Pena Iwan

PERISTIWA BERSEJARAH KESULTANAN BIMA DI BULAN RAMADHAN

14.26.00 Iwan Wahyudi 3 Comments





Ramadhan adalah bulan suci yang penuh dengan kemuliaan bagi ummat Islam diseluruh Dunia. Pada bulan penuh keberkahan ini banyak peristiwa-peristiwa bersejarah yang terjadi dalam perjalanan Islam dan Ummat Islam, tentunya juga Kesultanan Bima. Kesultanan Bima merupakan salah satu poros penting penyebaran Islam dan perlawanan terhadap penjajah di Indonesia Timur bersama dengan Kesultanan lainnya : Kesultanan Makassar, Gowa, Ternate dan Tidore.


Sejarah mencatat beberapa peristiwa penting dalam perjalanan kesultanan Bima yang bediri sejak tanggal 15 Rabi’ul Awal 1050 H atau 5 Juli 1640 M (beratus ratus tahun sebelumnya berbentuk Kerajaan Bima) di Ujung Timur Pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat ini terjadi di Bulan Ramadhan yang kemudian mempengaruhi warna dan dinamika kesultanan ini.

Beberapa peristiwa penting dan bersejarah Kesultanan Bima yang terjadi pada Bulan Ramadhan yang berhasil kami catat antara lain :

Pada tanggal 8 Ramadhan 1050 H (± 1640 M) Wafatnya Sultan Abdul Kahir (1601-1640), Sultan Pertama Kesultanan Bima yang turut berperan besar menjadikan Islam sebagai landasan Kesultanan Bima. Putra dari Raja Mantau Asi Sawo ( Raja terakhir Kerajaan Bima) ini diberi gelar Ruma Ta Ma Bata Wadu. Dimakamkan di Pemakaman Bukit Dana Taraha.

Sultan  ke II Kesultanan Bima Sultan Abil Khair Sirajuddin (Ruma Ta Mantau Uma Jati) dilahirkan pada bulan Ramadhan 1038 H (± April 1627 M). Beliau menikah dengan saudari Sultan Hasanuddin Kesultanan Makassar yang bernama Karaeng Bonto Je’ne . Sultan Abil Khair Sirajuddin banyak melahirkan terobosan-terobosan dan ide-ide baru dalam memajukan agama, politik, ekonomi dan social budaya di Kesultanan Bima. Salah satunya untuk meningkatkan pemerintahan beliau mengadakan penyempurnaan struktur “ Lembaga Sara Dana Mbojo” menjadi “ Majelis Lengkap” dengan mendirikan Lembaga Sara Hukum. Sejak saat itu struktur pemerintahan Kesultanan Bima terdiri dari “ Sara-Sara” yang di Pimpin Ruma Bicara (perdana menteri), “Sara Tua” yang dipimpin oleh Sultan dan “ Sara Hukum” yang dipimpin oleh Qadi. Beliau di Makamkan dipemakaman Tolobali.
 
Sultan ke III Kesultanan Bima Sultan Nuruddin Abubakar Ali Syah yang bergelar Ruma Ma Wa’a Paju (Beliau yang pertama-tama mempopulerkan payung jabatan yang berwarna kuning terkenal dengan Paju Monca) wafat pada tanggal 15 Ramadhan 1099 H (± 22 Juli 1687 M)di makamkan di Komplek pemakaman Tolobali berdampingan dengan makam ayahnya Sultan Abil Khair Sirajuddin

Pada tanggal 3 Ramadhan  (± 13 September 1714 M) Sultan ke V Kesultanan Bima Sultan Hasanuddin Muhammad Syah ( Ma Wa’a Bou ) menikah dengan Karaeng Bisampole. Di beri gelar Ma Wa’a Bou karena beliau mencetus ide-ide baru  terutama dalam politik pemerintahan dan metode dakwah. Beliau wafat  pada tanggal 14 Rajab 1145 H (± 23 Januari 1931 M) dan dimakamkan di Halaman Masjid Kesultanan Bima (Pemakaman Kampo Sigi).
 
 Pada tanggal 1 Ramadhan 1234 H (± Juni 1819 M) wafat Sultan Abdul Hamid putera Sultan Abdul Kadim. Sultan ke VIII Kesultanan Bima ini bergelar Mantau Asi Saninu karena beliau bermukim di istana yang di hiasi dengan cermin. Dimakamkan di Halaman Masjid Kesultanan Bima (Pemakaman Kampo Sigi). Pada 11 April 1815 terjadi letusan Gunung Tambora yang sangat dahsyat melenyapkan Kerajaan Pekat dan Tambora yang berada disekitarnya, dan juga memiliki efek global dengan musim dingin berkepanjangan di Eropa.


Setiap peristiwa bukan sekedar kejadian yang berlangsung begitu saja, namun memiliki banyak pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik bagi mereka yang berpikir sebagai bekal bertindak hari ini dan esok.

9 Ramadhan 1438 H / 4 Juni 2017 M
IWAN Wahyudi

Sumber Pustaka/Referensi :
Iwan Wahyudi, 2010. Sejarah Masuknya Islam di Pulau Sumbawa. Makalah.
M. Fachrir Rahman, 2012. Islam di Nusa Tenggara Barat Proses Masuk dan Penyebarannya.  Alam Tara Institute, Mataram.
M. Hilir Ismail, 2004. Peran Kesultanan Bima dalam Perjalanan Sejarah Nusantara. Penerbit Lengge, Mataram.
M. Hilir Ismail, 2006. Kebangkitan Islam di Dana Mbojo ( Bima) (1540-1950). Penerbit CV. Binasti, Bogor.

You Might Also Like

3 komentar:

  1. Klarifikasi sebagaimana diberitakan dan dimuat di Youtube itu bukan pada substansi yang sebenarnya, apalagi sudah ada framing “para Tuan Guru NU yang mendatangi”.

    Merasa para kiai NU di NTB dimanfaatkan oleh media yang baru diregistrasikan di Jogjacamp pada 3 Mei 2017 itu, aktivis muda NU menyebutframing pemberitaan situs abal-abal sebagai suul adab.

    “Astaghfirullah. Dalam keterangan gambar TGH Turmudzi sowan ke pendopo Gubernur. Siapa yang sangat suul adab menyetting ini. Presiden Jokowi saja sowan ke al-Mukarrom TGH Turmudzi,” ujar Ustadz T.R dalam sebuah diskusi terbatas, Ahad (08/04/2018).

    “Masa kiai/ulama sepuh diberitakan seperti itu?” Ujar AM, yang menangapi respon T.R, tidak terima framing media belum genap berusia satu tahun itu.

    Selengkapnya: TGB Zainul Majdi yang "Habisi" Orang-Orang NU, Bukan Cerita Baru di NTB

    BalasHapus

  2. pengen nyoba maen kesana Wisata,,seru banget kelihatannya
    kalau ke jogja jangan lupa kunjungi kami Rental Mobil Jogja

    BalasHapus
  3. wah cantiknya pemandangannya,,pengen keliling semua Lauwba

    BalasHapus