[KITA BUTUH CERMIN AKHIR TAHUN UNTUK MENUMBUHKAN RESOLUSI]

 


"Manusia memiliki sepasang mata yang dapat memandang apa saja, tapi satu yang tak bisa ia lihat yaitu dirinya sendiri ".
Setiap akhir tahun, rutinitas refleksi akhir tahun sangat ramai mulai dari ulasan tertulis para pakar berbagai bidang dimedia cetak hingga acara talkshow ditelevisi. Refleksi tersebut tak cukup dilakukan sehari atau semalam saja bahkan berhari-hari. Selain refleksi 365 hari yang telah berjalan, ditambah lagi sesi prospek tahun depan terkait semua bidang kehidupan : ekonomi, politik, keamanan, hukum dan sebagainya. Hampir semua energi anak bangsa terfokus padahal tersebut. Hingga melupakan satu hal, melakukan refleksi pada diri sendiri. Kita lupa sebuah komunitas besar bernama masyarakat, negara hingga tatanan dunia terdiri dari personal orang perorang.
Mari mengambil cermin untuk menatap bayangan kita sejenak saja. Dari rutinitas yang begitu menyita waktu, dari ritual tahunan merefleksi hal besar namun, rapuh menatap pori-pori kekurangan personal yang harus ditutupi segera agar tak menjalar dan mengurangi kecantikan wajah besar tersebut.
Mengapa kita harus bercermin untuk melihat bayangan kita ? karena cermin memliki keistimewaan dalam kesederhanaan bentuknya yang datar dan pipih tersebut.
1. Kita dapat melihat semua bagian tubuh dengan utuh. Sesuai dengan kebutuhan dan keinginan kita. Dari ujung rambut sampai kaki sekaligus atau fokus pada bagian tertentu saja yang kita butuhkan.
2. Cermin akan memperlihatkan sisi tubuh kita yang perlu diperbaiki.
3. Kita akan merasa nyaman karena cermin tak pernah mengejek atau membully kekurangan kita
4. Cermin tak pernah menyimpan bayangan kita untuk diperlihatkan pada orang lain yang bercermin berikutnya.
Dari kejujuran dan setianya cermin memperlihatan diri kita dan merahasiakannya dari orang lain tersebut, tak cukup membuat kita utuh menerimanya jika tidak menghadirkan empat hal berikut agar bercermin kita benar-benar sesuai dengan fungsi bercermin, merefleksi diri.
1. Harus jujur pada diri sendiri. Apa yang dipantulkan oleh cermin, begitulah adanya diri kita. Terimalah itu dengan lapang dada karena lari dari kenyataan adalah sifat para pecundang dan manusia seperti ini akan selalu dihantui ketakutan akan kekurangannya sendiri.
2. Menghitung kekurangan kita. Kita terlalu sering menghitung kelebihan kita dan menyandingkannya dengan daftar kekurangan orang lain. Setiap kelebihan tak perlu diingat karena ia kan membuahkan kebaikan pula, tapi setiap kekurangan harus selalu dihafal karena itu harus segera diperbaiki agar menjadi lebih baik dan sempurna. Setiap kekurangan tak perlu ditutupi, toh untuk kita baca sendiri. Menyadari kekurangan sendiri kadang perlu keberanian apalagi mengakui dan menerima kekurangan dihadapan orang lain tentu perlu nyali ekstra. Hapus satu persatu kekurangan tersebut dari daftar jika telah kita perbaiki.
3. Memperbaiki diri setiap saat. Salah satu cara agar tidak diejek oleh orang lain atas kekurangan kita adalah mengurangi, menambal, memperbaiki dan melepaskan diri dari belenggu dosa, kekurangan dan kegagalan yang selama ini menjadi bahan bully orang lain terhadap kita. Jangan tunggu nanti, semakin lama menyimpannya maka semakin membebani diri.
4. Menghitung semua potensi dan titik kelebihan. Kita harus menyadari bahwa yang kita gunakan selama ini belum semua potensi yang tersimpan didalam diri. Temukan dan optimalkan potensi yang belum termanfaatkan tersebut. Pompa terus hingga titik maksimal jika potensi tersebut telah kita tumbuhkan. Buat catatan daftar potensi hidup dan segala resolusi hidup, raih satu persatu dengan potensi tersebut.
Lalu apa yang harus kita lakukan setelah bercermin dan membuat daftar resolusi hidup sehingga tahun-tahun kedepan dapat lebih baik lagi
1. Bersyukur dalam setiap waktu. Segala potensi yang ada dalam diri merupakan anugerah tak ternilai. Ia melekat bersama lahirnya setiap manusia dimuka bumi. Allah SWT menciptakan ini agar dapat dioptimalkan dengan saluran-saluran yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan oleh manusia itu sendiri.
2. Jangan Lupa Bahagia. Takaran bahagia dalam kacamata setiap orang selalu berbeda. Ukuran bahagia menurut kita belum tentu orang lain. Bahagia lebih pada bagaimana kelapangan jiwa seseorang. Kekuatan jiwa semacam ini harus dimiliki oleh kita dalam keadaan apapun. Hanya mereka yang melalui hari dan kehidupan dengan bahagia yang dapat melakukan apapun dengan suka cita. Dengan kondisi bahagia manusia akan mengeluarkan potensi terbaiknya dengan keikhlasan tanpa beban dan paksaan.
3. Mengikat dan Menebar Cinta. Betapa betebarannya cinta dimuka bumi ini. Baik antara orang tua dan anak, begitu pula sebaliknya. Baik antara lelaki dan perempuan, antara yang memberi dan yang menerima dan sebagainya. Serpihan cinta ini harus diikat, di serap hingga menjadi energi cinta yang lebih besar dalam diri manusia untuk ditebar lagi pada manusia dan semesta disekitanya agar dapat merasakan kekuatan cinta tersebut. Cinta ini menjadi modal utama dalam membangun hubungan sosial yang akan menopang potensi personal seseorang.
4. Jejakkan karya sekecil apapun itu. Hidup adalah perjalanan dan ia akumulasi jejak dan langkah manusia. Penanda jejak tersebut berupa karya yang dapat dilihat oleh orang lain. Tak semua karya dapat dilihat oleh mata, tapi keberadaannya dirasakan. Potensi diri yang beragam dan disatukan dengan kekuatan jiwa yang melahirkan kebahagiaan kemudian bersenyawa dengan cinta personal dan akumulasi cinta sosial, tentu mustahil tak melahirkan karya.
Waktu selalu berjalan tanpa menengok kebelakang apalagi mengambil ruang jeda untuk rehat. Namun, setiap manusia memiliki kesempatan dan seharusnya demikian mengambil waktu rehat untuk jeda sejenak mengukur dan menghitung waktu yang telah lewat dan menyiapkan diri untuk waktu yang akan datang.
Kita terlalu sering disibukkan dan terlena dengan refleksi yang bersifat kolektif dan sangat larut dengan hiruk-pikuknya. Kita lupa bahkan jarang yang menyesali diri saat tersadar melewati segala waktu tanpa bercermin diri. Memilah potensi dan mengais segala kekurangan agar menjadi bahan kontempelasi. Hingga resolusi dan harapan yang akan diraih dimasa mendatang benar-benar terukur dan rasional, bukan sekedar ikut-ikutan mengekor, gaya-gayaan agar tak ketinggalan, atau sekedar saja supaya lepas dari bahan olokan orang lain.

[ITU-ITU DAN DISITU-SITU SAJA]



Pernahkah anda merasa bosan melakukan hal yang itu-itu aja?. Liburan juga ke tempat yang itu-itu aja di tambah bentuk kegiatannya itu-itu aja. Sebenarnya semua tergantung diri kita sendiri. Perlu ada variasi tempat agar ada pengalaman dan wawasan kita tentang yang ada diatas muka bumi ini. Jika tak ada waktu yang lebih luang atau finansial yang lebih, maka yang harus diubah adalah cara dan bentuk mengisi liburan tersebut, walau cuma disitu-situ aja tempatnya.

Apa yang menyebabkan kita hanya melakukan itu-itu aja dan disitu-situ aja ?
1. Kita tipe orang yang pasrah dan tidak mau menambahkan pengalaman baru dalam hidup. Intinya g mau keluar dari zona nyaman.
2. Kita bagian dari kelompok orang yang kurang kreatif dan variatif. Jarang berpikir diluar kebiasaan yang pernah dilakukan. Kreatif dan variatif tidak harus dengan menambah finansial, tapi bahkan malah bisa menghemat finansial. Contoh dari pada nonton di bioskop mendingan nonton bareng teman-teman dihalaman rumah.
3. Kita kurang gaul dan berteman. Di era media sosial sekarang tentu sungguh terlalu jika kita tidak punya teman dan sempit pergaulan. Dari penjelajah di medsos kita akan tau dimana tempat-tempat kece buat liburan yang murah dan bisa jadi dekat dengan tempat tinggal kita.

So...semua tempat bisa menjadi tempat liburan. Tiap pandangan mata bisa menjadi ide untuk memperkaya imajinasi dan hati. Tiap teman menjadi alternatif kunjungan silaturahim.

31122019
#IWANwahyudi
#MariBerbagiMakna
#InspirasiWajahNegeri #reHATIwan
@iwanwahyudi1

[MENOLAK KALAH]



"Tingkat cobaan iman tak ubahnya anak tangga yang bertingkat-tingkat. Tiap satu anak tangga dinaiki, datang dari bawah pukulan
hebat
mengenai tubuh orang yang mendaki. Kalau tangannya kuat menggantung, kalau kakinya kuat berpijak, dan kalau akal pikirannya tetap waspada, pukulan itu malah akan mendorong menaikkannya ke anak tangga yang lebih tinggi. Tapi kalau tangan lemah, kaki tidak kuat, akalnya hilang, pikirannya kusut, maka pukulan itu akan dapat menjatuhkan dan merobohkannya. Yang paling disayangkan, kalau robohnya tidak hanya satu dua anak tangga kebawah, tapi jatuh ke anak demi anak tangga di bawahnya sangat banyak. Bahkan karena lemahnya, seseorang bisa sulit bangkit." (Buya Hamka)
Tak ada satu manusiapun yang luput dari cobaan dan ujian, bahkan kalangan nabi dan rasul sekalipun, apalagi kita manusia biasa. Namun, mereka menolak takluk jiwanya oleh kegetiran hidup, menolak kalah tujuannya oleh pahitnya ujian. Karena sejatinya dunia ladang ujian yang harus dilawan layaknya peperangan. Dan mereka tak membiarkan dirinya menjadi orang-orang kalah.
Kita harus dapat memaknai gempuran, hantaman, kejutan dan tekanan adalah keniscayaan sehingga tidak masuk dalam golongan orang-orang kalah. Bahkan gempuran inilah mengantarkan pada kematangan. Kematangan menyikapi ujian dari Allah. Ujian untuk mencari calon
terbaik
.
Semoga Allah SWT menguatkan pundak memikul, kaki berpijak, punggung menopang diri dari semua ujia-Nya.

[PINTU SURGA YANG TERLUPA]

 


Betapa banyak orang untuk memperoleh kebahagiaan harus berkeliling kemana-mana, namun ia tak menyadari bahwa salah satu sumber kebahagiaan tersebut berada didekatnya, didalam rumahnya sendiri. Merekalah kedua orang tua kita.

Keagungan kedua orang tua tersebut dengan jelas Rasulullah gambarkan dalam sebuah haditsnya dengan begitu Indah . “Orang tua itu adalah sebaik-baik pintu surga, seandainya kamu mau, jagalah pintu itu dan jangan kau sia-siakan”.  (HR. Turmudzi)

Apasih sebenarnya yang dicari oleh manusia selain surga? Baik surga yang didunia terlebih surga yang abadi di akhirat kelak. Surga merupakan gambaran puncak segala nikmat. Baik itu berupa rasa maupun tempat. Surga di akhirat ialah tempat kompensasi dan balasan atas amal kebaikan yang dilakukan oleh manusia selama perjalanan hidupnya dimuka bumi. Tentu tak mudah mendapatkannya. Semua orang berlomba memperolehnya dengan berbagai macam cara. Namun, kadang kita lupa akan hal-hal sederhana dan dekat dengan keseharian yang menjadi jalan padanya.

Cerita bagaimana seorang anak memuliakan ibunya benar-benar saya saksikan sendiri. Disebuah warung makan kecil yang dibuat bersebelahan dengan bangunan utama tempat tinggal disebuah perumahan. Tempat ini menjadi langganan saya untuk membeli ikan dan lauk kala siang, sore maupun malam hari. Sang ibu yang sudah berstatus janda ini biasanya memasak dan menjadi pelayan warung tersebut dari pagi hingga malam, ia memiliki seorang anak perempuan yang bekerja dari pagi hingga menjelang maghrib dan pulang istirahat pada siang hari. Setiap anak perempuan ini berangkat maupun pulang kerja termasuk saat istirahat siang, saya selalu melihatnya mencium tangan dan pipi sang ibu, bahkan jika pada saat ia datang atau pergi sang ibu sedang berada didapur maupun melayani pembeli. Suatu ketika yang berada disana hanya saya, si ibu dan anak perempuan yang akan berangkat kerja. Setelah prosesi salaman dan cipika cipiki dan buah hatinya hilang dari pandangan,  sang ibu berkata pada saya “ Saya bahagia sekali dengan anak perempuan saya wan. Tiap berangkat dan pulang dari manapun ia selalu cium tangan dan pipi saya. Sepertinya itu yang bikin dia selalu berhasil dibanding kakak-kakaknya “.

Sederhana, mudah, praktis dan semua orang berkesempatan melakukan hal diatas. Penyesalan akan datang terlambat saat kesadaran itu tiba bila pintu surga itu diambil oleh Allah SWT dan selama ini kita sia-siakan. 

“ Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka “. (QS. Maryam: 32)

Bersyukur, berbahagia dan manfaatkan kesempatan memperoleh pintu surga didepan mata. Berburulah surga dari yang terdekat.

24122019
#IWANwahyudi
#MariBerbagiMakna
#InspirasiWajahNegeri #reHATIwan
#InspirationsWednesday
@iwanwahyudi1

[APA KABAR PAGI KITA?]

 


Jika orang super kaya, penguasa paling hebat, dan pesohor paling populer sejagad raya ini di tanya "Apa capaian hidup yang belum ada raih?" atau "Masih adakah keinginan hidup yang anda impikan?", pasti mereka akan menjawab dan menyebutkan capaian hidup dan impian yang masih menjadi daftar dalam kepala dan jiwanya.

Artinya mereka masih belum menemukan tanda titik dalam capaian hidup, baru koma. Lalu bagaimana dengan kita yang secara ekonomi terjun bebas dibanding mereka, rakyat golongan lemah tanpa memiliki kekuatan apalagi kekuasaan bahkan pada diri sendiri kadang-kadang, tak ada orang yang mengenal kita dan ngefans mati dan militan membela kita? Pasti daftar impian dan capaian hidup yang ingin menjadi kenyataan begitu panjang dan tak bernomor lagi.

Jika mereka diatas kita lebih awal mengijak rem mengejar impiannya dengan segala fasilitas yang tersedia, apakah kita lebih belakang start mengejar impian-impian sederhana dibanding mereka? Tentu jika hasrat dan obsesi impian itu tinggi kita akan jauh lebih awal memulai dan banyak melakukan percepatan untuk menyamai bahkan melebihi mereka. Tentu dalam hal bahagia menggapai impian tersebut, bukan menumpuk semuanya kesuksesan namun tidak menikmati bahkan makin merasa hambar di jiwa.

Cara sederhana jika ingin meraih keberhasilan dan merasakan nikmatnya dalam keberkahan-Nya di setiap gapaian impian salah satunya telah Rasulullah Muhammad SAW sampaikan 1500 tahun yang lalu, "Bangun pagi dan berpagi hari memulai aktifitas".

Lalu bagaimana kabar pagi kita hari?

Rumah Merpati 22
18122021
#MariBerbagiMakna