diisi
dengan sebanyak mungkin ilmu dan iman. Sedangkan ilmu dan iman yang
paling kuat adalah apabila muncul dari kesaksian. Karena itu, Allah
memperlihatkan kepada beliau kerajaan langit dan bumi, agar beliau
termasuk dalam golongan orang-orang yang yakin, sehingga iman beliau
adalah iman berdasarkan kesaksian dan ilmu beliau adalah ilmu yang
berdasarkan keyakinan pula.
“Dan karena Allah telah menurunkan
Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum
kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.” (QS. An-Nisa’: 113)
Jika Allah telah memperlihatkan kerajaan langit dan bumi kepada Ibrahim, maka Allah subhanahu wa ta’ala pun memperlihatkan kepada nabi-Nya shalallahu ‘alayhi wa sallam
kerajaan langit dan bumi tersebut, agar beliau menjadi salah seorang
yang yakin, dengan bentuk yang lebih nyata dan lebih sempurna daripada
yang dilihat oleh Ibrahim. Karena beliau adalah penutup para nabi dan
sumber petunjuk bagi seluruh manusia.
“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan: 1)
Ini yang pertama.
Yang kedua, dalam perjalanan ini, telah diwajibkan shalat. Itu sebagai pernyataan mengenai keagungan kedudukan shalat. Allah subhanahu wa ta’ala
hendak menyadarkan beliau mengenai ketinggian nilai shalat, karena itu
Allah memerintahkannya langsung dari langit, agar menjadi pemakluman
mengenai kuat dan agungnya keutamaan kewajiban ini dan agar manusia
melihat ketinggian nilainya. Barangsiapa yang telah menegakkan kewajiban
ini, berarti ia telah menegakkan agama.
Ada hikmah ketiga, yaitu sebagai pelajaran. Allah subhanahu wa ta’ala
seolah-olah mengatakan kepada umat ini, “Wahai umat Islam, yang Nabinya
dikehendaki oleh Allah untuk menyaksikan semua alam ini sebagai
penghormatan baginya, janganlah kalian menjadi ekor bagi umat lain,
jangan menerima kehinaan, tetapi hendaklah kalian merasa tinggi, dan
janganlah kalian berprasangka bahwa meneladani Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam itu hanya untuk satu aspek dengan mengabaikan aspek lain, tetapi meneladani beliau harus dalam seluruh aspek.”
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasul Allah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Kita hanya memohon kepada Allah agar
mengembalikan kemuliaan dan kejayaan untuk umat ini, karena Dia adalah
semulia-mulia Dzat yang dimohon dan seutama-utama Dzat yang diminta.
Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Sayidina Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya.
Sumber : http://www.hasanalbanna.com






0 komentar: