Andai SBY Seperti Erdogan
Lama dinanti publik, akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan mengumumkan susunan “pembantu” barunya. Sebagaimana penjelasan Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik Daniel Sparingga, diperkirakan wajah baru akan menghiasi kabinet hasil reshuffle ini.
Setidaknya dua alasan menjelaskan hal ini. Pertama, alasan praktis. Sejak pertama kali kabinet berjalan, secara keseluruhan kinerja pemerintah belum menunjukkan pencapaian-pencapaian yang berarti di segala sektor.
Malah sebaliknya, borok kabinet menganga di sana-sini. Makin hari makin banyak menteri yang tersangkut “aib”. Dugaan keterlibatan Menteri Olahraga Andi Alfian Mallarangeng di kasus Wisma Atlet yang menyeret-nyeret sejumlah orang penting Partai Demokrat (PD) dan dugaan tersangkutnya Menteri Tenaga Kerja Muhaimin Iskandar dalam kasus pungli TKI, contoh nyata yang menunjukkan pemerintah tong kosong nyaring bunyinya.
Kedua, alasan managerial. Secara managerial pemerintahan, presiden adalah kepala pemerintahan yang berhak mengangkat dan memberhentikan para menteri. Sepakat jika presiden mencopot menteri yang dinilai tidak kapabel agar roda pemerintah berjalan efektif dan efisien.
Namun, untuk kasus Indonesia cukup spesifik. Kekisruhan kabinet disinyalir tidak seratus persen berasal dari para pembantu presiden tersebut. Justru pusaran kritikan banyak dialamatkan kepada “bos” kabinetnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Padahal, awalnya masyarakat, khususnya umat Islam menaruh harapan besar kepada Presiden SBY. Tak sekadar mampu memanage isu-isu dalam negeri, sebagai presiden negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, SBY diharapkan berperan aktif dalam percaturan politik Islam dunia.
Ibarat kata pepatah, jauh panggang dari api. Kenyataannya harapan besar itu, tidak pernah terbukti. Jangankan memainkan peran lebih di politik internasional, Presiden SBY malah kedodoran dalam urusan dalam negerinya sendiri. Ironis, memang.
Kalaulah Presiden SBY “agresif” seperti halnya Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan, mungkin tidak ada negeri yang seberuntung Indonesia. Popularitas Erdogan kian bersinar di mata rakyat dan dunia karena kinerjanya yang cemerlang.
Sejak terpilih menjadi orang nomor satu di pemerintahan Turki, Erdogan langsung tancap gas. Ia membuat program yang langsung menyentuh hajat hidup masyarakat. Ia tidak pernah memikirkan pencitraan diri, padahal dengan kekuasaan di tangan, mudah saja bagi Erdogan mewujudkan harapan tersebut.
Tak perlu menunggu lama, kerja cerdas Erdogan dirasakan perekonomian Turki. Saat ini Turki mengalami pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia. Perekonomiannya tumbuh 10,2 persen pada semester pertama 2011. Bahkan, pertumbuhan Cina masih di bawah Turki yang cuma 9,6 persen dalam enam bulan pertama tahun ini.
Karena itu, tak mengherankan jika Turki menjadi negara dengan tingkat perekonomian terbesar ke-17 di dunia dan keenam terbesar di kawasan Eropa. Keberhasilan indikator ekonomi ini perlahan namun pasti meningkatkan kesejahteraan masyarakat Turki.
Tak hanya sukses mengatur politik dalam negerinya, bintang Erdogan juga bersinar di mata dunia internasional, khususnya pada perpolitikan Timur Tengah. Saat bangsa Arab kehilangan izzah melawan kekejian Israel, Erdoganlah sosok yang paling lantang menolak penjajahan Israel atas bangsa Palestina.
Sikap tegasnya terhadap Israel tak sekadar basa-basi politik belaka. Raungan Erdogan terhadap negara Yahudi tersebut, ia tunjukkan pada Sidang Majelis Umum PBB, New York, 22 September lalu. Di hadapan masyarakat dunia, tanpa rasa takut sedikit pun, Erdogan menuding Tel Aviv sebagai biang keladi kebuntuan pembicaraan damai Timur Tengah.
Tak sedikit pun rasa gentar, Ia juga berani membekukan hubungan diplomatik saat negeri Zionis itu menolak meminta maaf atas serangan tentara mereka ke kapal Mavi Marmara pada 2010 yang membawa bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.
Karena itu, tidaklah mengherankan jika kini Erdogan menjadi sosok penting, baik bagi rakyatnya dan dunia Islam pada umumnya. Kembali lagi, semua yang diraih Erdogan saat ini, bukan tanpa sebab. Kerja keras dan cerdas, keberanian dan keteguhannya memegang nilai-nilai Islam, menjadi faktor utama keberhasilan Perdana Menteri Turki ini. Andai, Presiden SBY seperti Perdana Menteri Turki Erdogan. (Rivai Hutapea)
Sumber : http://www.sabili.co.id/tajuk-sabili/andai-sby-seperti-erdogan






0 komentar: