Iwan Wahyudi: Jejak Pena dan Pengabdian
Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia: Dari Kampung untuk Dunia”
IWAN Wahyudi,
SE. Nama yang kini menumpang di sampul buku, di undangan seminar, dan di
ruang-ruang kampus. Gelar itu bukan garis akhir, melainkan amanah. Ia
persembahkan untuk dua orang yang melahirkannya, dan untuk semesta yang ia
layani dengan karya. Karena ilmu, baginya, harus kembali menjadi cahaya.
Ia lahir di
Jakarta, pada 17 Januari. Kota besar menjadi saksi pertama tangisnya, namun
jiwanya kelak berlabuh ke timur. Tanggal itu menandai awal dari perjalanan
panjang, dari gedung ibukota ke rumah sederhana, dari mimpi anak rantau ke
kerja yang nyata. Di sanalah waktu mulai menuliskan takdirnya.
Keluarga
Ayahnya bernama
Alm. H. Abdul Muthalib. Ibunya bernama Hj. Siti Safiah. Satu berdiri di depan
papan tulis mengajar, satu menenun sabar di balik pintu rumah. Dari guru ia
belajar disiplin dan ilmu, dari ibu ia belajar kasih dan doa. Dua tangan itu
membentuk sumbu hidupnya.
Profesi orang
tua sederhana, namun agung. Ayah adalah guru, ibu adalah IRT. Warisan harta
dapat habis, namun warisan yang abadi adalah nilai. Kejujuran, kerja keras, dan
tawakal. Itu bekal yang dibawa Iwan merantau. Dan itu pula yang menjaganya
tetap berdiri.
Ia anak pertama
dari dua bersaudara. Sebagai sulung, ia belajar memimpin sejak dini. Belajar
menanggung, belajar mencontohkan. Meski nama saudaranya tidak disebut di sini,
ikatan darah itu tetap menjadi rumah pulang. Keluarga kecil itu mengajarkannya
arti tanggung jawab. Bahwa sulung adalah pelita bagi yang lain.
Pendidikan
Pendidikan dasar
ia tempuh di SDN Kali Abang Tengah, Bekasi Utara, Bekasi, Jawa Barat. Di bangku
kayu itu ia mengeja huruf pertama, dan meminjam buku untuk mengenal dunia.
Tahun masuk dan lulus mungkin memudar, tapi semangat belajarnya tak pernah
lulus. Sekolah itu menanamkan: mulai kecil, bermimpi besar.
Ia melanjutkan
ke SLTPN 1 Belo, kini bernama SMPN 1 Palibelo, Kabupaten Bima. Jarak memisahkan
dari orang tua, tapi mempertemukan dengan kemandirian. Di tanah Bima ia
mengenal akar, dan mengenal dirinya yang sedang tumbuh. Lulus dari sana dengan
keberanian melangkah jauh.
Masa SMA ia
habiskan di SMUN 1 Raba, sekarang SMAN 1 Kota Bima. Remaja yang banyak bertanya
dan mencari. Antara cita-cita dan kenyataan yang menantang. Ia lulus dengan
dada penuh harapan, dan kaki yang siap merantau lagi. Bima memberinya
identitas, dunia memberinya ujian.
Ia melanjutkan
studi di Universitas Mataram (Unram) dan Universitas Teknologi Sumbawa (UTS).
Kampus menjadi ruang kedua untuk ditempa. Di sana ia tidak hanya mengejar
nilai, tapi juga mengejar makna. Dari dua almamater itu ia pulang membawa ilmu,
pengalaman, dan luka yang mengajar
Organisasi
Kuliahnya ramai
oleh organisasi. Ia menjadi Sekretaris LDK Baabul Hikmah. Ketua KAMMI
Komisariat Unram. Anggota Bidang III BEM Fakultas. Anggota Tim 7 Perumus Pemira
Langsung. Ketua BEM Unram. Hingga Ketua KAMMI Daerah NTB.
Mengapa ia
berorganisasi? Karena ia percaya pada trilogi sukses mahasiswa: sukses
akademik, sukses organisasi, sukses dakwah. Ruang kelas memberi teori, lapangan
memberi jiwa. Di organisasi ia belajar memimpin tanpa arogan, melayani tanpa
pamrih, dan memahami manusia di luar silabus.
Dampak
organisasi besar bagi dirinya. Ia mengenal potensi diri, orang lain, dan
lingkungan. Ia belajar bergaul dengan perbedaan yang heterogen. Ia bisa
menyalurkan ide dan mewujudkannya. Ia punya banyak teman untuk bertukar mimpi.
Organisasi mengasahnya, bukan sekadar menghias CV. Dari sanalah ia belajar arti
kolaborasi.
Masa kuliah
menyimpan banyak hal unik. Pertama kali ia berorasi di tengah demonstrasi.
Pertama kali ia duduk di forum BEM SI tingkat nasional. Ia hidup mandiri dengan
uang saku terbatas, tanpa mengeluh kepada orang tua. Ia pernah menjadi Co-Ass
dosen saat praktikum. Dan ia mendirikan Mendirikan Keluarga Mahasiswa Islam
(GAMAIS) Bima Domp
Inspirasi dan Prinsip Hidup
Hidup di rantau
mengajarinya hal lain. Ia harus menentukan pilihan sendiri, memutuskan tanpa
bayang-bayang orang tua. Di sanalah ia menemukan potensi tersembunyi, lalu
menumbuhkannya hingga ke ujung kemampuan. Rantau bukan sekadar tempat
tinggal,ia adalah guru yang tidak memberi raport.
Ada pengalaman
yang membuatnya menangis: kegagalan. Air mata jatuh, dada sesak. Tapi dari sana
lahir tekad untuk berbenah. Ia belajar bahwa jatuh bukan akhir, melainkan
koreksi dari semesta. Dari luka ia bangkit lebih tertata. Dari gagal ia belajar
cara menang.
Pengalaman
paling berkesan saat kuliah adalah belajar menjadi manusia lebih baik.
Dibanding masa pelajar, kuliah menuntut kedewasaan berpikir. Ia belajar salah,
lalu meminta maaf. Ia belajar kalah, lalu menyiapkan menang. Itu pelajaran yang
tidak ada di RPS.
Selama merantau
ia menjaga tiga nilai. Beribadah dan beramal sebagai kunci keberhasilan.
Kejujuran agar selamat di setiap jalan. Istiqamah agar kebaikan menjadi
kebiasaan. Nilai itu tidak ia tulis di dinding, tapi ia jalani dalam langkah.
Karena prinsip tanpa praktik adalah angin.
Sosok yang
menginspirasinya adalah ayahnya. Sang ayah pernah merantau ke Jakarta, kuliah
di IKIP Jakarta, kini UNJ. Dari kisah itu Iwan belajar arti berkorban. Merantau
bukan lari, tapi menjemput takdir. Jejak ayah menjadi cahaya di depannya. Dan
ia memilih berjalan di jalur yang sama.
Sosok
yang paling berpengaruh dalam hidupnya adalah kedua orang tua dan para guru.
Mereka tidak memberi jalan pintas, tapi memberi kompas agar tidak tersesat.
Setiap nasihat menjadi pijakan kaki, setiap teladan menjadi cermin diri. Dari
merekalah ia belajar menjadi manusia.
Nasihat orang
tua menjadi modal hidupnya. “Berbuat terbaik di mana pun berada. Berbuat jujur
apa pun posisimu. Patuhi perintah dan larangan-Nya.” Kalimat itu ia bawa ke
rapat, ke orasi, ke meja kerja. Dan ia buktikan, kesederhanaan bisa menguatkan.
Ungkapan yang ia
pegang adalah motto hidupnya. “Istiqomah pada kebenaran itu indah.” Kalimat itu
menjadi kompas saat ragu. Menjadi penenang saat lelah. Kebenaran mungkin sepi,
tapi istiqamah membuatnya ramai makna. Dan ia memilih setia di jalan itu.
Karier, Jejak dan Karya
Perjalanan
kerjanya dimulai dari politik. Ia pernah menjadi Aspri Wakil Ketua DPRD NTB
tahun 2010-2014. Lalu Direktur Inspirasi Wajah Negeri sejak 2014. Sekretaris pertama
pada pengurus Yayasan Pengambangan Swadaya Ummat (YPSU) As-Syamil 2010-2017.
Yayasan itu sekarang berkembang dengan mendirikan institusi pendidikan dari SD
hingga perguruan tinggi di Desa Lenek Daya, Kecamatan Lenek, Kabupaten Lombok
Timur. SDIT Nurul Jihad As-Syamil, SMPIT Cahaya Bangsa, SMAIT Cahaya Bangsa dan
Lombok Institute of Technology (LIT). Kemudian Wakil Rektor III UTS tahun
2019-2020. Di masa itu prestasi mahasiswa UTS menanjak. Dari debat, PKM, hingga
olahraga.
Di bawah
kepemimpinannya sebagai Warek III, UTS menembus semifinal NUDC tingkat Kopertis
VIII. 9 proposal PKM lolos pendanaan Dikti. UTS satu-satunya wakil PTN-PTS
Bali-NTB di LKTIQ MTQMN. Kontingen terbesar UTS dikirim ke POMNAS Jakarta.
Ada juara
karate, atletik, tenis meja, dan catur. Prestasi itu menjadi sejarah baru
kampus. Ia juga pernah mengurus olahraga dan karakter. Pengurus Wilayah BAPOMI
NTB tahun 2019-2020. Kepala BPKO UTS tahun 2020-2021. Kini ia menjabat Direktur
Penerbit Panggita sejak tahun 2024. Selain itu ia menjadi pemateri di diskusi,
seminar, dan pelatihan. Juga rutin menulis di media online.
Ia menekuni
kepenulisan karena percaya, menulis adalah kerja keabadian dan amal jariyah.
Ada puisi, esai, motivasi, dan catatan zaman. Setiap buku adalah jejak, agar
namanya boleh hilang, tapi maknanya tetap hidup. Sejak 2016 ia telah melahirkan
32 karya.
Sebut saja: Best
Seller Inspirasi dan Spirit Menjadi Manusia Luar Biasa (2016), Inspiring Words
Mozaik Kata Penumbuh Motivasi (2019), Secangkir Inspirasi (2019), Energi Ramadhan
Resonansi Hati di Bulan Suci (2020), Melawan Dengan Damai; Renungan Inspiratif
di masa Pandemi (2020), dan Kepak Sayap Elang Muda; Dari Sumbawa untuk Semesta
(2020).
Kemudian,
Bind And Spread Love: Mengikat dan Menebar Cinta (2021), Kisah Pena Inspiratif
(2022), Subuh Merah Padang Penantian (2022), Do The Best, Menghimpun Nikmat,
Meracik Spirit Menjadi Manusia Hebat (2023), Melodi dari Rintik Gerimis (2023),
383 Puisi Untuk Bima (2023), Bocah Matahari: Syamsudin Kadir di Mata Sahabat
(2023), Pemuda Negarawan, Dari Pemuda untuk Indonesia (2023), dan Kapita
Selekta Pendidikan, Gagasan untuk Indonesia Emas 2045 (2024).
Lalu, Cloudburst
(2024), Rindu Ibu (2024), Inspirasi 25 Tokoh Inspirasi Indonesia (2024),
Bangkit Kaum Muda Majukan Indonesia (2024), Andai Aku Jadi Gubernur Jawa Barat
(2024), Buku, Pena, dan Kita (2025), Rintik Berbisik (2025), Lembar untuk Ayah
dan Ibu (2025), Tentang Senja, Rindu, dan Seduhan Teh (2025), Among The Clouds
(2025), Dalam Pelukan Al-Qur’an (2025), Silent (2025), Ctrl+Z (2025), Hidup
adalah Catatan (2025), Pemuda, Inspirasi Wajah Negeri (2025), Si Gila Literasi
(2026), dan Bahasa Hujan Jilid 3 (2026)
Impian dan Pesan
Tentang rencana
lanjutan studi, ia belum menuliskannya secara rinci. Gelar sarjana sudah ia
persembahkan. Kini ia menunaikan tugas di lapangan. Mungkin ilmu akan dikejar
lagi, ketika waktu dan amanah mengizinkan. Untuk sekarang, pengabdian adalah
literasi dan sosial.
Mimpinya untuk
Bima dan NTB sederhana. Mengembalikan kebaikan masa lalu yang tergerus oleh
zaman. Ia ingin daerahnya naik kelas di tingkat nasional. Caranya lewat
pembinaan pemuda dan literasi. Karena bangsa besar lahir dari yang muda
membaca. Dan dari yang tua memberi teladan.
Untuk pelajar
dan mahasiswa perantau ia berpesan. “Jadilah pelajar dan mahasiswa dengan
segenap maknanya. Jangan takut gagal, dan jangan cepat puas saat berhasil.
Gagal adalah guru, berhasil adalah ujian. Tanah rantau menguji mental sebelum
menguji otak. Maka kuatkan hati dulu, baru melangkah.”
Terima Kasih
Untuk rektor dan
para dosen ia bersujud syukur. “Terima kasih tak terhingga. Semoga menjadi amal
yang tak pernah putus. Guru bisa lupa nama muridnya, tapi murid tak akan lupa
gurunya.” Ilmu adalah utang budi, yang harus dibayar dengan cara
mengamalkannya.
Cinta itu tidak
selesai di dunia. Untuk orang tua ia menitipkan rindu dan doa. “Terima kasih.
Dari rahim dan darah kalian aku lahir ke dunia, mengenal Sang Pencipta, dan
bisa berbuat untuk semesta. Semoga ini jadi amal jariyah, yang tak putus hingga
dipertemukan di jannah-Nya.” (*)







0 komentar: